
Pantau - Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka mendorong pemanfaatan minyak jelantah yang dikumpulkan ibu-ibu pengelola bank sampah sebagai bahan baku industri energi nasional agar limbah rumah tangga memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Gibran saat melakukan kunjungan kerja ke PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Senin, untuk meninjau pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Melalui siaran resmi Biro Pers, Media, dan Informasi (BPMI) Sekretariat Wakil Presiden di Jakarta, Gibran menegaskan bahwa inovasi energi nasional harus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, bukan hanya memenuhi kebutuhan industri.
Menurutnya, pengembangan SAF perlu diintegrasikan dengan pemberdayaan masyarakat, khususnya kelompok ibu-ibu yang mengumpulkan dan mengelola minyak jelantah melalui bank sampah.
"Pengembangan SAF (Sustainable Aviation Fuel) harus berjalan bersama pemberdayaan masyarakat, sehingga minyak jelantah yang dikelola ibu-ibu melalui bank sampah dapat memiliki nilai ekonomi dan terhubung dengan industri nasional," ujar Wapres.
Pengembangan SAF di Kilang Cilacap saat ini didukung unit pengolahan yang telah beroperasi secara komersial dengan estimasi produksi bersih mencapai 5.075 kiloliter atau sekitar 5,075 juta liter per tahun.
Gibran Ingin Minyak Jelantah Bank Sampah Terhubung dengan Industri Nasional
Gibran menilai minyak jelantah atau minyak goreng bekas yang berasal dari kegiatan rumah tangga memiliki potensi ekonomi apabila dikumpulkan dan dikelola secara tepat.
Menurutnya, kegiatan pengelolaan minyak jelantah tidak seharusnya berhenti pada pengumpulan limbah, tetapi perlu dikembangkan agar terhubung dengan kebutuhan bahan baku industri energi nasional.
Melalui hubungan tersebut, minyak jelantah yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat dimanfaatkan kembali menjadi komoditas yang memiliki nilai tambah.
Wakil Presiden menekankan pentingnya memastikan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan pengumpulan dan pengelolaan minyak jelantah.
Kelompok ibu-ibu pengelola bank sampah menjadi salah satu pihak yang berpotensi terlibat karena kegiatan pengumpulan minyak goreng bekas dapat dimulai dari aktivitas sehari-hari di tingkat rumah tangga.
Minyak jelantah yang terkumpul melalui bank sampah dapat menjadi bagian dari rantai pasok industri energi apabila memenuhi kebutuhan dan ketentuan pengolahan bahan baku.
Keterlibatan masyarakat dalam penyediaan bahan baku tersebut diharapkan membuka peluang ekonomi baru bagi kelompok pengumpul dan pengelola minyak jelantah.
Gibran juga menilai pengembangan energi berkelanjutan perlu berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat setempat.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak hanya berperan sebagai penyedia bahan baku, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari pengembangan industri energi nasional.
Kilang Cilacap Kembangkan SAF dari Minyak Jelantah
Kilang Pertamina RU IV Cilacap menjadi salah satu fasilitas yang mengembangkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan dengan memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan baku alternatif.
SAF merupakan bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang dikembangkan sebagai alternatif bahan bakar penerbangan konvensional melalui penggunaan bahan baku dan proses produksi tertentu.
Salah satu bahan baku yang digunakan dalam pengembangan SAF di Cilacap adalah minyak jelantah atau used cooking oil (UCO).
Minyak jelantah merupakan minyak goreng bekas pakai yang dapat berasal dari kegiatan rumah tangga maupun sumber lainnya.
Melalui proses pengolahan industri, minyak jelantah dapat dimanfaatkan kembali sebagai salah satu komponen bahan baku produksi SAF.
Pemanfaatan tersebut memberikan peluang peningkatan nilai guna limbah yang sebelumnya berpotensi dibuang setelah digunakan.
Pengembangan SAF berbasis minyak jelantah juga menjadi salah satu contoh pemanfaatan sumber daya domestik untuk mendukung inovasi energi yang lebih ramah lingkungan.
Kunjungan Gibran ke Kilang Cilacap merupakan bagian dari upaya pemerintah mendorong tindak lanjut terhadap potensi daerah, termasuk pengembangan energi alternatif dan pemberdayaan masyarakat.
Kilang Pertamina Cilacap Miliki Kapasitas 348 Ribu Barel per Hari
Kilang Pertamina RU IV Cilacap memiliki kapasitas pengolahan minyak sebesar 348 ribu barel per hari.
