HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Ditutup Menguat 0,31 Persen ke 5.282,31, Didukung Reli Bursa Asia dan Optimisme Saham AI

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

IHSG Ditutup Menguat 0,31 Persen ke 5.282,31, Didukung Reli Bursa Asia dan Optimisme Saham AI
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 16,18 poin atau 0,31 persen ke level 5.282,31 pada perdagangan Rabu (28/10/2026), mengikuti pergerakan positif mayoritas bursa saham di kawasan Asia.

Sementara itu, indeks LQ45 yang terdiri atas 45 saham unggulan naik 6,45 poin atau 1,21 persen ke posisi 539,47.

Penguatan IHSG didukung sentimen positif dari pasar saham global, meningkatnya optimisme terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), serta keputusan FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang.

Meski demikian, kenaikan indeks masih terbatas akibat kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian status Indonesia dalam indeks global MSCI, tingginya harga minyak dunia, dan tekanan fiskal dalam negeri.

Bursa Asia Menguat Didukung Optimisme Teknologi AI

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau Nico, menjelaskan bahwa penguatan mayoritas bursa saham Asia mengikuti kenaikan Wall Street pada perdagangan sebelumnya.

Menurut Nico, sentimen positif tersebut muncul seiring meningkatnya optimisme investor terhadap prospek industri kecerdasan buatan, terutama setelah beredar kabar mengenai rencana penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) perusahaan pengembang Claude AI, Anthropic.

“Bursa Asia didominasi penguatan mengikuti Wall Street semalam, di tengah kembali meningkatnya optimisme terhadap kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Reli tersebut terjadi setelah Anthropic (Claude AI) akan melakukan IPO pada pertengahan November (2026),” ungkap Nico.

Selain perkembangan industri teknologi, investor global juga mencermati arah kebijakan moneter sejumlah bank sentral utama dunia.

Bank sentral yang menjadi perhatian pasar meliputi Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BOJ).

Ketiga bank sentral tersebut diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level saat ini dengan mempertimbangkan kondisi geopolitik global yang belum stabil.

Ketidakpastian kebijakan moneter tersebut turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan, termasuk pasar saham dan obligasi di negara berkembang.

Keputusan FTSE Russell dan Kepastian Pasokan BBM Dorong IHSG

Dari dalam negeri, keputusan FTSE Russell untuk mempertahankan klasifikasi Indonesia sebagai pasar berkembang atau emerging market menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan IHSG.

Keputusan tersebut memberikan sentimen positif karena Indonesia tetap berada dalam kelompok pasar berkembang dalam klasifikasi indeks global yang digunakan investor internasional.

Sentimen positif lainnya berasal dari pernyataan pemerintah yang memastikan bahwa pasokan bahan bakar minyak (BBM), baik bersubsidi maupun nonsubsidi, masih berada dalam kondisi mencukupi.

Kepastian ketersediaan BBM tersebut menjadi perhatian pasar di tengah tingginya harga minyak dunia dan meningkatnya kebutuhan energi domestik.

Namun, sejumlah sentimen positif tersebut belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran investor terhadap prospek pasar saham Indonesia.

Salah satu faktor yang masih membayangi pergerakan IHSG adalah ketidakpastian mengenai status Indonesia dalam indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Status tersebut menjadi perhatian karena indeks MSCI merupakan salah satu acuan yang digunakan investor institusi internasional dalam menentukan alokasi investasi.

Harga Minyak di Atas 100 Dolar AS Picu Kekhawatiran Fiskal

Selain persoalan MSCI, pasar saham domestik menghadapi tekanan akibat harga minyak dunia yang masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel.

Tingginya harga minyak berpotensi meningkatkan beban anggaran negara, terutama berkaitan dengan pembiayaan energi dan berbagai kewajiban pengeluaran pemerintah.

Nico juga menyoroti rencana pemerintah untuk menggratiskan pendidikan hingga tingkat universitas yang dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap keuangan negara.

Rencana tersebut menjadi perhatian di tengah kebutuhan pembiayaan berbagai program pemerintah serta meningkatnya risiko fiskal akibat perkembangan harga energi global.

