
Pantau - Badan Pengusahaan (BP) Batam mewajibkan pengembang pusat data atau data center membangun dan mengoperasikan instalasi pengolahan air mandiri menggunakan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) guna memenuhi kebutuhan operasional industri tanpa mengganggu pasokan air bersih bagi masyarakat.
Anggota sekaligus Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam Ariastuty Sirait mengatakan kebijakan tersebut diterapkan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan investasi digital dan keberlanjutan sumber daya air di Batam, Kepulauan Riau.
“Secara teknis, pengembangan ekosistem data center di KEK Nongsa Digital Park (NDP) maupun kawasan industri Kabil telah didorong menggunakan model pengelolaan air mandiri berbasis teknologi SWRO,” kata Ariastuty dalam keterangan resmi di Batam, Jumat (16/10/2026).
Teknologi SWRO digunakan untuk mengolah air laut menjadi air yang dapat dimanfaatkan melalui proses penyaringan membran.
Dengan sistem tersebut, pengembang pusat data diarahkan agar tidak bergantung pada sumber air baku yang juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Enam Pengembang Pusat Data Terdata di Batam
Berdasarkan data BP Batam, terdapat enam pelaku usaha pusat data yang tercatat mengembangkan kegiatan usahanya di wilayah tersebut.
Dari jumlah itu, satu fasilitas telah beroperasi, satu masih dalam tahap konstruksi, dan empat lainnya berada pada tahap perencanaan pembangunan.
Ariastuty menjelaskan bahwa pengembangan pusat data berlangsung di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park dan kawasan industri Kabil.
Di Nongsa Digital Park, pengelola kawasan telah memiliki embung internal yang digunakan untuk kebutuhan pemeliharaan kawasan.
Sementara itu, dukungan pasokan air dari Waduk Duriangkang bagi fasilitas pusat data hanya diberikan secara sementara dan sangat terbatas selama tahap konstruksi serta persiapan operasional.
“Dua pelaku usaha pusat data lainnya di kawasan Nongsa masih dalam tahap rencana pengembangan. Adapun dua pelaku usaha di kawasan Kabil juga belum beroperasi dan masih berada dalam tahap perencanaan konstruksi,” katanya.
Ariastuty menekankan bahwa kebutuhan air dari pusat data yang sudah beroperasi harus dibedakan dengan proyeksi kebutuhan fasilitas yang masih direncanakan.
Pembedaan tersebut diperlukan agar perhitungan kebutuhan air industri tidak mencampurkan konsumsi aktual dengan perkiraan kebutuhan proyek pada masa mendatang.
Pengembang Diminta Gunakan Teknologi Pengolahan Air Laut
BP Batam mendorong penerapan teknologi SWRO sebagai solusi penyediaan air secara mandiri bagi kawasan industri pusat data.
Sistem tersebut memanfaatkan air laut sebagai sumber bahan baku yang kemudian diolah melalui teknologi osmosis balik.
Kebijakan ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan fasilitas pusat data terhadap pasokan air dari waduk yang melayani kebutuhan masyarakat.
Ariastuty menyampaikan bahwa pengembangan investasi digital harus tetap memperhatikan daya dukung sumber daya air.
Karena itu, pengelolaan air mandiri menjadi bagian dari pendekatan yang diterapkan dalam pengembangan pusat data di Nongsa dan Kabil.
BP Batam juga terus menyiapkan berbagai langkah untuk memperkuat ketahanan air seiring meningkatnya kebutuhan rumah tangga dan kegiatan ekonomi.
BP Batam Siapkan Perbaikan Jaringan dan Pemantauan Kebocoran
Selain mengatur kebutuhan air industri, BP Batam berupaya meningkatkan keandalan pasokan air bersih bagi masyarakat.
Langkah yang disiapkan meliputi optimalisasi sumber air baku, perbaikan jaringan distribusi, dan percepatan pembangunan infrastruktur air.
BP Batam turut memprioritaskan pemasangan sistem pemantauan pada Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) menggunakan teknologi Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA).
Teknologi tersebut digunakan untuk memantau kondisi operasional jaringan distribusi air secara berkelanjutan.
Melalui sistem pemantauan tersebut, BP Batam berupaya meningkatkan kemampuan mendeteksi kebocoran dan gangguan jaringan.
Penguatan pengawasan distribusi menjadi salah satu upaya untuk menjaga efektivitas penyaluran air kepada pelanggan.
Operasi Modifikasi Cuaca Kembali Dibahas Bersama BNPB dan BMKG
BP Batam juga tengah membahas kemungkinan pelaksanaan kembali Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai bagian dari upaya memperkuat ketersediaan air baku.
Pembahasan tersebut dilakukan dengan melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
”Saat ini kami juga sedang dalam diskusi bersama agar dapat kembali dilaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan berkoordinasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG),” katanya.
Selain itu, BP Batam menjajaki kerja sama dengan sektor swasta dan sejumlah instansi pemerintah untuk memperluas alternatif sumber pasokan air.
Kerja sama tersebut mencakup Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Wilayah Sungai (BWS).
Salah satu opsi yang dibahas adalah pengembangan teknologi SWRO untuk mendukung diversifikasi sumber air.
BP Batam juga menindaklanjuti potensi pasokan air dari Kabupaten Lingga dan Bintan.
Pembangunan Waduk Baru Diperkirakan Butuh Lima hingga Tujuh Tahun
Untuk memenuhi kebutuhan air dalam jangka panjang, BP Batam mempertimbangkan pembangunan waduk baru.
Namun, pembangunan infrastruktur tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh tahun hingga dapat dimanfaatkan.
Karena itu, BP Batam menilai penguatan ketahanan air tidak dapat hanya bergantung pada pembangunan waduk baru.
Optimalisasi sumber yang tersedia, pengembangan teknologi pengolahan air, perbaikan distribusi, dan kerja sama antardaerah perlu dilakukan secara bersamaan.
“Seluruh opsi perlu dijalankan secara terpadu agar Batam tidak hanya mengatasi kebutuhan air saat ini, tetapi juga membangun ketahanan pasokan air yang berkelanjutan,” kata Ariastuty.
BP Batam menegaskan pengembangan pusat data dan investasi industri harus berjalan seiring dengan upaya menjaga ketersediaan air bagi masyarakat dalam jangka panjang.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




