HOME  ⁄  Ekonomi

Wamendag Dorong 57 Negara OKI Perkuat Ekonomi Digital Lewat AI dan Kewirausahaan Muda

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Wamendag Dorong 57 Negara OKI Perkuat Ekonomi Digital Lewat AI dan Kewirausahaan Muda
Foto: Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri menghadiri B57+ Business Leaders' Summit 2026 di Istanbul, Turki, Minggu 1/11/2026 (sumber: Kemendag)

Pantau - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong 57 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) memperkuat kolaborasi ekonomi digital melalui pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), pemberdayaan wirausaha muda, dan perluasan akses pasar internasional.

Penguatan kerja sama tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai perdagangan, memperkuat daya saing pelaku usaha, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di antara negara-negara anggota OKI.

Dorongan itu disampaikan Roro dalam Sesi Panel 3 bertajuk Konvergensi Generasi Berikutnya: AI, Kewirausahaan Muda, dan Peluang Pertumbuhan Ekonomi Digital OKI pada forum B57+ Business Leaders’ Summit 2026 di Istanbul, Turki, Minggu (1/11/2026).

Dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (3/11/2026), Roro menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi digital karena didukung jumlah penduduk lebih dari 281 juta jiwa.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 62,39 juta jiwa merupakan generasi milenial dan 57,64 juta jiwa termasuk generasi Z yang memiliki peran penting dalam pengembangan inovasi dan kewirausahaan berbasis teknologi.

"Tantangannya adalah bagaimana mengoptimalkan potensi generasi muda agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi, mengembangkan usaha, dan menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian," ujar Roro.

Menurutnya, peningkatan keterampilan sumber daya manusia (SDM), khususnya dalam perdagangan digital dan kewirausahaan, menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas serta daya saing pelaku usaha.

Kemendag Siapkan Empat Strategi Perluas Akses Pasar Global

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menjalankan empat langkah utama untuk membantu pelaku usaha lokal memperluas akses ke pasar internasional melalui pemanfaatan teknologi digital.

Keempat langkah tersebut meliputi pengembangan platform InaExport, pelaksanaan program Campuspreneur, penyelenggaraan pelatihan ekspor berbasis digital, serta penggunaan dokumen perdagangan elektronik.

InaExport dikembangkan sebagai platform digital yang mempertemukan eksportir Indonesia dengan calon pembeli internasional melalui layanan yang dapat diakses secara gratis.

Platform tersebut juga menyediakan informasi mengenai potensi pasar, negara tujuan ekspor, tarif perdagangan, dan persyaratan akses pasar yang harus dipenuhi eksportir.

Melalui layanan ini, pelaku usaha diharapkan dapat memperoleh informasi perdagangan internasional secara lebih mudah sekaligus memperluas jaringan bisnis dengan pembeli luar negeri.

Sementara itu, program Campuspreneur diarahkan untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam kegiatan kewirausahaan dan perdagangan.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya Kemendag meningkatkan kemampuan generasi muda dalam mengembangkan usaha yang berorientasi pada pasar domestik maupun internasional.

Kemendag juga menyelenggarakan pelatihan ekspor berbasis digital untuk meningkatkan keterampilan pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi guna menjangkau konsumen global.

Selain itu, penggunaan dokumen perdagangan elektronik, termasuk Surat Keterangan Asal elektronik (e-SKA), terus didorong sebagai bagian dari digitalisasi proses ekspor.

Penerapan sistem elektronik tersebut menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan efisiensi administrasi perdagangan internasional.

Indonesia Tawarkan QRIS dan Kerangka Ekonomi Digital ASEAN sebagai Referensi

Roro mengajak negara-negara anggota OKI memperkuat pertukaran pengalaman dan praktik pengembangan ekonomi digital agar kebijakan serta inovasi yang telah diterapkan dapat menjadi referensi bersama.

Salah satu inisiatif yang dinilai dapat dijadikan contoh adalah ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) atau Kerangka Perjanjian Ekonomi Digital ASEAN.

Kerangka tersebut dipandang relevan untuk mendukung penguatan integrasi ekonomi digital dan kerja sama perdagangan lintas negara di lingkungan OKI.

Selain DEFA, konektivitas pembayaran lintas negara melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) juga dinilai dapat menjadi contoh pengembangan sistem pembayaran digital.

Pemanfaatan QRIS lintas negara dapat mendukung kemudahan transaksi perdagangan sekaligus memperkuat konektivitas ekonomi antarnegara.

Roro menekankan bahwa pengembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan perlu diimbangi dengan peningkatan literasi digital masyarakat.

Langkah tersebut diperlukan agar manfaat transformasi digital tidak hanya dinikmati kelompok tertentu, tetapi juga dapat menjangkau pelaku usaha dan masyarakat secara lebih luas.

Pengembangan Perusahaan Rintisan Jadi Fokus Kolaborasi Negara OKI

Selain mendorong pemanfaatan AI dan digitalisasi perdagangan, Roro menyoroti pentingnya penguatan ekosistem perusahaan rintisan atau startup untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital.

Pengembangan perusahaan rintisan dinilai membutuhkan dukungan berupa akses pembiayaan, pendampingan usaha, pelatihan, serta koneksi dengan pasar domestik dan internasional.

Dukungan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam menciptakan inovasi sekaligus memperluas peluang bisnis.

Kolaborasi antarnegara OKI juga dinilai dapat mempertemukan kekuatan ekonomi dan teknologi yang dimiliki masing-masing negara.

Melalui kerja sama tersebut, negara-negara anggota berpeluang memperluas perdagangan, menarik investasi, dan meningkatkan daya saing sektor usaha.

"Melalui kerja sama yang saling melengkapi, negara-negara anggota OKI diharapkan dapat meningkatkan nilai perdagangan, memperkuat daya saing pelaku usaha, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif," kata Roro.

Forum B57+ Perkuat Kerja Sama Perdagangan dan Investasi Dunia Islam

B57+ merupakan platform kepemimpinan bisnis strategis yang dibentuk oleh Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) atau Kamar Dagang dan Pembangunan Islam.

Platform tersebut bertujuan memperkuat hubungan ekonomi, perdagangan, dan investasi antara 57 negara anggota OKI serta negara-negara mitra ekonomi utama.

Forum B57+ Business Leaders’ Summit mempertemukan pemimpin bisnis, investor, pembuat kebijakan, lembaga keuangan, kamar dagang, dan berbagai pemangku kepentingan ekonomi.

Pertemuan tersebut menjadi wadah untuk menghubungkan pengambil keputusan dengan sektor swasta sekaligus mengeksplorasi peluang investasi dan perdagangan lintas negara.

Melalui partisipasi dalam forum tersebut, Indonesia mendorong penguatan kerja sama ekonomi digital yang mencakup pemanfaatan AI, pengembangan keterampilan generasi muda, serta perluasan akses pasar global.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing pelaku usaha di negara-negara OKI sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026