HOME  ⁄  Ekonomi

Indonesia Dorong Perjanjian Dagang ASEAN-Kanada Buka Peluang Ekspor bagi UMKM, Nilai Perdagangan Capai Rp663 Triliun

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Indonesia Dorong Perjanjian Dagang ASEAN-Kanada Buka Peluang Ekspor bagi UMKM, Nilai Perdagangan Capai Rp663 Triliun
Foto: (Sumber :Duta Besar Indonesia untuk Kanada Muhsin Syihab (tengah) berfoto bersama pada ASEAN Economic Symposium 2026 yang digelar di Ottawa, Kanada, Selasa (13/10/2026). ANTARA FOTO/HO-KBRI Ottawa..)

Pantau - Pemerintah Indonesia mendorong Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-Kanada atau ASEAN-Canada Free Trade Agreement (ACAFTA) memberikan manfaat ekonomi nyata bagi pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), melalui perluasan akses pasar dan peningkatan kerja sama perdagangan.

Duta Besar Indonesia untuk Kanada Muhsin Syihab menegaskan bahwa keberhasilan perjanjian perdagangan tidak hanya ditentukan oleh proses penandatanganan, tetapi juga oleh pelaksanaan dan manfaat yang diterima dunia usaha serta masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Muhsin dalam ASEAN Economic Symposium 2026 yang berlangsung di Ottawa, Kanada, Selasa (13/10/2026).

"Penandatanganan perjanjian hanyalah langkah awal. Nilai sebuah perjanjian ditentukan oleh implementasi dan manfaat nyata yang dirasakan pelaku usaha dan masyarakat kita. Mari kita pastikan Kemitraan Strategis ini menghadirkan peluang ekonomi yang nyata bagi dunia usaha dan masyarakat kita," kata Muhsin.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui siaran pers Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ottawa yang diterima di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Perdagangan ASEAN-Kanada Capai Rp663 Triliun pada 2025

Muhsin mengungkapkan bahwa nilai perdagangan barang dua arah antara ASEAN dan Kanada mencapai 52,4 miliar dolar Kanada atau sekitar Rp663 triliun sepanjang 2025.

Angka tersebut meningkat hampir 24 persen dibandingkan nilai perdagangan pada 2024.

Meski mengalami pertumbuhan, perdagangan Kanada dengan ASEAN baru menyumbang sekitar tiga persen dari keseluruhan perdagangan Kanada dengan dunia.

Menurut Muhsin, kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya peluang peningkatan hubungan perdagangan dan investasi antara kedua pihak.

ACAFTA dinilai dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk membuka akses pasar dan memperkuat hubungan ekonomi ASEAN dengan Kanada.

"Untuk itu, ASEAN-Canada Free Trade Agreement (ACAFTA), yang akan menjadi perjanjian dagang pertama ASEAN dengan mitra di Amerika Utara, dinilai menjadi instrumen kunci," katanya.

Perundingan ACAFTA Ditargetkan Capai Kesepakatan Substansial pada November 2026

Perundingan ACAFTA saat ini memasuki tahap penentuan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-49 yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026.

Para pihak mengupayakan tercapainya kesepakatan substansial atau substantial conclusion dalam perundingan tersebut.

Bagi Indonesia, ACAFTA diharapkan dapat melengkapi Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) dalam memperkuat kerja sama ekonomi bilateral.

Kedua perjanjian tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan hubungan perdagangan Indonesia dan Kanada sekaligus membuka peluang lebih luas bagi pelaku usaha.

Muhsin menilai kerja sama perdagangan yang terbuka dan memiliki kepastian menjadi semakin penting di tengah tekanan terhadap sistem perdagangan global.

"Sistem perdagangan global dan rantai pasok tengah berada di bawah tekanan. Dalam situasi seperti ini, mitra yang meyakini perdagangan terbuka dan predictable akan semakin saling membutuhkan, dan ASEAN serta Kanada adalah mitra tersebut," katanya.

Indonesia Dorong UMKM Manfaatkan Peluang Pasar Kanada

Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya implementasi ACAFTA agar manfaat perjanjian dapat menjangkau pelaku usaha dari berbagai skala, termasuk UMKM.

Perluasan akses pasar menjadi salah satu isu yang dibahas dalam simposium ekonomi ASEAN-Kanada di Ottawa.

Forum tersebut juga membahas penyelesaian sejumlah persoalan dalam perundingan ACAFTA, termasuk ketentuan asal barang dan pengurangan hambatan perdagangan nontarif.

Pembahasan mengenai standar produk turut menjadi perhatian karena berkaitan dengan kemampuan pelaku usaha memenuhi persyaratan perdagangan internasional.

Selain itu, peserta mendiskusikan diversifikasi mitra dagang Kanada serta potensi ASEAN sebagai pasar dan sumber alternatif investasi.

KBRI Ottawa Libatkan Sekitar 100 Peserta dalam Simposium Ekonomi

KBRI Ottawa menjadi mitra penyelenggara ASEAN Economic Symposium 2026 dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komite ASEAN di Ottawa (ACO) pada semester kedua 2026.

Simposium tersebut mengangkat tema Building Canada-ASEAN Economic Resilience and Accelerating Market Penetration atau penguatan ketahanan ekonomi Kanada-ASEAN dan percepatan penetrasi pasar.

Kegiatan itu dihadiri sekitar 100 peserta dari unsur pemerintah, parlemen, korps diplomatik, akademisi, pelaku usaha, dan mahasiswa.

Melalui forum tersebut, para peserta membahas langkah-langkah untuk memperkuat hubungan ekonomi serta meningkatkan peluang perdagangan dan investasi antara ASEAN dan Kanada.

Diskusi juga menyoroti pentingnya hubungan antarmasyarakat dalam mendukung kemitraan ekonomi kedua pihak.

Indonesia Promosikan Kuliner Nusantara di Kanada

Selain menjadi forum pembahasan kerja sama perdagangan, simposium tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan kuliner khas negara-negara anggota ASEAN.

Indonesia turut berpartisipasi dengan menyajikan sejumlah makanan khas Nusantara kepada peserta kegiatan.

Hidangan yang diperkenalkan meliputi mi goreng Jawa, pastel ayam, dan talam ubi ungu.

Promosi kuliner tersebut menjadi bagian dari kegiatan pengenalan budaya negara-negara ASEAN kepada peserta simposium di Kanada.

Pemerintah Indonesia berharap penguatan kemitraan ekonomi ASEAN-Kanada melalui ACAFTA dapat menghasilkan peluang perdagangan yang lebih luas dan manfaat nyata bagi dunia usaha serta masyarakat.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026