Sementara itu, tekanan juga terlihat di pasar obligasi pemerintah Indonesia.

Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia dengan tenor 10 tahun meningkat menjadi 7,66 persen, yang disebut sebagai level tertinggi sejak Oktober 2022.

Kenaikan tersebut terjadi seiring masih tingginya imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury menjelang pengumuman keputusan suku bunga The Fed.

Kondisi tersebut turut menjadi pertimbangan investor dalam menentukan strategi penempatan dana pada instrumen saham maupun obligasi.

IHSG Berbalik Menguat Setelah Sempat Tertekan pada Sesi Pertama

Berdasarkan pergerakan perdagangan, IHSG mengawali sesi Rabu dengan pelemahan dan terus bergerak di zona negatif hingga penutupan sesi pertama.

Memasuki sesi kedua, indeks mulai berbalik arah menuju zona positif seiring meningkatnya aktivitas pembelian pada sejumlah saham.

IHSG kemudian berhasil mempertahankan penguatannya hingga penutupan perdagangan di level 5.282,31.

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sebanyak tiga sektor saham mencatatkan penguatan, sedangkan delapan sektor lainnya mengalami pelemahan.

Sektor kesehatan menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi sebesar 1,72 persen, disusul sektor keuangan yang menguat 0,54 persen.

Sektor transportasi dan logistik turut mencatatkan kenaikan sebesar 0,30 persen.

Sebaliknya, sektor infrastruktur mengalami pelemahan paling dalam sebesar 2,44 persen.

Sektor energi menyusul dengan penurunan sebesar 1,32 persen, sedangkan sektor industri melemah 0,81 persen.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa penguatan IHSG belum berlangsung merata di seluruh sektor saham.

Transaksi Saham Capai Rp15,87 Triliun, Sebanyak 429 Saham Melemah

Aktivitas perdagangan saham di BEI sepanjang Rabu tercatat mencapai 1,53 juta kali transaksi.

Total volume perdagangan mencapai 31,53 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp15,87 triliun.

Berdasarkan pergerakan harga, sebanyak 281 saham mengalami kenaikan, sedangkan 429 saham mencatatkan penurunan.

Sementara itu, sebanyak 253 saham tidak mengalami perubahan harga dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Meskipun IHSG berhasil ditutup menguat, jumlah saham yang mengalami penurunan masih lebih banyak dibandingkan saham yang mencatatkan kenaikan.

Sejumlah saham yang masuk dalam kelompok penguatan harga terbesar atau top gainers adalah KOPI, KOKA, PBID, MKNT, dan PTSP.

Adapun saham yang masuk dalam kelompok penurunan harga terbesar atau top losers meliputi RCCC, EURO, UDNG, HBAT, dan GRPM.

Bursa Asia Kompak Menguat, Kospi Korea Selatan Melonjak 6,63 Persen

Penguatan IHSG berlangsung sejalan dengan pergerakan positif mayoritas indeks saham utama di kawasan Asia.

Indeks Nikkei Jepang mencatatkan kenaikan sebesar 1,52 persen dan ditutup pada level 64.232,00.

Indeks Kospi Korea Selatan membukukan penguatan paling tinggi di antara indeks regional yang disebutkan, yakni melonjak 6,63 persen ke posisi 6.012,44.

Sementara itu, indeks Shanghai Composite China menguat 0,91 persen dan ditutup pada level 3.681,47.

Indeks Hang Seng Hong Kong juga bergerak positif dengan kenaikan 0,23 poin ke posisi 23.094,83.

Adapun indeks Straits Times Singapura naik tipis sebesar 0,02 persen ke level 5.397,91.

Secara keseluruhan, penguatan IHSG pada perdagangan Rabu ditopang oleh sentimen positif bursa global, optimisme terhadap perkembangan teknologi AI, keputusan FTSE Russell, serta kepastian pemerintah mengenai kecukupan pasokan BBM.

Namun, pergerakan pasar saham domestik masih menghadapi sejumlah risiko, terutama ketidakpastian status Indonesia dalam indeks MSCI, harga minyak dunia yang tinggi, tekanan fiskal, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral global.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026