
Pantau - Pemerintah memperkuat langkah mitigasi dampak fenomena El Nino terhadap produksi beras nasional dengan mengawal delapan hingga 10 provinsi sentra penghasil padi serta meningkatkan program pompanisasi dan irigasi perpipaan untuk menjaga pasokan pangan.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengatakan kondisi iklim akibat El Nino berpotensi menekan produksi beras nasional hingga ratusan ribu ton.
Meski menghadapi risiko tersebut, pemerintah optimistis kebutuhan beras masyarakat hingga akhir 2026 tetap dapat terpenuhi melalui penguatan produksi dan intervensi pasar.
Pemerintah Awasi Sentra Produksi Padi untuk Hadapi El Nino
Hanif menjelaskan pemerintah telah memperhitungkan kemungkinan penurunan produksi pangan akibat perubahan kondisi iklim.
Langkah antisipasi difokuskan pada wilayah yang menjadi penyumbang utama produksi padi nasional.
“Beras kita akan mendapat tekanan dalam kondisi ini. Kita telah mencoba mengawal ketat delapan atau 10 provinsi utama penghasil padi. Karena itu, pompanisasi dan irigasi perpipaan juga terus kita lakukan di wilayah tersebut,” kata Hanif di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (30/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan saat Hanif melakukan peninjauan lapangan sekaligus evaluasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah.
Menurutnya, penguatan sarana pengairan menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menjaga produktivitas pertanian ketika pasokan air menghadapi tekanan akibat kondisi cuaca.
Program pompanisasi dan irigasi perpipaan terus dilakukan agar kebutuhan air pada lahan pertanian dapat terpenuhi.
Produksi Padi Nasional Tercatat Lebih dari 32 Juta Ton
Hanif mengungkapkan produksi padi nasional berdasarkan perhitungan kondisi pertanaman telah mencapai lebih dari 32 juta ton hingga sehari sebelum peninjauan.
Pemerintah juga menargetkan tambahan produksi sekitar 1,5 juta ton pada Desember 2026.
Tambahan tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kecukupan pasokan beras nasional hingga akhir tahun.
Pemerintah turut berupaya mempertahankan target swasembada beras meskipun terdapat potensi gangguan produksi akibat El Nino.
Hanif memperkirakan dampak fenomena iklim tersebut dapat memberikan tekanan terhadap produksi pangan hingga ratusan ribu ton setara beras.
Namun, pemerintah tetap mengandalkan penguatan infrastruktur pertanian dan pengawasan sentra produksi untuk mengurangi risiko penurunan hasil panen.
Pemerintah Siapkan Mitigasi El Nino untuk Tahun Berikutnya
Selain menjaga produksi pada 2026, pemerintah mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi dampak El Nino pada tahun berikutnya.
Persiapan dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga yang menangani pertanian, pengairan, dan kehutanan.
Koordinasi tersebut melibatkan jajaran pengelola sumber daya air, balai wilayah sungai, Kementerian Pertanian, serta sektor kehutanan.
Hanif mengatakan berbagai program yang telah berjalan akan dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan kondisi iklim.
Langkah tersebut diharapkan membuat penanganan risiko kekeringan dan gangguan produksi pangan menjadi lebih efektif.
Bantuan Beras Disalurkan kepada 33,24 Juta Keluarga
Di samping memperkuat produksi, pemerintah menyiapkan intervensi pasar untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengantisipasi kenaikan harga pangan.
Hanif menyebut bantuan pangan berupa beras disalurkan sebanyak 30 kilogram kepada setiap keluarga penerima manfaat.
Program tersebut menjangkau sekitar 33,24 juta keluarga penerima manfaat dengan total penyaluran hampir satu juta ton beras.
Bantuan pangan itu menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menjaga akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok.
Selain bantuan langsung, pemerintah juga menyalurkan beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Volume beras yang digelontorkan melalui program SPHP disebut mencapai hampir satu juta ton.
Pemerintah Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Hari Besar
Hanif mengatakan intervensi pasokan beras tidak hanya disiapkan untuk menghadapi dampak El Nino.
Pemerintah juga mengantisipasi peningkatan kebutuhan pangan menjelang Natal dan Tahun Baru, Ramadan, hingga Lebaran.
Menurutnya, penguatan pasokan sejak awal diperlukan untuk menekan risiko gejolak harga ketika permintaan masyarakat meningkat.
“Kita harapkan fluktuasi harga pada kondisi El Nino terkendali, kemudian Natal dan tahun baru serta menjelang puasa Ramadhan hingga Lebaran sudah kita mitigasi dari awal,” ujarnya.
Pemerintah berharap penguatan produksi, bantuan pangan, dan penyaluran beras SPHP dapat menjaga stabilitas harga di tengah perubahan kondisi iklim.
Berbagai langkah tersebut juga diarahkan untuk membantu mengendalikan inflasi pangan agar tetap sesuai dengan proyeksi pemerintah.
- Penulis :
- Aditya Yohan




