HOME  ⁄  Ekonomi

Mendag Budi Santoso Dorong Diversifikasi Impor Bahan Baku untuk Kurangi Ketergantungan Pemasok Asing

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Mendag Budi Santoso Dorong Diversifikasi Impor Bahan Baku untuk Kurangi Ketergantungan Pemasok Asing
Foto: Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menjawab pertanyaan dari pelaku usaha dalam Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia 2026, di Jakarta, Jumat 30/10/2026 (sumber: ANTARA/Aji Cakti)

Pantau - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mendorong pelaku usaha Indonesia memperluas negara asal impor bahan baku, bahan penolong, dan barang modal guna mengurangi ketergantungan terhadap pemasok tertentu sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok industri nasional.

Budi menilai diversifikasi sumber impor menjadi langkah penting untuk memberikan lebih banyak pilihan pemasok internasional serta meningkatkan posisi tawar industri dalam negeri dalam memenuhi kebutuhan produksi.

Menurutnya, ketergantungan terhadap satu atau dua pemasok berpotensi menimbulkan risiko karena dapat memperkuat posisi tawar pihak pemasok dalam hubungan perdagangan.

"Yang perlu dipikirkan adalah ketika 91 persen impor barang modal dan bahan baku itu semuanya impor, berarti kita harus memperluas supplier-nya. Jangan sampai kita tergantung pada satu dua supplier, karena ketika kita tergantung pada satu dua supplier berarti daya tawar dia semakin kuat. Itu tentu berbahaya buat kita," ujar Budi dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Pemerintah mendorong perluasan jaringan pemasok internasional agar industri nasional memiliki alternatif dalam memperoleh kebutuhan produksi sekaligus menjaga kesinambungan pasokan barang.

Mendag Sebut 91 Persen Impor Indonesia untuk Kebutuhan Produksi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan Budi, sektor industri pengolahan masih mendominasi struktur ekspor Indonesia dengan kontribusi mencapai 82 persen dari total ekspor nasional.

Sementara itu, sekitar 18 persen ekspor lainnya berasal dari sektor pertambangan, minyak dan gas bumi (migas), serta pertanian.

Budi mengungkapkan bahwa sektor industri pengolahan mencatat pertumbuhan sebesar 7,87 persen yang dinilainya menunjukkan perkembangan positif aktivitas manufaktur nasional.

Pertumbuhan tersebut juga sejalan dengan struktur impor Indonesia yang sebagian besar terdiri atas barang untuk mendukung kegiatan produksi industri.

"Kalau kita lihat di sektor industri pengolahan pun juga tumbuh 7,87 persen. Jadi kita cukup berkembang. Ini sejalan juga dengan struktur impor kita. Impor kita itu 91 persen itu bahan baku penolong dan barang modal, sedangkan 8,7 persen adalah barang konsumsi," ungkap Budi.

Menurutnya, besarnya porsi impor bahan baku, bahan penolong, dan barang modal menunjukkan kebutuhan industri nasional terhadap pasokan dari pasar internasional untuk menunjang kegiatan produksi.

Pemerintah menginginkan pasar domestik menjadi ruang pertumbuhan industri nasional, sementara pasar global dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas ekspor.

Impor Barang Modal Mei 2026 Melonjak 21,12 Persen

Budi sebelumnya menyampaikan bahwa peningkatan impor barang modal pada Mei 2026 menjadi salah satu indikator penguatan aktivitas dan kapasitas produksi nasional.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), impor barang modal pada Mei 2026 meningkat sebesar 21,12 persen secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan April 2026 yang mencapai 6,33 persen.

Sementara itu, total nilai impor Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 24,81 miliar dolar AS atau turun 1,59 persen dibandingkan April 2026.

Meski mengalami penurunan secara bulanan, nilai impor tersebut masih meningkat sebesar 22,16 persen dibandingkan Mei 2025.

Penurunan impor secara bulanan terjadi seiring melemahnya impor migas dan nonmigas.

Berdasarkan golongan penggunaan barang, penurunan impor terutama dipengaruhi oleh melemahnya impor barang konsumsi sebesar 8,42 persen serta bahan baku dan bahan penolong sebesar 5,72 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Secara kumulatif, nilai impor Indonesia sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai 111,33 miliar dolar AS atau meningkat 15,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan impor migas sebesar 27,89 persen dan impor nonmigas sebesar 13,16 persen.

Impor Barang Modal dan Bahan Baku Tumbuh Sepanjang Januari–Mei 2026

Berdasarkan penggolongan penggunaan barang atau Broad Economic Categories (BEC), seluruh kelompok impor Indonesia mencatat pertumbuhan selama Januari hingga Mei 2026.

Impor barang modal meningkat sebesar 17,53 persen, mencerminkan bertambahnya kebutuhan barang yang digunakan untuk mendukung investasi dan kapasitas produksi industri.

Pada periode yang sama, impor barang konsumsi tumbuh sebesar 17,05 persen, sedangkan impor bahan baku dan bahan penolong meningkat sebesar 14,41 persen.

Dari sisi komoditas, pertumbuhan impor nonmigas tertinggi tercatat pada kelompok kendaraan udara dan bagiannya yang melonjak hingga 808,56 persen.

Kelompok garam, belerang, batu, dan semen juga mengalami peningkatan impor sebesar 73,94 persen.

Sementara itu, impor bijih logam, terak, dan abu meningkat sebesar 58,63 persen, disusul bahan bakar mineral yang tumbuh sebesar 40,48 persen.

Kelompok berbagai produk kimia turut mencatat pertumbuhan impor sebesar 34,94 persen sepanjang periode tersebut.

Tiongkok, Jepang, dan Australia Kuasai 52,68 Persen Impor Nonmigas

Berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia masih didominasi oleh Tiongkok, Jepang, dan Australia.

Ketiga negara tersebut secara gabungan menyumbang sekitar 52,68 persen dari total impor nonmigas Indonesia.

Besarnya kontribusi ketiga negara tersebut menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam mendorong diversifikasi negara asal impor guna mengurangi ketergantungan terhadap pemasok utama.

Di sisi lain, pertumbuhan impor nonmigas tertinggi berdasarkan negara asal tercatat dari Meksiko dengan kenaikan mencapai 247,36 persen.

Perancis menempati posisi berikutnya dengan pertumbuhan sebesar 193,63 persen, disusul Spanyol yang mencatat peningkatan impor nonmigas sebesar 88,33 persen.

Perkembangan impor dari berbagai negara tersebut menunjukkan adanya peluang bagi pelaku usaha nasional untuk memperluas jaringan pemasok internasional.

Diversifikasi Impor Diharapkan Perkuat Ketahanan Industri Nasional

Budi menekankan pentingnya diversifikasi sumber impor untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku, bahan penolong, dan barang modal yang dibutuhkan sektor industri.

Melalui perluasan negara asal impor, pelaku usaha diharapkan memiliki lebih banyak alternatif pemasok sehingga tidak bergantung pada satu atau dua negara tertentu.

Strategi tersebut juga diarahkan untuk memperkuat posisi tawar industri nasional dalam memperoleh barang kebutuhan produksi dari pasar internasional.

Selain menjaga kesinambungan pasokan, diversifikasi impor diharapkan mendukung peningkatan kapasitas produksi industri dalam negeri agar mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.

Pemerintah menempatkan penguatan rantai pasok dan perluasan jaringan pemasok internasional sebagai bagian dari upaya menjaga aktivitas industri nasional di tengah besarnya kebutuhan impor bahan baku dan barang modal.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026