HOME  ⁄  Ekonomi

Wamenekraf Irene Umar Dorong Produk Personalisasi Budaya Indonesia Tembus Pasar China

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Wamenekraf Irene Umar Dorong Produk Personalisasi Budaya Indonesia Tembus Pasar China
Foto: Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar di KBRI Beijing pada Sabtu 31/10/2026 (sumber: ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Pantau - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menyatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk memasarkan produk personalisasi atau personalized product berbasis budaya Nusantara ke pasar China dengan mengandalkan kekayaan budaya, kreativitas, dan keunikan produk lokal.

Irene menilai pasar China memiliki kebutuhan terhadap produk yang bersifat personal, eksklusif, dan memiliki identitas budaya tertentu sehingga dapat menjadi peluang bagi pelaku industri kreatif Indonesia untuk memperluas pasar ekspor.

"Kami melihat dari China ada banyak kebutuhan-kebutuhan, terutama yang barang-barang personalisasi dan berbasis budaya Indonesia karena Indonesia punya banyak sekali," ungkap Irene di Beijing, Sabtu (31/10).

Pernyataan tersebut disampaikan Irene di sela-sela pelantikan Dewan Perwakilan Luar Negeri (DPLN) Tiongkok Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) yang mencakup kepengurusan di Beijing, Guangzhou, Shenzhen, dan Shanghai.

Produk personalisasi merupakan barang yang telah tersedia di pasaran, tetapi mendapatkan tambahan desain, tampilan, identitas, atau karakteristik tertentu sehingga memiliki nilai personal maupun emosional bagi konsumen.

Menurut Irene, kekayaan budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke menjadi modal penting untuk menciptakan produk kreatif dengan nilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar internasional.

Indonesia Andalkan Keunikan Budaya untuk Bersaing di Pasar China

Irene menegaskan bahwa ekonomi kreatif merupakan salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia karena keberagaman budaya, identitas, dan cerita masyarakat dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

"Ekonomi kreatif kami dapatkan sebagai mesin baru pertumbuhan bagi negara karena dari Sabang sampai Merauke, kita saja beda-beda semua. Dari wajah kita yang berbeda-beda, dari perencanaan cerita kita yang berbeda-beda, jadi kita punya sesuatu yang unik," ujar Irene.

Menurutnya, persaingan industri kreatif ke depan tidak hanya ditentukan oleh kualitas produksi, tetapi juga keunikan desain, kekuatan cerita, dan hubungan emosional antara produk dengan konsumennya.

Keberagaman karakter budaya Indonesia dinilai memberikan peluang untuk menciptakan produk khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi masing-masing konsumen.

"Jadi Indonesia lah satu-satunya negara yang bisa melakukan 'produk personalisasi' yang hanya ada untuk konsumennya dengan jumlah yang sangat besar, kita punya 215 juta orang dan hal ini bukan sesuatu yang tidak bisa dijual-belikan," ungkap Irene.

Irene mengingatkan pelaku usaha kreatif Indonesia agar tidak terjebak dalam persaingan harga murah atau perang harga ketika memasuki pasar internasional.

Menurutnya, industri kreatif nasional perlu lebih mengutamakan inovasi, desain, dan karakter produk yang berbeda agar dapat memperoleh nilai jual serta margin keuntungan lebih tinggi.

"Kita jangan perang harga, jangan bermain di komoditas, kita bermain di kreatif, kenapa tidak? Tinggal bagaimana mengomunikasikan dengan pasar di Tiongkok yang secara bahasa dan budaya beda," tambah Irene.

Perbedaan bahasa dan budaya antara Indonesia dan China juga menjadi tantangan yang harus dipahami pelaku usaha dalam menyusun strategi pemasaran dan komunikasi dengan konsumen setempat.

Selain menjadikan China sebagai pasar potensial, Irene mendorong industri kreatif Indonesia untuk mempelajari perkembangan inovasi dan teknologi yang telah dikembangkan negara tersebut.

Ia mencontohkan bahwa bahan dasar dari luar negeri dapat menghasilkan nilai ekonomi jauh lebih tinggi ketika diolah melalui kreativitas dan desain khas Indonesia.

"Meski kalau bicara soal akar budaya, Indonesia juga punya keunggulan misalnya mereka suplai kain ke Indonesia tapi di tangan orang Indonesia, itu bisa didesain dengan sedemikian rupa, sehingga margin-nya itu bisa beratus-ratus persen," ungkap Irene.

Kementerian Ekonomi Kreatif Targetkan Kontribusi 8 Persen terhadap PDB pada 2026

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif menargetkan kontribusi sektor ekonomi kreatif mencapai 8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada 2026.

Irene menyampaikan bahwa kontribusi sektor tersebut saat ini diperkirakan telah mencapai kisaran 7,6 hingga 7,8 persen sehingga semakin mendekati target pemerintah.

Menurutnya, kontribusi ekonomi kreatif bahkan berpotensi lebih tinggi apabila berbagai aset digital, termasuk gim buatan pengembang Indonesia yang dipasarkan ke luar negeri, turut diperhitungkan.

