HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat 0,95 Persen ke 5.439,26, Reformasi BEI soal Saham HSC Dorong Sentimen Positif Investor

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

IHSG Menguat 0,95 Persen ke 5.439,26, Reformasi BEI soal Saham HSC Dorong Sentimen Positif Investor
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 51,36 poin atau 0,95 persen ke level 5.439,26 pada perdagangan Jumat (23/10), didukung respons positif pelaku pasar terhadap kebijakan reformasi bursa terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.

Penguatan juga terjadi pada indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan dengan kenaikan sebesar 2,48 poin atau 0,46 persen ke posisi 547,05.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai kenaikan IHSG berkaitan dengan langkah BEI yang akan mengecualikan saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan indeks komposit.

Kebijakan pengecualian saham HSC tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada 2 November 2026 sebagai bagian dari upaya pembenahan pasar modal Indonesia.

“IHSG menguat tampaknya didukung dari reformasi Bursa yang akan mengecualikan saham yang diklasifikasikan memiliki High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan indeks komposit mulai 2 November tahun ini,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Menurut Nico, langkah reformasi tersebut menjadi salah satu respons terhadap perkembangan pasar modal Indonesia setelah munculnya peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

BEI Akan Keluarkan 80 Saham HSC dari Perhitungan IHSG

MSCI sebelumnya memperingatkan bahwa pasar saham Indonesia berisiko mengalami penurunan klasifikasi dari Emerging Market atau pasar berkembang menjadi Standalone Market.

Peringatan tersebut mendorong perhatian terhadap tata kelola, struktur kepemilikan, dan kualitas pasar saham domestik.

BEI mencatat sebanyak 80 saham saat ini termasuk dalam kategori High Shareholding Concentration atau HSC.

Kategori tersebut merujuk pada kondisi ketika kepemilikan saham suatu perusahaan terkonsentrasi pada sejumlah pemegang saham tertentu.

Sebagai bagian dari reformasi, BEI berencana mengecualikan saham-saham berkategori HSC dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.

Selain kebijakan tersebut, BEI juga mengumumkan inisiatif untuk menambahkan keterangan mengenai afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan sebesar 1 persen.

Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat keterbukaan informasi mengenai struktur kepemilikan saham perusahaan tercatat.

Dalam perkembangan pengawasan pasar modal, sejumlah kasus yang berkaitan dengan emiten juga telah dikenai sanksi denda oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Nilai keseluruhan denda utama dalam tiga kasus yang disebutkan mencapai Rp2,1 triliun.

Dari jumlah tersebut, kasus yang berkaitan dengan DSSA dikenai denda sebesar Rp1,5 triliun.

Sementara itu, denda dalam kasus BREN mencapai Rp500 miliar, sedangkan kasus CUAN dikenai denda sebesar Rp100 miliar.

BEI Terapkan Batas ARB 7 Persen hingga Akhir 2026

Selain memperbaiki ketentuan terkait saham HSC, BEI telah melakukan penyesuaian terhadap batas Auto Rejection Bawah (ARB) dalam perdagangan saham.

ARB merupakan batas maksimum penurunan harga saham yang diperbolehkan dalam satu hari perdagangan.

Batas ARB yang sebelumnya ditetapkan sebesar 15 persen diubah menjadi 7 persen dengan mekanisme asimetris.

Ketentuan tersebut mulai diberlakukan pada 19 Oktober dan dijadwalkan berlangsung hingga 31 Desember 2026.

Penyesuaian mekanisme perdagangan itu menjadi bagian dari langkah regulator dalam merespons perkembangan pasar saham domestik.

Nico menilai berbagai kebijakan reformasi bursa turut memengaruhi persepsi investor terhadap upaya pembenahan pasar modal Indonesia.

Investasi Danantara Berpotensi Dorong Saham BUMN

Selain kebijakan BEI, Nico menyoroti potensi pengaruh investasi Danantara Indonesia terhadap pergerakan saham perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Menurutnya, investasi Danantara ke pasar saham berpotensi menjadi salah satu pendorong penguatan emiten BUMN.

Dampak investasi tersebut dinilai dapat semakin besar apabila pembelian saham dilakukan secara konsisten dan didukung peningkatan kinerja perusahaan yang menjadi tujuan investasi.

Nico menyebut dukungan investasi terhadap emiten BUMN dapat memperkuat keyakinan investor, terutama pada perusahaan dengan valuasi relatif murah dan prospek bisnis jangka panjang.

“Intervensi Danantara ini dipandang positif oleh investor karena menjadi bukti nyata adanya dukungan terhadap emiten pelat merah yang saat ini memiliki valuasi murah serta prospek bisnis jangka panjang yang menjanjikan,” ujar Nico.

