
Pantau - PT Pertamina (Persero) membahas peningkatan investasi sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) serta penguatan perdagangan minyak mentah antarnegara ASEAN untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara di tengah gejolak geopolitik global.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, mengatakan pembahasan tersebut dilakukan dalam forum 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) yang berlangsung di Sanur, Denpasar, Bali, Selasa (27/10/2026).
Menurut Oki, pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi perusahaan energi di kawasan ASEAN untuk mengidentifikasi berbagai langkah strategis dalam menjaga keamanan dan keberlanjutan pasokan minyak dan gas bumi.
Kerja sama regional dinilai semakin penting karena perkembangan geopolitik internasional telah menimbulkan tantangan terhadap kelancaran distribusi dan ketersediaan energi di sejumlah negara.
"Kami berusaha untuk mendiskusikan hal-hal yang bisa kita lakukan untuk penyelamatan Indonesia, penyelamatan ASEAN, dan seterusnya," ujar Oki.
Pertamina Dorong Kebijakan Fiskal Hulu Migas yang Lebih Menarik bagi Investor
Salah satu pembahasan utama dalam forum ASCOPE adalah peningkatan kerja sama antarnegara ASEAN untuk menarik investasi berskala besar ke sektor hulu minyak dan gas bumi.
Oki menjelaskan bahwa investasi tersebut diperlukan untuk mendukung kegiatan eksplorasi, pengembangan lapangan migas, serta peningkatan kemampuan produksi di negara-negara ASEAN yang memiliki potensi sumber daya hidrokarbon.
Selain pengembangan kegiatan hulu, investasi juga dibutuhkan untuk membangun dan memperkuat infrastruktur pendukung produksi serta distribusi energi di kawasan Asia Tenggara.
Menurutnya, negara-negara ASEAN perlu menciptakan iklim investasi yang semakin kompetitif agar mampu menarik minat perusahaan energi dan investor internasional.
Salah satu langkah yang dibahas adalah penguatan daya tarik kebijakan fiskal sektor hulu migas sehingga investasi eksplorasi dan produksi dapat berkembang lebih optimal.
"Kami mendiskusikan bagaimana agar fiskal untuk hulu semakin menarik, guna mengundang investasi dari seluruh dunia yang hadir di ASEAN ini," ujar Oki.
Kebijakan fiskal yang lebih menarik diharapkan dapat mendorong masuknya modal internasional untuk mengembangkan potensi minyak dan gas bumi yang dimiliki negara-negara anggota ASEAN.
Penguatan investasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas produksi energi regional guna mengurangi risiko gangguan pasokan akibat ketidakpastian pasar internasional.
Perdagangan Minyak Mentah Antarnegara ASEAN Jadi Perhatian
Selain membahas investasi hulu migas, Pertamina bersama peserta ASCOPE mendiskusikan upaya memperlancar perdagangan minyak mentah atau crude oil trading antarnegara di kawasan Asia Tenggara.
Pembahasan tersebut diarahkan untuk mencari langkah yang dapat memperkuat kelancaran transaksi dan distribusi minyak mentah di antara negara-negara ASEAN.
Oki menilai penguatan perdagangan minyak mentah perlu dilakukan bersamaan dengan peningkatan kemampuan produksi migas di masing-masing negara.
Menurutnya, negara-negara yang memiliki potensi sumber daya hidrokarbon, seperti Indonesia, Malaysia, dan Vietnam, dapat berperan dalam mendorong peningkatan produksi minyak dan gas bumi regional.
Potensi sumber daya tersebut perlu dioptimalkan agar dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap kebutuhan energi kawasan.
"Tentunya kami juga harus memperkuat produksi di setiap negara, baik itu Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan beberapa negara yang punya hidrokarbon agar kita bisa unlock dan kita bisa produksi lebih banyak lagi," kata Oki.
Peningkatan produksi migas di kawasan diharapkan dapat mendukung kelancaran perdagangan minyak mentah sekaligus memperkuat kemampuan negara-negara ASEAN dalam memenuhi kebutuhan energinya.
Kerja sama tersebut menjadi salah satu perhatian Pertamina karena keamanan pasokan energi tidak hanya bergantung pada kemampuan produksi nasional, tetapi juga kelancaran perdagangan dan distribusi antarnegara.
Ketegangan Timur Tengah dan Gangguan Selat Hormuz Jadi Sorotan
Oki mengungkapkan bahwa perkembangan geopolitik global menjadi salah satu faktor yang mendorong pentingnya penguatan kerja sama energi antarnegara ASEAN.
Salah satu situasi yang menjadi perhatian adalah ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada Februari 2026.
Menurut Oki, ketegangan tersebut menyebabkan penutupan Selat Hormuz dalam jangka waktu cukup panjang sehingga mengganggu pergerakan pasokan energi internasional.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting dalam perdagangan minyak dunia karena menjadi lintasan pengiriman energi dari kawasan Timur Tengah menuju berbagai negara.
Gangguan akses melalui jalur tersebut berdampak terhadap keamanan pasokan energi global, termasuk bagi Indonesia dan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya penguatan kemampuan produksi migas regional agar negara-negara ASEAN memiliki pilihan pasokan yang lebih beragam ketika terjadi gangguan distribusi internasional.
Karena itu, pembahasan peningkatan investasi hulu migas, optimalisasi produksi hidrokarbon, dan kelancaran perdagangan minyak mentah menjadi bagian dari upaya menghadapi risiko geopolitik terhadap sektor energi.
Indonesia Perlu Amankan Pasokan karena Masih Menjadi Importir Bersih Energi
Bagi Indonesia, penguatan kerja sama energi di kawasan ASEAN memiliki kepentingan strategis karena kebutuhan energi nasional masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Oki menjelaskan bahwa Indonesia masih berstatus sebagai negara pengimpor bersih atau net importer energi sehingga perlu memastikan keamanan pasokan di tengah ketidakpastian kondisi pasar internasional.
"Tentu sebagai net importir country, Indonesia berkepentingan untuk mengamankan energi," ucap Oki.
Status tersebut membuat Indonesia perlu memperhatikan berbagai risiko yang dapat memengaruhi ketersediaan energi, termasuk gangguan jalur perdagangan minyak internasional dan perubahan situasi geopolitik.
Pertamina memandang peningkatan investasi sektor hulu migas sebagai salah satu langkah untuk memperkuat kemampuan produksi energi, baik di Indonesia maupun negara-negara ASEAN lainnya.
Selain itu, penguatan perdagangan minyak mentah regional diharapkan dapat mendukung kelancaran pemenuhan kebutuhan energi ketika terjadi gangguan terhadap pasokan dari luar kawasan.
Melalui forum ASCOPE, Pertamina bersama negara-negara ASEAN membahas berbagai peluang kerja sama yang dapat mendukung peningkatan investasi, pengembangan infrastruktur, dan optimalisasi produksi migas.
Pembahasan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi Indonesia dan Asia Tenggara dalam menghadapi tantangan pasokan akibat dinamika geopolitik global.
- Penulis :
- Arian Mesa




