
Pantau - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan bahwa faktor cuaca berupa kemarau panjang menjadi salah satu penyebab kenaikan harga sejumlah jenis cabai di berbagai daerah Indonesia pada awal November 2026.
Kondisi tersebut berdampak terhadap penurunan produksi cabai sehingga memengaruhi ketersediaan pasokan dan mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga meliputi cabai rawit, cabai merah keriting, dan cabai rawit merah.
"Memang cabai rawit, kemudian cabai keriting, cabai rawit merah sedikit mengalami kenaikan. Itu karena memang faktor cuaca," kata Budi Santoso.
Pernyataan tersebut disampaikan Budi setelah menghadiri Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa, 3 November 2026.
Harga Cabai Rawit Merah Sempat Tembus Rp124.400 per Kilogram
Kenaikan harga cabai pada awal November 2026 terjadi pada sejumlah jenis komoditas dengan tingkat kenaikan yang berbeda.
Harga rata-rata cabai rawit merah sempat mencapai Rp124.400 per kilogram atau meningkat sebesar 23,72 persen.
Angka tersebut jauh melampaui Harga Acuan Pemerintah (HAP) yang ditetapkan sebesar Rp57.000 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada cabai merah keriting yang tercatat meningkat sekitar 21,17 persen dengan harga berkisar antara Rp101.900 hingga Rp105.600 per kilogram.
Sementara itu, harga cabai merah besar turut mengalami kenaikan hingga mencapai Rp91.250 per kilogram.
Berbeda dengan sejumlah jenis cabai lainnya, harga cabai rawit hijau pada periode pemantauan tersebut justru mengalami penurunan tipis menjadi Rp52.500 per kilogram.
Meski demikian, Budi menjelaskan bahwa harga berbagai komoditas pangan secara nasional masih relatif stabil.
Menurutnya, salah satu persoalan utama yang menyebabkan perbedaan harga pangan antardaerah adalah distribusi pasokan yang belum merata dari wilayah sentra produksi menuju daerah yang membutuhkan.
Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah wilayah mengalami kenaikan harga meskipun daerah penghasil komoditas masih memiliki surplus produksi.
Pemerintah Kirim 7 Ton Cabai dari Jawa Timur ke Halmahera
Untuk mengatasi ketidakmerataan pasokan, pemerintah berupaya memperlancar distribusi pangan dengan membantu pengiriman komoditas dari daerah surplus menuju wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.
Budi menjelaskan bahwa langkah tersebut diperlukan karena produksi cabai terkonsentrasi di sejumlah daerah tertentu.
"Walaupun demikian kan tetap ada yang surplus, karena cabai ini diproduksi di daerah tertentu. Makanya kemarin yang kita lakukan adalah dengan membantu pengiriman," ujar Budi.
Salah satu langkah yang telah dilakukan pemerintah adalah mengirimkan sebanyak 7 ton cabai dari Jawa Timur menuju Halmahera.
Pengiriman tersebut bertujuan menambah ketersediaan pasokan sekaligus membantu menstabilkan harga cabai di wilayah tujuan.
Jawa Timur dipilih sebagai daerah asal pengiriman karena memiliki surplus produksi cabai yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan daerah lain.
Program distribusi tersebut dilaksanakan melalui kerja sama antara Kementerian Perdagangan, Bappanas, Bank Indonesia (BI), dan pemerintah daerah.
"Kemarin kita ngirim (cabai) ke Halmahera ya, kan kita ngirim 7 ton dari Jawa Timur, karena Jawa Timur surplus cabai. Jadi kerja sama kita dengan Bappanas, kerja sama dengan BI dan pemerintah daerah," ujar Budi.
Harga Telur Juga Jadi Perhatian Pemerintah
Selain cabai, Mendag menyoroti persoalan distribusi telur ayam ras yang menyebabkan perbedaan harga antardaerah meskipun pasokannya secara nasional masih mengalami surplus.
Budi menyebutkan bahwa harga rata-rata telur ayam ras secara nasional berada pada level Rp26.400 per kilogram.
Harga tersebut masih berada di bawah harga acuan pemerintah sebesar Rp30.000 per kilogram.
Namun, sejumlah daerah mengalami kenaikan harga telur akibat kendala distribusi, terutama di wilayah yang relatif sulit dijangkau pengiriman pasokan pangan.
Pemerintah berencana membantu pengiriman telur ayam ras ke daerah-daerah dengan harga lebih tinggi untuk meningkatkan ketersediaan pasokan dan menjaga stabilitas harga.
"Apalagi telur ini sekarang kan harga rerata nasional itu Rp26.400 per kg. Harga acuan kan Rp30.000. Artinya, sementara ada daerah tertentu yang distribusinya agak susah itu naik. Sehingga kita akan kirim ke daerah-daerah yang harganya lebih tinggi sehingga harga menjadi stabil," ujar Budi Santoso.
Data BI Catat Harga Sejumlah Cabai Mulai Turun
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia per 3 November 2026, harga sejumlah jenis cabai tercatat mengalami penurunan dibandingkan hari sebelumnya.
Harga cabai rawit merah berada pada level Rp90.850 per kilogram atau turun sebesar 9,47 persen secara harian.
Sementara itu, harga cabai merah keriting tercatat sebesar Rp85.100 per kilogram.
Harga cabai rawit hijau berada pada level Rp74.750 per kilogram atau turun sebesar 6,21 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Adapun harga cabai merah besar tercatat sebesar Rp67.400 per kilogram atau mengalami penurunan sebesar 7,35 persen secara harian.
Data tersebut menunjukkan adanya penurunan harga harian pada sejumlah jenis cabai meskipun sebelumnya komoditas tersebut sempat mengalami kenaikan cukup tinggi.
BPS Sebut Cabai Jadi Penyumbang Utama Inflasi Oktober 2026
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai merah, cabai rawit, dan tomat, menjadi pendorong utama inflasi pada Oktober 2026.
BPS mencatat inflasi Indonesia pada Oktober 2026 mencapai 0,22 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,51 persen.
Kelompok tersebut memberikan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,15 poin persentase.
Cabai merah menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi, yakni sebesar 0,13 poin persentase.
Sementara itu, cabai rawit memberikan andil sebesar 0,05 poin persentase dan tomat menyumbang sebesar 0,04 poin persentase.
"Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini terutama cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,13 persen. Berikutnya cabai rawit dengan andil inflasi sebesar 0,05 persen, serta tomat dengan andil inflasi sebesar 0,04 persen," kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta.
Kenaikan harga cabai akibat faktor cuaca dan ketidakmerataan distribusi menjadi perhatian pemerintah karena komoditas tersebut turut memengaruhi pergerakan inflasi pangan nasional.
Pemerintah terus mengupayakan penguatan distribusi antardaerah melalui pemanfaatan surplus produksi dari wilayah sentra pangan serta kerja sama dengan berbagai lembaga terkait.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga ketersediaan pasokan, mengurangi kesenjangan harga antardaerah, dan mempertahankan stabilitas harga pangan di tingkat masyarakat.
- Penulis :
- Arian Mesa




