HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Anjlok 1,33 Persen ke 5.863,78, Inflasi AS dan Kekhawatiran Kelangkaan BBM Tekan Pasar Saham

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

IHSG Anjlok 1,33 Persen ke 5.863,78, Inflasi AS dan Kekhawatiran Kelangkaan BBM Tekan Pasar Saham
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 79,24 poin atau 1,33 persen ke level 5.863,78 pada perdagangan Kamis (15/10/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan gangguan distribusi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Pelemahan IHSG terjadi bersamaan dengan penurunan sejumlah bursa saham utama Asia setelah data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan di BEI juga mengalami penurunan sebesar 4,50 poin atau 0,76 persen ke posisi 590,09.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan tekanan terhadap pasar saham Indonesia dan Asia dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor mengenai arah kebijakan moneter AS.

"IHSG dan bursa regional Asia bergerak melemah, pasar terbebani ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang lebih agresif setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Inflasi Amerika Serikat Naik, Investor Khawatir The Fed Pertahankan Suku Bunga Tinggi

Nico menjelaskan bahwa data Consumer Price Index (CPI) atau Indeks Harga Konsumen Amerika Serikat menunjukkan peningkatan inflasi secara bulanan maupun tahunan.

Inflasi bulanan AS tercatat meningkat dari sebelumnya 0,4 persen menjadi 0,6 persen.

Sementara itu, inflasi tahunan AS naik dari 3,4 persen menjadi 3,7 persen.

Kenaikan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa tekanan harga di Amerika Serikat masih cukup tinggi sehingga dapat memengaruhi keputusan The Fed dalam menetapkan suku bunga acuan.

Menurut Nico, perkembangan inflasi tersebut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kebijakan kenaikan suku bunga yang lebih agresif.

Investor juga mengkhawatirkan bahwa suku bunga tinggi akan dipertahankan dalam jangka waktu lebih panjang.

"Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan tingkat suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama," ujar Nico.

Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati pidato sejumlah pejabat tinggi The Fed yang dijadwalkan berlangsung di Bangkok, Thailand.

Salah satu pernyataan yang menjadi perhatian investor adalah pidato Ketua The Fed Kevin Warsh, sebagaimana disebutkan dalam kajian Nico.

Selain pidato pejabat bank sentral AS, investor juga menantikan publikasi data Producer Price Index (PPI) atau Indeks Harga Produsen serta penjualan ritel Amerika Serikat.

Kedua indikator ekonomi tersebut dijadwalkan dirilis pada Kamis waktu setempat dan berpotensi memengaruhi perkiraan pasar terhadap arah inflasi serta kebijakan suku bunga AS.

Krisis Pasokan BBM di Sejumlah Daerah Ikut Tekan Sentimen IHSG

Selain perkembangan ekonomi global, pelaku pasar turut mencermati persoalan gangguan pasokan dan distribusi BBM yang terjadi di sejumlah daerah Indonesia.

Nico menilai hambatan distribusi BBM berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan energi.

Menurutnya, gangguan tersebut dapat meningkatkan biaya logistik dalam jangka pendek bagi kegiatan usaha yang bergantung pada transportasi dan distribusi barang.

Peningkatan biaya logistik juga berisiko memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah yang terdampak.

"Kondisi ini tentunya berdampak akan produktivitas masyarakat dan stabilitas sosial ekonomi di sejumlah daerah tersebut sehingga secara jangka pendek ini akan berdampak pertumbuhan perekonomian nasional dan risiko inflasi," ujar Nico.

Ia memperingatkan bahwa gangguan pasokan BBM yang tidak segera tertangani berpotensi menimbulkan dampak lebih luas terhadap perekonomian nasional.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa stok BBM secara nasional masih berada dalam kondisi aman untuk 18 hari ke depan.

Meski demikian, gangguan distribusi di sejumlah daerah tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap ketersediaan bahan bakar.

