
Pantau - Pemerintah Korea Selatan melihat peluang kerja sama dengan Indonesia dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) untuk mendukung kebutuhan listrik nasional yang diperkirakan terus meningkat seiring perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pembangunan pusat data (data center).
Konselor Menteri Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Republik Korea di Jakarta, Kim Chanwoo, mengatakan Korea Selatan memiliki pengalaman dan teknologi pengembangan energi nuklir yang dapat dimanfaatkan untuk menjajaki kerja sama dengan Indonesia.
“Kami juga memiliki pengalaman mengekspor teknologi nuklir dan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di luar negeri. Karena itu, terdapat potensi kerja sama di bidang ini,” kata Kim dalam lokakarya Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation di Jakarta, Jumat.
Kim menjelaskan peningkatan kebutuhan listrik Indonesia, terutama untuk mendukung pembangunan pusat data dan perkembangan teknologi AI, membutuhkan tambahan sumber energi yang mampu menyediakan pasokan listrik dalam jumlah besar.
Menurutnya, energi nuklir dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia meskipun teknologi tersebut tidak termasuk kategori energi terbarukan.
Korea Selatan Miliki 26 Reaktor Nuklir, Indonesia Targetkan PLTN 500 Megawatt
Berdasarkan data Asosiasi Nuklir Dunia (World Nuclear Association/WNA), Korea Selatan saat ini mengoperasikan 26 reaktor nuklir dengan kapasitas gabungan sekitar 25.609 megawatt listrik (MWe).
Sebanyak 26 reaktor tersebut berkontribusi memasok sekitar sepertiga dari total kebutuhan listrik Korea Selatan sehingga menjadikan energi nuklir sebagai salah satu komponen penting dalam sistem ketenagalistrikan negara tersebut.
Selain reaktor yang telah beroperasi, Korea Selatan juga memiliki empat reaktor nuklir dalam tahap pembangunan dengan kapasitas gabungan mencapai 5.360 MWe.
Pengalaman pengoperasian dan pembangunan PLTN tersebut menjadi salah satu modal Korea Selatan untuk menawarkan kerja sama teknologi nuklir kepada Indonesia.
Peluang kerja sama ini sejalan dengan rencana pemerintah Indonesia yang mulai memasukkan energi nuklir ke dalam pengembangan sistem ketenagalistrikan nasional.
Melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah Indonesia menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 42,6 GW dialokasikan untuk pengembangan energi baru dan terbarukan, sedangkan 10,3 GW berasal dari fasilitas penyimpanan energi.
Dalam rencana tersebut, pemerintah juga memasukkan pengembangan PLTN dengan kapasitas sebesar 0,5 GW atau setara 500 megawatt.
Pemerintah Indonesia menargetkan penetapan lokasi atau tapak pembangunan PLTN pada 2026 atau paling lambat 2027 sebagai salah satu tahapan pengembangan energi nuklir nasional.
Korea Selatan Jajaki Investasi Teknologi Penyimpanan Karbon di Indonesia
Selain energi nuklir, Korea Selatan juga melihat peluang kerja sama dengan Indonesia dalam pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS).
Kim Chanwoo mengatakan Indonesia memiliki potensi geologi yang besar untuk penyimpanan karbon dioksida (CO2) sehingga menarik perhatian sejumlah perusahaan Korea Selatan.
Potensi tersebut membuka kesempatan bagi perusahaan kedua negara untuk menjajaki investasi dan pengembangan teknologi penyimpanan karbon.
Namun, Kim menjelaskan pengembangan kerja sama CCS masih membutuhkan kajian teknis dan investigasi lebih lanjut sebelum dapat diwujudkan menjadi proyek konkret.
Pembahasan mengenai peluang kerja sama tersebut sebelumnya telah dilakukan dalam Forum Energi Indonesia-Korea ke-14 yang diselenggarakan di Bali pada pekan sebelumnya.
Forum tersebut melibatkan lembaga pemerintah dan perusahaan dari Indonesia serta Korea Selatan untuk membahas berbagai peluang kolaborasi sektor energi, termasuk teknologi CCS.
Kim menegaskan hingga saat ini belum terdapat proyek kerja sama CCS spesifik antara Indonesia dan Korea Selatan yang dapat diumumkan kepada publik.
Kedutaan Besar Korea Selatan di Jakarta akan terus mendorong komunikasi dengan kementerian terkait dan perusahaan kedua negara untuk menindaklanjuti peluang kerja sama tersebut.
Indonesia dan Korea Selatan Teken Dua Kesepakatan Energi Bersih di Seoul
Peluang kerja sama energi nuklir dan CCS antara Indonesia dan Korea Selatan telah memiliki landasan bilateral melalui penandatanganan dua nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) pada 1 April 2026 di Seoul, Korea Selatan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menandatangani kedua kesepakatan tersebut bersama pemerintah Korea Selatan di hadapan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung.
Nota kesepahaman pertama mencakup kerja sama pengembangan energi bersih, termasuk energi terbarukan, energi nuklir, teknologi hidrogen, penyimpanan energi, serta peningkatan efisiensi energi.
Kesepakatan tersebut juga mencakup pengembangan teknologi baterai, bioenergi, pengolahan sampah menjadi energi, jaringan listrik pintar (smart grid), serta sistem energi untuk pulau mandiri.
Sementara itu, nota kesepahaman kedua mengatur kerja sama pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon lintas batas antara Indonesia dan Korea Selatan.
Kerja sama CCS tersebut meliputi promosi dan komersialisasi teknologi penangkapan karbon serta fasilitasi proyek penelitian dan pengembangan industri yang berkaitan dengan teknologi tersebut.
Kedua kesepakatan menjadi landasan bagi Indonesia dan Korea Selatan untuk memperluas kolaborasi dalam pengembangan teknologi energi bersih dan penguatan ketahanan energi.
Meski demikian, realisasi proyek PLTN maupun CCS masih memerlukan pembahasan lanjutan, kajian teknis, dan koordinasi antara pemerintah serta perusahaan dari kedua negara.
Pengembangan kerja sama tersebut diharapkan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan listrik Indonesia yang terus meningkat sekaligus memperluas pemanfaatan teknologi energi rendah karbon.
- Penulis :
- Leon Weldrick




