HOME  ⁄  Ekonomi

Kementan Siapkan Rp30 Miliar untuk Serap Telur Peternak, Harga Pembelian Minimal Rp24 Ribu per Kilogram

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Kementan Siapkan Rp30 Miliar untuk Serap Telur Peternak, Harga Pembelian Minimal Rp24 Ribu per Kilogram
Foto: Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda (sumber: Kementan)

Pantau - Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat program penyerapan telur ayam ras senilai Rp30 miliar melalui Perum Bulog dan ID FOOD dengan harga pembelian minimal Rp24.000 per kilogram untuk membantu peternak mikro dan kecil yang menghadapi tekanan harga di sejumlah daerah sentra produksi.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan intervensi pemerintah diperlukan karena harga telur di sejumlah wilayah masih berada di bawah tingkat yang dibutuhkan peternak untuk menutup biaya produksi.

"Peternak mikro dan kecil, terutama yang tergabung dalam koperasi-koperasi, ini menjadi prioritas," kata Agung Suganda saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, untuk memperkuat penyerapan hasil produksi peternak dalam negeri.

Kementan telah menggelar rapat koordinasi bersama Perum Bulog, ID FOOD, Badan Pangan Nasional (Bapanas), Badan Gizi Nasional (BGN), serta perwakilan koperasi dan peternak guna mempercepat pelaksanaan program.

Dari total dana Rp30 miliar yang disiapkan, Perum Bulog mengalokasikan Rp15 miliar, sedangkan ID FOOD menyediakan dana dengan jumlah yang sama.

Penyerapan telur diprioritaskan di sejumlah sentra produksi yang mengalami tekanan harga, terutama wilayah Pulau Jawa, Lampung, dan Sulawesi Selatan.

Kementan Tetapkan Harga Pembelian Telur Minimal Rp24.000 per Kilogram

Agung menjelaskan bahwa program penyerapan telur diarahkan untuk membantu peternak mikro dan kecil yang tergabung dalam koperasi maupun asosiasi peternak.

Pemerintah menetapkan harga pembelian minimal Rp24.000 per kilogram di daerah sentra produksi sebagai langkah untuk membantu memperbaiki harga telur di tingkat peternak.

“Rp30 miliar itu akan dilakukan penyerapan secara prioritas di daerah sentra telur dengan harga minimal Rp24.000 per kilogram,” ujar Agung.

Menurutnya, pelaksanaan program harus dilakukan secara merata agar koperasi peternak yang memenuhi kriteria prioritas memiliki kesempatan memperoleh manfaat dari pembelian telur oleh BUMN pangan.

"Jangan sampai ada koperasi yang merasa tertinggal dan tidak bisa menikmati atau mendapatkan serapan telur dari program Rp30 miliar ini,” tutur Agung.

Kementan berharap penyerapan tersebut dapat membantu mengurangi tekanan harga di tingkat produsen sekaligus memperkuat pendapatan peternak yang selama ini menghadapi kenaikan biaya produksi.

Koordinasi antara pemerintah, BUMN pangan, dan organisasi peternak juga diperlukan untuk memastikan pembelian dilakukan di wilayah yang paling membutuhkan dukungan.

Bulog Siapkan Rp15 Miliar, Pengadaan Awal Rp4,8 Miliar Disetujui

Direktur Pemasaran Perum Bulog, Rahmanto Amin Jatmiko, menjelaskan bahwa pengadaan telur dalam program tersebut dilakukan melalui mekanisme komersial.

Melalui skema tersebut, Bulog harus memastikan ketersediaan saluran penjualan sebelum melakukan pembelian telur dari peternak agar produk dapat segera dipasarkan.

Rahmanto mengatakan telur memiliki masa simpan relatif singkat, yakni sekitar tujuh hingga 10 hari, sehingga proses pengadaan dan distribusi harus dilakukan secara cepat.

Kondisi tersebut membuat informasi mengenai lokasi produksi, jumlah pasokan, dan kebutuhan pasar menjadi faktor penting dalam pelaksanaan penyerapan.

“Jadi kalau semakin cepat kita bisa mendapatkan informasi ketersediaannya dan penyerapannya, kita langsung bisa siapkan anggarannya, kita bisa siapkan saluran penjualannya,” kata Rahmanto.

Bulog mencatat nilai pengadaan telur sepanjang Januari hingga Oktober 2026 telah mencapai sekitar Rp15 miliar.