Meski demikian, potensi penguatan saham BUMN tetap bergantung pada realisasi investasi serta perkembangan kinerja masing-masing perusahaan.

Sepuluh Sektor Saham Menguat, Konsumen Primer Pimpin Kenaikan

Dari sisi perdagangan, IHSG mengawali sesi Jumat dengan bergerak di zona positif.

Sepanjang sesi pertama, indeks mampu mempertahankan penguatan hingga penutupan sesi tersebut.

Memasuki sesi kedua, IHSG tetap bergerak di zona hijau dan berhasil mempertahankan kenaikan hingga akhir perdagangan.

Berdasarkan klasifikasi indeks sektoral IDX-IC, sebanyak 10 sektor saham mencatatkan penguatan pada perdagangan Jumat.

Sektor barang konsumen primer menjadi sektor dengan kenaikan terbesar, yakni sebesar 3,24 persen.

Posisi berikutnya ditempati sektor industri yang menguat 2,95 persen.

Sektor energi juga mencatatkan kenaikan sebesar 2,74 persen.

Dari seluruh sektor yang tercatat dalam IDX-IC, hanya sektor kesehatan yang mengalami pelemahan dengan penurunan sebesar 0,15 persen.

Saham-saham yang mencatatkan penguatan harga terbesar adalah WMUU, FAST, PTSP, TOBA, dan KONI.

Sementara itu, saham yang mengalami pelemahan harga terbesar meliputi BTEK, BUKK, LINK, HATM, dan SMLE.

Transaksi Saham Capai Rp16,16 Triliun

Aktivitas perdagangan saham di BEI sepanjang Jumat tercatat mencapai 1,80 juta kali transaksi.

Total volume perdagangan mencapai 43,14 miliar lembar saham dengan nilai transaksi keseluruhan sebesar Rp16,16 triliun.

Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 506 saham mengalami kenaikan harga.

Sementara itu, sebanyak 192 saham mencatatkan penurunan harga dan 265 saham lainnya tidak mengalami perubahan.

Jumlah saham yang menguat lebih banyak dibandingkan saham yang melemah, sejalan dengan kenaikan IHSG pada penutupan perdagangan.

Pasar Global Dibayangi Tekanan Saham Teknologi dan Konflik Timur Tengah

Di tengah penguatan pasar domestik, Nico mengingatkan adanya sejumlah risiko eksternal yang masih menjadi perhatian investor.

Salah satunya adalah tekanan terhadap saham-saham teknologi global akibat kekhawatiran mengenai keberlanjutan investasi di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kekhawatiran tersebut memicu aksi jual terhadap sejumlah perusahaan teknologi, terutama yang berkaitan dengan pengembangan AI dan industri semikonduktor.

Produsen semikonduktor, perusahaan pembuat cip memori, serta sejumlah perusahaan dalam ekosistem AI mengalami tekanan harga saham.

Selain perkembangan sektor teknologi, pasar global juga menghadapi ketidakpastian akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Nico menyoroti laporan mengenai kemungkinan rencana serangan baru Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada bulan berikutnya.

Laporan tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi peningkatan konflik di kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Pelabuhan Yanbu di kawasan Laut Merah, Arab Saudi.

Kelompok tersebut juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang menargetkan ladang minyak dan bandara di Arab Saudi.

Perkembangan keamanan di Arab Saudi menjadi perhatian pasar energi internasional karena negara tersebut merupakan salah satu pengekspor minyak mentah terbesar di dunia.

Menurut Nico, peningkatan ketegangan di Timur Tengah dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi dari kawasan tersebut.

“Sehingga ini meningkatkan kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah, meningkatkan risiko inflasi,” ujar Nico.

Bursa Asia Bergerak Bervariasi

Sementara itu, pergerakan bursa saham regional Asia menunjukkan hasil yang bervariasi pada perdagangan Jumat.

Indeks Nikkei di Jepang melemah sebesar 0,25 persen dan ditutup pada level 62.752,00.

Indeks Hang Seng di Hong Kong menguat 0,69 persen ke posisi 23.093,37.

Indeks Shanghai di China naik 0,89 persen dan berakhir pada level 3.690,48.

Indeks Kospi di Korea Selatan mencatatkan kenaikan sebesar 0,30 persen ke posisi 5.550,30.

Sementara itu, indeks Straits Times di Singapura menguat tipis sebesar 0,04 persen ke level 5.417,36.

Penguatan IHSG pada perdagangan Jumat berlangsung di tengah respons positif terhadap reformasi BEI, termasuk kebijakan pengecualian saham HSC, peningkatan transparansi kepemilikan, dan penyesuaian mekanisme perdagangan.

Meski berhasil ditutup menguat, pasar saham Indonesia masih menghadapi risiko eksternal berupa tekanan saham teknologi global, ketidakpastian investasi AI, serta perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026