HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Tembus Rp18.021 per Dolar AS, Rencana MSCI Turunkan Status Pasar Saham Indonesia Tekan Nilai Tukar

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rupiah Tembus Rp18.021 per Dolar AS, Rencana MSCI Turunkan Status Pasar Saham Indonesia Tekan Nilai Tukar
Foto: (Sumber :Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (27/7/2026). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz/pri..)

Pantau - Nilai tukar rupiah melemah 83 poin atau 0,46 persen menjadi Rp18.021 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10/2026), menyusul munculnya sentimen negatif dari rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia serta meningkatnya tekanan inflasi di AS.

Rupiah sebelumnya ditutup pada level Rp17.938 per dolar AS sebelum kembali mengalami tekanan pada perdagangan pagi.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pelemahan mata uang domestik dipengaruhi laporan konsultasi MSCI mengenai kemungkinan perubahan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

“MSCI mengusulkan perubahan status Indonesia dari Emerging Market (EM) menjadi Standalone Market. Masukan dari pelaku pasar akan diterima hingga 30 April 2027, dengan keputusan final diharapkan sebelum 30 Juni 2027,” ungkap Josua kepada wartawan di Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Selain sentimen MSCI, data inflasi konsumen dan produsen AS yang meningkat turut memberikan tekanan terhadap pergerakan rupiah.

MSCI Pertimbangkan Penurunan Status Pasar Saham Indonesia

MSCI meluncurkan konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia setelah menilai perkembangan reformasi pasar belum menunjukkan kemajuan yang memadai.

Sebelumnya, pada Juni 2026, MSCI telah menyampaikan kemungkinan pelaksanaan konsultasi reklasifikasi apabila tidak terlihat perbaikan yang cukup menjelang peninjauan indeks pada November 2026.

Berdasarkan laporan yang diterima MSCI dari pelaku pasar, sejumlah persoalan dinilai masih terjadi secara konsisten di pasar ekuitas Indonesia.

Persoalan tersebut mencakup dugaan praktik perdagangan terkoordinasi serta kurangnya bukti penegakan aturan yang dinilai memadai.

Meskipun berbagai reformasi telah diumumkan, MSCI masih melihat adanya kekhawatiran mengenai fungsi dan integritas pasar saham Indonesia.

Kondisi tersebut menjadi dasar MSCI untuk mempertimbangkan apakah Indonesia masih layak mempertahankan status sebagai pasar berkembang.

Dalam usulan yang sedang dikonsultasikan, Indonesia berpotensi dipindahkan ke kategori pasar tersendiri atau Standalone Market.

Namun, perubahan klasifikasi tersebut belum menjadi keputusan final karena MSCI masih membuka kesempatan bagi pelaku pasar untuk menyampaikan masukan hingga 30 April 2027.

Keputusan akhir mengenai status pasar saham Indonesia dijadwalkan diumumkan sebelum 30 Juni 2027.

Inflasi Amerika Serikat Naik dan Tambah Tekanan terhadap Rupiah

Selain perkembangan MSCI, pergerakan rupiah dipengaruhi kenaikan inflasi AS yang melampaui perkiraan pasar secara tahunan.

Data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS menunjukkan inflasi September 2026 meningkat 0,6 persen secara bulanan.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi Agustus 2026 yang sebesar 0,4 persen, tetapi masih sesuai dengan ekspektasi pasar.

Secara tahunan, inflasi AS naik menjadi 3,7 persen dari sebelumnya 3,4 persen.

Capaian tersebut melampaui konsensus pasar yang memperkirakan inflasi sebesar 3,6 persen dan menjadi tingkat tertinggi sejak Mei 2026.

Josua menjelaskan peningkatan inflasi umum terutama dipicu oleh kenaikan biaya energi.

Sementara itu, inflasi inti AS meningkat menjadi 2,6 persen secara tahunan dari sebelumnya 2,4 persen.

Angka inflasi inti tersebut juga lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar sebesar 2,5 persen.

Kenaikan biaya tempat tinggal dan kendaraan menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan inflasi inti.

Harga Produsen AS Melonjak, Investor Cermati Kebijakan The Fed

Tekanan inflasi AS juga tercermin dalam kenaikan Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) pada September 2026.

Secara bulanan, PPI AS melonjak 1,3 persen dari kenaikan 0,5 persen pada bulan sebelumnya.

Angka tersebut jauh melampaui perkiraan pasar yang hanya sebesar 0,6 persen.

Secara tahunan, inflasi produsen meningkat menjadi 6,3 persen dari sebelumnya 5,6 persen.

Kenaikan tersebut menunjukkan tekanan harga di tingkat produsen masih tinggi dan berpotensi memengaruhi perkembangan inflasi konsumen.

“Perkembangan tersebut menegaskan masih kuatnya tekanan inflasi baik di sisi produsen maupun konsumen di AS,” ujar Josua.

Meski demikian, sejumlah pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve memberikan sinyal bahwa penentuan kebijakan suku bunga masih memerlukan tambahan data ekonomi.

Wakil Ketua The Fed Bidang Pengawasan Michelle Bowman dan Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco Mary Daly mengindikasikan pembuat kebijakan dapat menunggu perkembangan data sebelum mengambil keputusan pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC Oktober 2026.

Pernyataan tersebut turut memengaruhi ekspektasi investor terhadap kemungkinan perubahan suku bunga AS dalam waktu dekat.

Rupiah Diprediksi Bergerak di Kisaran Rp17.925 hingga Rp18.050

Josua memperkirakan rupiah masih menghadapi tekanan dalam perdagangan Jumat (16/10/2026), terutama akibat meningkatnya sikap penghindaran risiko investor setelah pengumuman MSCI.

Pelaku pasar juga menantikan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh untuk memperoleh gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter AS.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian menjelang dimulainya periode pembatasan komunikasi pejabat The Fed pada Sabtu (17/10/2026).

“Hari ini, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.925–Rp18.050 per dolar, di tengah sentimen risk-off setelah pengumuman MSCI,” ucap Josua.

Dengan demikian, perkembangan konsultasi MSCI, data inflasi AS, dan arah kebijakan suku bunga The Fed menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam mencermati pergerakan rupiah.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026