Nico menilai kekhawatiran masyarakat mengenai pasokan energi berpotensi memicu pembelian secara berlebihan akibat kepanikan atau panic buying.

"Secara psikologis, akan memicu kepanikan ekstrem di masyarakat (panic buying). Selanjutnya, kondisi ini berpotensi memicu inflasi atau lonjakan harga berbagai komoditas di pasar lokal," ujar Nico.

Menurutnya, kepanikan pembelian BBM dan gangguan distribusi energi dapat meningkatkan risiko kenaikan harga berbagai komoditas di pasar lokal.

Seluruh 11 Sektor Saham BEI Melemah, Energi Turun Paling Dalam

Dari sisi perdagangan, IHSG telah bergerak di zona negatif sejak pembukaan sesi pertama pada Kamis.

Tekanan jual terus berlangsung sepanjang sesi pertama sehingga indeks belum mampu keluar dari wilayah pelemahan.

Memasuki sesi kedua, IHSG tetap berada di zona merah hingga akhirnya ditutup turun 1,33 persen ke level 5.863,78.

Berdasarkan klasifikasi Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor saham di Bursa Efek Indonesia mengalami pelemahan.

Sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 5,88 persen.

Pelemahan berikutnya terjadi pada sektor industri yang turun 5,20 persen.

Sementara itu, sektor infrastruktur mengalami penurunan sebesar 4,72 persen.

Penurunan seluruh sektor menunjukkan tekanan jual berlangsung secara luas dan tidak hanya terjadi pada kelompok saham tertentu.

Di tengah pelemahan tersebut, sejumlah saham masih berhasil mencatatkan penguatan harga.

Lima saham dengan kenaikan terbesar adalah AKKU, BSWD, ALDO, PTSP, dan TFCO.

Sebaliknya, lima saham yang mengalami penurunan terdalam adalah COIN, ARTA, TRON, BBSS, dan SOSS.

Transaksi Saham Capai Rp13,50 Triliun, Sebanyak 592 Saham Turun

Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada Kamis tercatat mencapai 1,67 juta kali transaksi.

Total volume perdagangan mencapai 31,87 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp13,50 triliun.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 119 saham mengalami kenaikan harga.

Sementara itu, sebanyak 592 saham tercatat melemah dan 252 saham tidak mengalami perubahan harga.

Jumlah saham yang mengalami penurunan jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat, sejalan dengan pelemahan seluruh sektor di BEI.

Kondisi tersebut menunjukkan dominasi tekanan jual sepanjang perdagangan Kamis.

Bursa Asia Kompak Melemah, Kospi Korea Selatan Anjlok 7,57 Persen

Pelemahan IHSG juga sejalan dengan pergerakan negatif sejumlah indeks saham utama di kawasan Asia.

Indeks Nikkei Jepang tercatat turun 4,77 persen ke posisi 64.510,00.

Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,06 persen ke level 24.056.

Sementara itu, indeks Shanghai China turun 1,59 persen ke posisi 3.707,48.

Indeks Kospi Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam di antara indeks regional yang disebutkan dalam laporan, yakni anjlok 7,57 persen ke level 5.554,22.

Adapun Indeks Straits Times Singapura mengalami penurunan sebesar 0,47 persen ke posisi 5.396,21.

Pelemahan serentak sejumlah bursa Asia terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi Amerika Serikat dan prospek kebijakan suku bunga The Fed.

Dari dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi kekhawatiran mengenai distribusi BBM, potensi kenaikan biaya logistik, dan risiko inflasi.

Pelaku pasar selanjutnya akan memperhatikan pernyataan pejabat The Fed, publikasi data PPI dan penjualan ritel AS, serta perkembangan pasokan dan distribusi BBM di Indonesia.

IHSG akhirnya menutup perdagangan Kamis dengan penurunan 1,33 persen ke level 5.863,78 di tengah tekanan pasar global, pelemahan seluruh sektor saham BEI, dan kekhawatiran terhadap kondisi pasokan energi domestik.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026