Untuk mendukung program tambahan yang sedang dipercepat pemerintah, Bulog kembali menyiapkan alokasi dana sebesar Rp15 miliar.

Dalam rapat koordinasi, Bulog juga melaporkan telah memperoleh persetujuan internal untuk pengadaan telur tahap awal senilai sekitar Rp4,8 miliar.

Persetujuan tersebut menjadi bagian dari persiapan pelaksanaan pembelian tambahan guna mempercepat penyerapan telur dari peternak di daerah sentra produksi.

ID FOOD Sudah Serap 130 Ton Telur Senilai Rp2,9 Miliar

Sementara itu, ID FOOD telah lebih dahulu menjalankan program penyerapan telur ayam ras sejak 27 Oktober 2026.

Berdasarkan laporan realisasi hingga 2 November 2026, perusahaan telah membeli sekitar 130 ton telur ayam ras dengan nilai mencapai Rp2,9 miliar.

Realisasi tersebut dilaporkan sebagai hasil penyerapan selama lima hari pertama pelaksanaan program oleh ID FOOD.

Direktur Komersial ID FOOD, Dwi Sutoro, menjelaskan bahwa pembelian telur juga dilakukan menggunakan mekanisme bisnis yang mempertimbangkan kepastian pasar tujuan.

“ID FOOD memang skemanya bisnis. Kami membeli dan harus meyakinkan bahwa kami bisa menjual dan tidak rugi,” ujar Dwi Sutoro.

Menurutnya, kepastian penjualan menjadi pertimbangan utama karena telur merupakan produk pangan yang harus segera didistribusikan untuk menjaga kualitas.

ID FOOD menargetkan optimalisasi penggunaan alokasi dana Rp15 miliar untuk penyerapan telur hingga akhir November 2026.

Untuk mencapai target tersebut, perusahaan perlu memastikan titik pasokan dari peternak sekaligus menyiapkan pasar yang mampu menerima hasil pembelian.

Penentuan lokasi pasokan dan saluran distribusi juga menjadi bagian dari upaya agar program dapat menjangkau peternak mikro dan kecil yang menjadi prioritas pemerintah.

Peternak Berharap Program Penyerapan Telur Berlanjut

Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso, mengapresiasi langkah Perum Bulog dan ID FOOD dalam memperkuat penyerapan telur ayam ras dari peternak.

Yudianto berharap program tersebut tidak hanya berlangsung hingga November 2026, tetapi dapat terus dikembangkan pada periode berikutnya.

Menurutnya, perluasan penyerapan telur dapat diarahkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan pasar, mulai dari konsumsi rumah tangga, kebutuhan industri, hingga program pemerintah.

Keberlanjutan program dinilai penting agar peternak memperoleh akses pasar yang lebih stabil dan tidak hanya mendapatkan dukungan ketika harga telur mengalami tekanan.

Sementara itu, Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera, Suwardi, mendorong agar pelaksanaan penyerapan telur segera diperluas ke berbagai wilayah sentra produksi.

Suwardi menilai keterlibatan koperasi menjadi faktor penting karena dapat membantu menghubungkan peternak dengan pembeli, terutama BUMN pangan.

Kepastian pembelian juga diharapkan dapat membantu peternak mempertahankan kegiatan usaha ketika harga jual telur belum sepenuhnya mampu menutup biaya produksi.

Pemerintah Perkuat Akses Pasar dan Pendapatan Peternak Kecil

Kementerian Pertanian menempatkan percepatan penyerapan telur senilai Rp30 miliar sebagai salah satu langkah untuk menjaga keberlangsungan usaha peternakan nasional.

Program tersebut diharapkan dapat memperbaiki kondisi pemasaran telur ayam ras sekaligus membantu menstabilkan harga di tingkat produsen.

Pelaksanaan pembelian melalui Bulog dan ID FOOD akan diselaraskan dengan ketersediaan pasokan, kebutuhan pasar, serta kondisi harga di masing-masing sentra produksi.

Pemerintah juga mendorong keterlibatan koperasi dan asosiasi peternak agar penyerapan dapat menjangkau kelompok usaha mikro dan kecil secara lebih luas.

Melalui koordinasi antara Kementan, BUMN pangan, lembaga pemerintah terkait, dan organisasi peternak, program tersebut diharapkan mampu mengurangi tekanan harga sekaligus memperkuat pendapatan dan keberlangsungan usaha peternak telur ayam ras di Indonesia.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026