HOME  ⁄  Ekonomi

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Ekspor Indonesia Tumbuh dan UMKM Didorong Tembus Pasar Global

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Ekspor Indonesia Tumbuh dan UMKM Didorong Tembus Pasar Global
Foto: (Sumber :Produk kerajinan lidi nipah yang dipamerkan di Bazar UMKM go Ekspor yang digelar Karantina Babel di Pelabuhan Pangkalbalam, Jumat (2/10/2026). ANTARA/Aprionis..)

Pantau - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat kinerja perdagangan Indonesia tetap tumbuh positif selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, ditandai dengan peningkatan ekspor nasional, upaya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, serta perluasan akses pasar internasional bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan sektor perdagangan nasional masih menunjukkan perkembangan positif meskipun menghadapi ketidakpastian ekonomi dan dinamika geopolitik global.

"Dari sektor perdagangan, meskipun tantangan global cukup besar, kinerjanya terus tumbuh positif," ujar Budi kepada wartawan  dikutip di Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Menurut Budi, kebijakan perdagangan pemerintah tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan ekspor, tetapi juga memastikan masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

Pemerintah turut mendorong pelaku UMKM agar tidak hanya bergantung pada pasar domestik, melainkan mampu memperluas pemasaran produk hingga ke berbagai negara.

Ekspor Indonesia Tembus 282,91 Miliar Dolar AS pada 2025

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia sepanjang 2025 mencapai 282,91 miliar dolar AS.

Angka tersebut meningkat 6,15 persen dibandingkan nilai ekspor pada 2024 yang tercatat sebesar 266,51 miliar dolar AS.

Pertumbuhan ekspor berlanjut pada periode Januari hingga Agustus 2026 dengan nilai mencapai 193,64 miliar dolar AS.

Capaian tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada Januari hingga Agustus 2026, neraca perdagangan Indonesia juga mencatatkan surplus sebesar 7,25 miliar dolar AS.

Budi menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan nasional masih mampu bertahan di tengah tekanan dan ketidakpastian ekonomi global.

Meski demikian, pemerintah menghadapi tantangan untuk mempertahankan pertumbuhan ekspor secara berkelanjutan.

Salah satu langkah yang menjadi perhatian adalah mengurangi ketergantungan ekspor terhadap komoditas dan pasar tujuan tertentu.

Pemerintah juga berupaya meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri agar memiliki daya saing lebih kuat di pasar internasional.

Kemendag Dorong UMKM Masuk Pasar Ekspor

Perluasan akses pasar bagi UMKM menjadi salah satu bagian dari arah kebijakan perdagangan pemerintah.

Produk yang dihasilkan pelaku usaha di daerah didorong untuk menjangkau konsumen internasional melalui berbagai program fasilitasi ekspor.

Langkah tersebut bertujuan membuka peluang bagi usaha berskala kecil dan menengah untuk memperluas pasar di luar Indonesia.

Produk kerajinan lokal menjadi salah satu sektor yang memiliki peluang untuk dipasarkan ke luar negeri.

Salah satu contohnya adalah kerajinan lidi nipah yang dipamerkan dalam Bazar UMKM Go Ekspor di Pelabuhan Pangkalbalam, Kepulauan Bangka Belitung, pada Jumat (2/10/2026).

Melalui perluasan akses pasar, pemerintah berupaya memberikan kesempatan lebih besar kepada pelaku UMKM untuk bersaing dengan produk dari negara lain.

Namun, peningkatan daya saing produk dalam negeri tetap menjadi pekerjaan penting agar peluang ekspor dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Indonesia Miliki 25 Perjanjian Dagang, 13 Lainnya Masih Dinegosiasikan

Selain mendorong pelaku UMKM, pemerintah memperluas akses pasar ekspor melalui perjanjian perdagangan dengan berbagai negara mitra.

Hingga Oktober 2026, Indonesia telah mengimplementasikan sebanyak 25 perjanjian perdagangan internasional.

Sementara itu, sebanyak 13 perjanjian lainnya masih berada dalam tahap perundingan.

Perjanjian perdagangan menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi hambatan tarif dan memberikan akses yang lebih luas bagi produk Indonesia.

Kemendag juga berupaya mempercepat penyelesaian perundingan perdagangan dengan Dewan Kerja Sama Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC) di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah turut menjajaki kerja sama dengan Mercosur, blok perdagangan regional di Amerika Selatan.

Budi mengatakan perluasan akses pasar tidak harus selalu menunggu penyelesaian perjanjian perdagangan regional yang membutuhkan waktu panjang.

Menurutnya, kerja sama bilateral dapat menjadi langkah awal untuk membangun hubungan perdagangan yang lebih luas dengan negara mitra.

Ia mencontohkan kerja sama perdagangan Indonesia dengan Uni Emirat Arab sebagai salah satu upaya memperluas akses produk nasional di kawasan Timur Tengah.

"PR ke depan sebenarnya adalah bagaimana kita memperbanyak perjanjian dagang dan membuka akses pasar, sekaligus meningkatkan daya saing produk dalam negeri," tegasnya.

Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok Tetap Menjadi Prioritas

Di tengah upaya memperluas pasar ekspor, Kemendag tetap menempatkan stabilitas harga kebutuhan pokok sebagai salah satu prioritas kebijakan perdagangan nasional.

Budi menegaskan bahwa keberhasilan sektor perdagangan tidak hanya diukur dari peningkatan nilai ekspor.

Ketersediaan barang kebutuhan masyarakat dengan harga yang terjangkau juga menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi perdagangan domestik.

Pemerintah berupaya menyeimbangkan kepentingan konsumen dalam negeri dengan kebutuhan pelaku usaha untuk memperluas pasar.

Memasuki tahun ketiga pemerintahan Prabowo-Gibran, Kemendag menghadapi tantangan untuk mempertahankan pertumbuhan ekspor, memperluas jaringan perdagangan internasional, dan meningkatkan daya saing produk lokal.

Keberlanjutan kebijakan tersebut menjadi perhatian pemerintah agar pertumbuhan sektor perdagangan dapat terus berjalan di tengah perubahan kondisi ekonomi global.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026