HOME  ⁄  Ekonomi

Ekspor Jakarta Turun 3,95 Persen Jadi 12,29 Miliar Dolar AS, Industri Pengolahan Jadi Penyebab Utama

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Ekspor Jakarta Turun 3,95 Persen Jadi 12,29 Miliar Dolar AS, Industri Pengolahan Jadi Penyebab Utama
Foto: Foto udara truk mengangkut peti kemas melintas di Dermaga Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis 2/7/2026 (sumber: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Pantau - Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat nilai ekspor kumulatif Jakarta sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 12,29 miliar dolar Amerika Serikat (AS), mengalami penurunan sebesar 3,95 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Penurunan tersebut terutama dipengaruhi melemahnya kinerja ekspor nonmigas, khususnya sektor industri pengolahan yang menjadi penyumbang terbesar terhadap total ekspor Jakarta.

Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, mengatakan nilai ekspor migas sepanjang sembilan bulan pertama 2026 mencapai 51,32 juta dolar AS, sedangkan ekspor nonmigas tercatat sebesar 12,25 miliar dolar AS.

"Nilai ekspor migas tercatat senilai 51,32 juta dolar AS, naik 93,15 persen, kemudian nilai ekspor non-migas tercatat senilai 12,25 miliar dolar AS atau turun sebesar 4,15 persen," kata Kadarmanto di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Berdasarkan data tersebut, ekspor migas Jakarta mengalami pertumbuhan sebesar 93,15 persen secara tahunan, sementara ekspor nonmigas justru terkontraksi 4,15 persen dibandingkan Januari–September 2025.

Meski ekspor migas mengalami peningkatan, pertumbuhan tersebut belum mampu mengimbangi penurunan ekspor nonmigas yang memiliki kontribusi jauh lebih besar terhadap keseluruhan nilai ekspor Jakarta.

Industri Pengolahan Jadi Penyumbang Terbesar Penurunan Ekspor Jakarta

Kadarmanto menjelaskan bahwa penurunan ekspor nonmigas secara kumulatif terutama berasal dari sektor industri pengolahan yang mencatat kontraksi sebesar 412,83 juta dolar AS atau 3,35 persen dibandingkan periode Januari–September 2025.

Sektor industri pengolahan memiliki kontribusi sebesar 96,77 persen terhadap ekspor nonmigas Jakarta sehingga perubahan kinerja sektor tersebut sangat memengaruhi perkembangan ekspor secara keseluruhan.

"Menurut subsektor penurunan nilai ekspor nonmigas secara kumulatif ini terjadi di sektor industri pengolahan, yang sektor ini memiliki andil sebesar 96,77 persen, menjadi pendorong utama atas turunnya nilai ekspor sepanjang Januari-September 2026," jelas dia.

Besarnya kontribusi industri pengolahan menunjukkan bahwa kinerja perdagangan ekspor Jakarta sangat bergantung pada perkembangan ekspor berbagai komoditas hasil industri manufaktur.

Selain industri pengolahan, penurunan ekspor juga terjadi pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang mengalami kontraksi sebesar 147,60 juta dolar AS atau 40,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara persentase, penurunan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan lebih besar dibandingkan kontraksi yang terjadi pada industri pengolahan.

Sementara itu, sektor pertambangan dan lainnya justru mencatat pertumbuhan positif dengan kenaikan nilai ekspor sebesar 30,49 juta dolar AS atau 30,53 persen secara tahunan.

Peningkatan tersebut terjadi di tengah melemahnya kinerja ekspor industri pengolahan serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

Ekspor Logam Mulia dan Alas Kaki Jakarta Mengalami Penurunan

BPS DKI Jakarta mencatat sejumlah komoditas industri pengolahan mengalami penurunan ekspor cukup dalam selama Januari hingga September 2026.

Dua kelompok komoditas yang mengalami kontraksi adalah logam mulia dan perhiasan permata serta alas kaki.

"Ekspor sektor industri pengolahan yang turun cukup dalam yaitu logam mulia dan perhiasan permata yang turun sebesar 16,78 persen dan alas kaki yang turun sebesar 8,76 persen," kata Kadarmanto.

Secara kumulatif, nilai ekspor logam mulia dan perhiasan permata mengalami penurunan sebesar 16,78 persen dibandingkan periode Januari–September 2025.

Sementara itu, ekspor alas kaki tercatat mengalami kontraksi sebesar 8,76 persen secara tahunan.

Penurunan kedua kelompok komoditas tersebut turut memberikan tekanan terhadap kinerja ekspor industri pengolahan yang mendominasi struktur ekspor nonmigas Jakarta.

Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan nilai ekspor kumulatif Jakarta mengalami kontraksi sebesar 3,95 persen sepanjang Januari hingga September 2026.

Ekspor Jakarta September 2026 Anjlok 19,76 Persen

Selain mencatat penurunan secara kumulatif, BPS DKI Jakarta melaporkan nilai ekspor pada September 2026 mencapai 1,24 miliar dolar AS.

Nilai tersebut mengalami kontraksi sebesar 19,76 persen dibandingkan September 2025, menunjukkan pelemahan ekspor secara tahunan yang lebih dalam dibandingkan penurunan kumulatif sembilan bulan pertama 2026.

Kadarmanto menjelaskan bahwa kontraksi ekspor September terutama disebabkan oleh melemahnya ekspor nonmigas yang mengalami penurunan nilai sebesar 305,69 juta dolar AS atau 19,73 persen dibandingkan September 2025.

Pada periode yang sama, ekspor migas Jakarta juga mengalami penurunan sebesar 1,03 juta dolar AS atau 39,92 persen secara tahunan.

Dengan demikian, baik ekspor migas maupun nonmigas sama-sama mengalami kontraksi pada September 2026 dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya.

Namun, berdasarkan nilai penurunannya, ekspor nonmigas menjadi penyumbang terbesar terhadap kontraksi ekspor Jakarta pada September 2026.

Ekspor Perhiasan dan Logam Mulia September Merosot 86,98 Persen

Salah satu komoditas yang mengalami penurunan paling tajam pada September 2026 adalah kelompok logam mulia dan perhiasan atau permata.

"Yaitu pada komoditas logam mulia dan perhiasan atau permata yang turun sebesar 86,98 persen," kata Kadarmanto.

Penurunan sebesar 86,98 persen tersebut merupakan kontraksi secara tahunan pada September 2026 dibandingkan September 2025.

Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan penurunan kumulatif komoditas yang sama sebesar 16,78 persen sepanjang Januari hingga September 2026.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan ekspor logam mulia dan perhiasan atau permata pada September berlangsung lebih tajam secara persentase dibandingkan kinerja kumulatif selama sembilan bulan pertama tahun tersebut.

Secara keseluruhan, laporan BPS DKI Jakarta memperlihatkan adanya perbedaan kinerja ekspor antarsektor sepanjang Januari hingga September 2026.

Ekspor migas serta sektor pertambangan dan lainnya masih mencatat pertumbuhan, sedangkan industri pengolahan serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penurunan.

Dominasi industri pengolahan dalam struktur ekspor nonmigas menjadikan pelemahan sektor tersebut sebagai faktor utama yang memengaruhi kontraksi nilai ekspor Jakarta.

Sementara itu, penurunan ekspor sebesar 19,76 persen pada September 2026 menunjukkan tekanan perdagangan yang lebih besar secara tahunan dibandingkan kontraksi kumulatif Januari–September 2026 sebesar 3,95 persen.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026