Kapasitas tersebut setara dengan sekitar 31 persen dari total kapasitas kilang Pertamina di Indonesia, sebagaimana disebutkan dalam keterangan yang disampaikan.
Dengan kapasitas tersebut, Kilang Cilacap menjadi salah satu fasilitas pengolahan minyak yang memiliki peran penting dalam kegiatan operasional pengilangan Pertamina.
Selain menjalankan kegiatan pengolahan minyak, fasilitas tersebut juga digunakan untuk mengembangkan SAF melalui metode pengolahan bersama atau co-processing.
Metode co-processing dilakukan dengan mengolah minyak jelantah bersama kerosin dalam unit pengolahan kilang untuk menghasilkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Dalam proses tersebut, minyak jelantah digunakan sebagai bahan baku alternatif yang diproses bersama kerosin menggunakan fasilitas pengolahan yang tersedia.
Pengembangan SAF di Kilang Cilacap dilakukan melalui unit Treated Distillate Hydro Treating (TDHT).
Unit TDHT merupakan fasilitas pengolahan yang digunakan dalam proses produksi SAF melalui skema co-processing.
Pemanfaatan unit tersebut memungkinkan Pertamina mengembangkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan dengan menggunakan fasilitas pengolahan yang telah tersedia di Kilang Cilacap.
Unit TDHT Cilacap Beroperasi Komersial, Estimasi Produksi SAF 5.075 Kiloliter per Tahun
Unit TDHT di Refinery Unit IV Cilacap telah beroperasi secara komersial untuk mendukung pengembangan SAF.
Berdasarkan informasi yang disampaikan, fasilitas tersebut memiliki estimasi produksi bersih SAF sekitar 5.075 kiloliter per tahun.
Jika dikonversi ke satuan liter, angka tersebut setara dengan sekitar 5,075 juta liter SAF setiap tahun.
Jumlah tersebut merupakan estimasi produksi bersih tahunan unit TDHT, bukan angka realisasi produksi pada periode tertentu.
Pengembangan SAF melalui metode co-processing menunjukkan pemanfaatan minyak jelantah sebagai salah satu bahan baku dalam produksi energi untuk sektor penerbangan.
Ketersediaan minyak jelantah menjadi salah satu faktor yang menghubungkan kegiatan pengelolaan limbah rumah tangga dengan kebutuhan industri SAF.
Dalam konteks tersebut, kelompok bank sampah memiliki peluang untuk berkontribusi dalam penyediaan bahan baku yang dibutuhkan industri energi berkelanjutan.
Namun, keterangan yang disampaikan belum merinci jumlah minyak jelantah yang saat ini dipasok kelompok bank sampah ke Kilang Cilacap.
Informasi mengenai harga pembelian minyak jelantah dari masyarakat maupun nilai pendapatan yang diterima kelompok pengelola bank sampah juga belum dijelaskan.
Pemerintah Dorong Inovasi Energi Berikan Manfaat Ekonomi bagi Masyarakat
Wakil Presiden Gibran menekankan bahwa pengembangan SAF perlu menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat, terutama kelompok yang terlibat dalam pengumpulan bahan baku.
Pemanfaatan minyak jelantah dinilai membuka peluang untuk menghubungkan kegiatan pengelolaan limbah rumah tangga dengan aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan industri energi nasional.
Melalui kegiatan bank sampah, masyarakat dapat berpartisipasi dalam pengumpulan minyak jelantah yang berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan produksi energi berkelanjutan.
Kegiatan tersebut juga diharapkan membantu mengurangi potensi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak goreng bekas secara sembarangan.
Selain memberikan manfaat lingkungan, pengumpulan minyak jelantah berpotensi menciptakan nilai ekonomi bagi kelompok masyarakat yang menjalankannya.
Gibran menginginkan agar pengembangan teknologi energi tidak hanya berfokus pada kapasitas produksi dan kebutuhan industri, tetapi juga memperhatikan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pengembangan SAF di Kilang Cilacap yang didukung kapasitas pengolahan minyak sebesar 348 ribu barel per hari serta unit TDHT dengan estimasi produksi bersih 5.075 kiloliter per tahun menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut.
Melalui pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku SAF, pemerintah berharap inovasi energi nasional dapat berjalan beriringan dengan pengelolaan limbah rumah tangga, pemberdayaan kelompok ibu-ibu bank sampah, dan penciptaan peluang ekonomi bagi masyarakat.
- Penulis :
- Arian Mesa




