
Pantau - Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung menekankan pentingnya pembangunan ekosistem hilirisasi komoditas yang terintegrasi untuk memperkuat daya saing investasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menyampaikan hal tersebut di Bandarlampung, Sabtu (17/10/2026), dengan menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi membutuhkan keterpaduan berbagai sektor pendukung.
"Hilirisasi tidak hanya berkaitan dengan pengembangan industri, melainkan pembangunan ekosistem yang terintegrasi mulai dari aspek produksi, regulasi, infrastruktur, pembiayaan, hingga penguatan sumber daya manusia guna menciptakan iklim investasi yang kondusif," ujar Bimo.
Menurutnya, pembangunan ekosistem tersebut menjadi langkah penting untuk memastikan pengolahan komoditas unggulan Lampung mampu memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus menarik investasi baru ke daerah.
BI Lampung Tekankan Regulasi Investasi dan Infrastruktur Hilirisasi
Bimo menjelaskan bahwa penguatan hilirisasi komoditas membutuhkan dukungan regulasi yang memberikan kemudahan dan kepastian bagi investor dalam menanamkan modal serta mengembangkan kegiatan usaha di Lampung.
Salah satu langkah yang diperlukan adalah penyelarasan investasi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) agar proyek hilirisasi berjalan sesuai peruntukan kawasan dan arah pembangunan daerah.
Selain itu, pengembangan proyek hilirisasi perlu mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk memastikan kesinambungan kebijakan pemerintah pusat dan daerah.
Dari sisi tata kelola, BI Lampung juga menyoroti pentingnya pemerintahan yang bersih dari praktik pungutan liar guna menciptakan kepastian hukum dan kenyamanan bagi pelaku usaha.
Optimalisasi sistem Online Single Submission (OSS) menjadi langkah lain yang diperlukan untuk mempercepat proses perizinan usaha dan meningkatkan daya tarik investasi di Lampung.
Di samping regulasi, ketersediaan infrastruktur dasar dan fasilitas logistik dinilai menjadi faktor penting dalam menunjang kegiatan produksi, pengolahan, hingga distribusi hasil industri hilir.
"Selain itu percepatan pertumbuhan ekonomi penguatan hilirisasi melalui pembentukan ekosistem terintegrasi itu juga memerlukan dukungan infrastruktur yang memadai, termasuk ketersediaan air bersih, pasokan listrik yang andal, dan sarana prasarana logistik serta bongkar muat yang efisien," katanya.
Ketersediaan air bersih diperlukan untuk mendukung operasional industri pengolahan komoditas, sedangkan pasokan listrik yang andal menjadi kebutuhan utama dalam menjaga kesinambungan kegiatan produksi.
Sementara itu, penguatan fasilitas logistik dan sarana bongkar muat diharapkan dapat memperlancar distribusi hasil produksi sekaligus meningkatkan efisiensi biaya dan daya saing komoditas Lampung.
Sinergi Fiskal dan Moneter Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Lampung
Bimo menegaskan bahwa pembangunan ekosistem hilirisasi tidak dapat dilakukan secara terpisah, melainkan membutuhkan sinergi dan konsistensi kebijakan dari berbagai pemangku kepentingan.
Menurutnya, dukungan sektor fiskal, moneter, keuangan, dan pemerintah daerah harus berjalan selaras untuk menciptakan iklim investasi yang kompetitif serta mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Bank Indonesia Lampung juga mendorong penguatan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi daerah dengan berpedoman pada tiga cita utama, yakni pertumbuhan yang inklusif, mandiri, dan inovatif.
"Ke depan penguatan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi Lampung perlu difokuskan pada tiga cita utama, yaitu mewujudkan pertumbuhan yang inklusif, mandiri, dan inovatif," ucap Bimo.
Pertumbuhan inklusif diarahkan agar manfaat pembangunan ekonomi dan pengembangan industri hilir dapat dirasakan masyarakat secara luas melalui peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan.
Sementara itu, penguatan kemandirian ekonomi dan inovasi diperlukan untuk membangun sumber pertumbuhan baru yang lebih produktif, kompetitif, dan berkelanjutan.
Selain investasi dan pengembangan industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian dalam mendukung keberhasilan hilirisasi komoditas di Lampung.
Tenaga kerja yang unggul dan produktif dinilai diperlukan agar pengembangan industri pengolahan dapat berjalan optimal serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
BI Lampung Dorong Tata Kelola Bersih dan Pembangunan Berkelanjutan
Bimo turut menekankan pentingnya tata kelola pemerintahan yang efektif dan berintegritas sebagai fondasi dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang sehat.
Penguatan tata kelola tersebut perlu diiringi koordinasi antara pemerintah daerah, otoritas moneter, sektor fiskal, dan lembaga keuangan agar kebijakan hilirisasi dapat diterapkan secara terpadu.
"Oleh karena itu dengan ekosistem yang terbentuk ini menjadikan hilirisasi yang ditopang oleh sinergi fiskal, moneter, sektor keuangan dan pemerintah daerah akan menjadi fondasi penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Lampung yang inklusif serta berkelanjutan," tambahnya.
Melalui pembangunan ekosistem yang terintegrasi, hilirisasi komoditas diharapkan mampu memperkuat struktur perekonomian Lampung sekaligus meningkatkan daya saing daerah dalam menarik investasi.
Penguatan tersebut juga diharapkan dapat menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih mandiri, mendorong inovasi, dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Dengan dukungan regulasi, infrastruktur, pembiayaan, sumber daya manusia, dan sinergi kebijakan, hilirisasi komoditas di Lampung diharapkan menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi daerah dalam jangka panjang.
- Penulis :
- Shila Glorya




