
Pantau - Analis ekonomi dari NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji, memperingatkan meningkatnya risiko gagal bayar pinjaman daring (pinjol) di tengah melemahnya daya beli masyarakat setelah rasio kredit macet pinjol mencapai 4,73 persen pada Agustus 2026, mendekati ambang batas 5 persen.
Sandy menilai peningkatan pinjaman daring yang disertai kenaikan gagal bayar menunjukkan adanya tekanan terhadap kondisi keuangan rumah tangga, terutama masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah.
"Sebab, penyaluran pinjol yang terus melonjak pesat, diiringi peningkatan signifikan pada angka gagal bayar atau rasio tunggakan di atas 90 hari (TWP90)," kata Sandy di Jakarta, Minggu (18/10/2026).
Ia mendorong peningkatan literasi keuangan masyarakat agar penggunaan pinjaman daring tidak memperburuk kondisi ekonomi keluarga.
Gagal Bayar Pinjol Naik Mendekati Batas 5 Persen
Berdasarkan riset NEXT Indonesia Center bertajuk "Waspadai Sinyal Tekanan Daya Beli", rasio tingkat wanprestasi pinjaman daring di atas 90 hari atau TWP90 meningkat dari 4,32 persen pada Juli menjadi 4,73 persen pada Agustus 2026.
Angka tersebut mendekati ambang batas 5 persen yang menjadi perhatian dalam pengawasan industri pinjaman daring.
Pada periode yang sama, total pembiayaan pinjol yang masih berjalan mencapai Rp106,9 triliun atau tumbuh 22,07 persen dibandingkan Agustus 2025.
"Padahal, pada saat bersamaan, outstanding pembiayaan pinjol mencapai Rp106,9 triliun atau tumbuh 22,07 persen dibandingkan Agustus tahun sebelumnya,” ujar Sandy.
Menurut Sandy, pertumbuhan pembiayaan yang dibarengi kenaikan gagal bayar dapat mengindikasikan bahwa sebagian masyarakat menggunakan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Meningkatnya angka gagal bayar pinjol hingga mendekati batas aman 5 persen ini bukan sekadar persoalan teknis industri fintech, melainkan sinyal riil bahwa ketahanan keuangan masyarakat bawah hingga menengah sedang berada dalam tekanan luar biasa," tutur Sandy.
Tabungan Masyarakat Menyusut hingga 61,52 Persen
Selain peningkatan pinjaman daring, NEXT Indonesia Center menyoroti penurunan rata-rata saldo tabungan masyarakat selama 13 tahun terakhir.
Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), rata-rata saldo rekening dengan simpanan di bawah Rp100 juta turun dari Rp4,34 juta pada Juli 2013 menjadi Rp1,67 juta pada Juli 2026.
Penurunan tersebut mencapai 61,52 persen dan menjadi salah satu indikator yang disoroti dalam riset mengenai ketahanan keuangan masyarakat.
Sandy menilai kondisi ini menunjukkan semakin terbatasnya cadangan keuangan yang dapat digunakan rumah tangga untuk menghadapi kebutuhan mendesak.
"Ketika tabungan menyusut dan harga beras terus meningkat, pinjol menjadi jalan pintas darurat yang sayangnya justru menjerat mereka dalam siklus utang," ungkapnya.
Tekanan keuangan juga terlihat pada pertumbuhan kredit konsumsi perbankan yang melambat menjadi 5,38 persen pada Juli 2026.
Angka tersebut turun dibandingkan puncak pertumbuhan sebesar 11,02 persen pada Oktober 2024.
Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) kredit konsumsi meningkat menjadi 2,48 persen, melampaui angka 2,29 persen yang tercatat pada Juli 2020 saat pandemi COVID-19.
Harga Beras Naik, Daya Beli Masyarakat Semakin Tertekan
NEXT Indonesia Center juga menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok, terutama beras, yang dinilai turut menekan kemampuan belanja masyarakat.
Berdasarkan data yang dikutip Sandy, inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara konsisten berada di atas inflasi umum sepanjang April hingga September 2026.
"Bahkan, pada September 2026, inflasi makanan menyentuh 4,37 persen, berbanding jauh dengan inflasi umum sebesar 3,28 persen," ungkap Sandy.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia yang dirujuk dalam riset tersebut menunjukkan harga rata-rata beras Medium II dan Super II di 32 dari 33 provinsi telah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) pemerintah pada September 2026.
Di Jawa Barat dan Jawa Tengah, harga beras Medium II tercatat 11,85 persen di atas HET.
Kenaikan tertinggi dalam data tersebut terjadi di Kalimantan Selatan, dengan harga beras medium mencapai Rp22.650 per kilogram atau 61,79 persen di atas HET.
Kepercayaan Konsumen Turun Sepanjang 2026
Penurunan daya beli juga tercermin dalam Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia.
Menurut riset NEXT Indonesia Center, IKK turun dari 127,0 pada Januari 2026 menjadi 118,1 pada September 2026.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) juga mengalami penurunan dari 115,1 pada Januari menjadi 107,5 pada September 2026.
Angka IKE pada September tersebut merupakan posisi terendah sepanjang 2026 berdasarkan data yang dikutip dalam riset.
Sandy menilai penurunan kedua indeks tersebut memperlihatkan melemahnya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan kemampuan keuangan mereka.
Penerimaan PPN Naik 38,90 Persen, Analis Ingatkan Belum Tentu Daya Beli Menguat
Di tengah tekanan konsumsi rumah tangga, NEXT Indonesia Center mencatat penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) mencapai Rp591,5 triliun hingga Agustus 2026.
Nilai tersebut meningkat 38,90 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Namun, Sandy mengingatkan bahwa peningkatan penerimaan pajak tidak otomatis menunjukkan adanya perbaikan daya beli masyarakat.
"Lonjakan penerimaan PPN memang membawa angin segar karena dapat menjadi sinyal bahwa aktivitas transaksi barang dan jasa tetap berlangsung. Namun, hal itu belum tentu berarti daya beli masyarakat ikut menguat," katanya.
Ia menekankan pentingnya literasi keuangan agar masyarakat mampu memahami risiko pinjaman daring dan mengelola kewajiban pembayaran di tengah kenaikan biaya hidup.
Menurut Sandy, peningkatan gagal bayar, penyusutan tabungan, dan kenaikan harga kebutuhan pokok perlu menjadi perhatian dalam menjaga ketahanan ekonomi rumah tangga.
- Penulis :
- Gerry Eka