"Saat ini kami sudah sampai 7,6 atau 7,8 persen, sebentar lagi sudah mau sampai target, tapi menurut saya sudah melebihi, karena kita belum menghitung yang namanya 'aset digital' misalnya gim seperti 'My Lovely Daughter' yang sudah masuk ke China," tambah Irene.

Gim My Lovely Daughter merupakan karya pengembang Indonesia, GameChanger Studio, yang berkantor di Tangerang dan pertama kali diluncurkan pada 2018.

Gim simulasi horor psikologis tersebut berhasil memasuki pasar China dengan menggunakan judul Mandarin 我的可爱女儿 (Wǒ de Kě'ài Nǚ'ér) yang berarti "Putriku yang Tersayang".

Irene menjelaskan bahwa sebelumnya produk gim Indonesia lebih banyak dipasarkan ke Amerika Serikat, tetapi kini mulai mendapatkan kesempatan untuk menjangkau konsumen China.

Kementerian Ekonomi Kreatif berupaya membantu pengembang gim nasional melalui penerjemahan bahasa serta pembukaan akses pasar internasional agar produk lokal dapat bersaing secara global.

"Padahal sebelumnya lebih banyak gim Indonesia ke pasar Amerika Serikat, jadi kami di Bekraf pertama, membantu menerjemahkan ke bahasa yang digunakan pasar dan kedua membuka pasar untuk memberikan pentas bagi anak-anak bangsa, bukan hanya di nasional tapi juga level internasional," jelas Irene.

KBRI Beijing Perkuat Diplomasi Ekonomi Kreatif dan Dorong Pengembangan Drama Indonesia

Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, menyatakan Kementerian Luar Negeri mendukung pengembangan ekonomi kreatif melalui diplomasi yang memberikan manfaat bagi pelaku usaha dan masyarakat.

Salah satu langkah yang dilakukan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing adalah mengubah nama fungsi Penerangan dan Sosial Budaya menjadi fungsi Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Diplomasi Publik (PEKDP).

"Di KBRI Beijing, kami mengubah nama fungsi Penerangan dan Sosial Budaya menjadi fungsi Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Diplomasi Publik (PEKDP), sebagai salah satu yang pertama dari KBRI lainnya," kata Dubes Djauhari.

Djauhari menjelaskan bahwa pemerintah dan pelaku usaha di China memiliki pola kolaborasi dalam mengembangkan industri kreatif, mulai dari promosi, pemasaran, informasi tren, pemanfaatan teknologi, hingga akses pembiayaan.

Menurutnya, pola kerja sama tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional sekaligus membuka peluang kolaborasi industri kedua negara.

Djauhari juga mengusulkan pengembangan drama Indonesia atau dra-in sebagai alternatif dari drama China atau dracin dengan mengandalkan kekayaan cerita dan budaya Nusantara.

"Kalau China punya dracin atau drama China, bagaimana kalau Indonesia punya dra-in atau drama Indonesia karena Indonesia jago 'bercerita'. Kemudian disektor gim, pada semester pertama tahun ini sana nilai penjualan gim Indonesia sudah mencapai 26,3 miliar dolar AS dengan pengguna mencapai 680 juta," jelas Dubes Djauhari.

Ia menilai kekuatan Indonesia dalam menghasilkan cerita dapat dipadukan dengan kemampuan produksi, teknologi, dan jaringan distribusi industri kreatif China.

Kolaborasi tersebut berpotensi membuka peluang pengembangan produk hiburan bersama, khususnya pada sektor drama dan gim yang memiliki pasar internasional.

Ekonomi Kreatif Indonesia Sumbang Rp1.757 Triliun dan Serap 27,40 Juta Pekerja

Berdasarkan laporan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, sektor ekonomi kreatif menyumbang Rp1.757 triliun atau 6,86 persen terhadap PDB nasional sepanjang 2025.

Subsektor kuliner menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi mencapai Rp721,8 triliun pada periode tersebut.

Selain memberikan kontribusi terhadap perekonomian, sektor ekonomi kreatif juga menyerap sebanyak 27,40 juta tenaga kerja atau setara dengan 18,8 persen dari total tenaga kerja nasional pada 2025.

Sementara itu, nilai ekspor barang ekonomi kreatif Indonesia sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 9,99 miliar dolar AS.

Subsektor fesyen menjadi kontributor terbesar dengan nilai ekspor mencapai 5,85 miliar dolar AS atau sekitar 58,55 persen dari total ekspor barang ekonomi kreatif pada periode tersebut.

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif saat ini menaungi 17 subsektor, yakni kuliner, fesyen, televisi dan radio, kriya, penerbitan, aplikasi dan gim, arsitektur, periklanan, film, animasi dan video, musik, fotografi, seni rupa, desain produk, seni pertunjukan, desain interior, serta desain komunikasi visual.

Pengembangan produk personalisasi berbasis budaya, perluasan akses pasar China, dan pemanfaatan teknologi menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah produk kreatif Indonesia.

Kerja sama antara pelaku industri kreatif Indonesia dan China juga diharapkan dapat memperluas jangkauan produk lokal sekaligus mendukung pencapaian target kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional sebesar 8 persen pada 2026.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026