HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat 1,60 Persen ke Level 4.998, Hasil Pemilu Paruh Waktu AS dan Data Ekonomi Indonesia Jadi Sorotan Investor

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Menguat 1,60 Persen ke Level 4.998, Hasil Pemilu Paruh Waktu AS dan Data Ekonomi Indonesia Jadi Sorotan Investor
Foto: (Sumber :Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (20/10/2026). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nz/pri..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat pada pembukaan perdagangan Kamis (5/11/2026), seiring sentimen positif dari bursa global setelah hasil pemilihan umum paruh waktu (midterm) Amerika Serikat (AS) memengaruhi prospek pasar keuangan dan perekonomian dunia.

IHSG dibuka naik 78,57 poin atau 1,60 persen ke posisi 4.998,34, sedangkan indeks saham unggulan LQ45 menguat 9,16 poin atau 1,83 persen ke level 510,40.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan pergerakan IHSG masih akan dipengaruhi perkembangan pasar global, terutama penguatan bursa saham Amerika Serikat, pergerakan harga komoditas, serta dinamika nilai tukar dolar AS.

“Secara teknikal diperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 4.800-5.000. Penguatan signifikan indeks di bursa Wall Street, koreksi harga minyak mentah dan dolar AS, serta rebound-nya harga emas, berpotensi akan menjadi sentimen positif,” ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu AS Jadi Sentimen Positif

Ratna menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mendorong sentimen positif pasar global adalah kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu Amerika Serikat.

Partai Demokrat dilaporkan berhasil memperoleh mayoritas kursi di Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat AS, sekaligus memenangkan pemilihan gubernur di sejumlah negara bagian penting, termasuk Texas.

Menurut Ratna, sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menerima hasil pemilu tersebut turut membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian politik.

Sebelumnya, pelaku pasar global cenderung mengambil sikap risk off atau mengurangi kepemilikan aset berisiko sambil menunggu kepastian hasil pemilu.

"Hal itu telah menghilangkan risiko ketidakpastian politik yang sempat membayangi Bursa Wall Street," ujar Ratna.

Ia menilai kemenangan Partai Demokrat berpotensi mengubah dinamika kebijakan pemerintahan Trump, khususnya dalam bidang fiskal, perdagangan internasional, dan hubungan geopolitik.

Hasil pemilu tersebut juga diperkirakan dapat membatasi ruang gerak pemerintah AS dalam menerapkan sejumlah agenda ekonomi, termasuk kebijakan tarif perdagangan.

Perubahan arah kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi global, pergerakan dolar AS, serta sentimen investor di berbagai pasar keuangan.

Namun, Ratna mengingatkan bahwa kemenangan Partai Demokrat juga menimbulkan kekhawatiran mengenai kemungkinan bertambahnya pembatasan terhadap pembangunan pusat data di Amerika Serikat.

“Selain itu sejarah menunjukkan bahwa pasar cenderung berkinerja baik di bawah pemerintahan yang terbagi di AS, di mana lebih sedikit kebijakan dan regulasi yang dapat mengganggu prospek bisnis,” ujar Ratna.

Meski dinamika politik AS mengalami perubahan, kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve tetap bergantung pada perkembangan indikator ekonomi.

"Namun, arah kebijakan moneter The Fed tetap akan ditentukan oleh kondisi inflasi dan tenaga kerja," ujar Ratna.

Investor Tunggu Data Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal III-2026

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 yang dijadwalkan diumumkan pada Kamis (5/11/2026).

Ratna memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kuartalan mencapai 1,3 persen atau quarter on quarter (qoq) pada kuartal III-2026.

Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 yang tercatat sebesar 3,73 persen secara kuartalan.

Sementara secara tahunan, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,2 persen atau year on year (yoy) pada kuartal III-2026, dibandingkan 5,29 persen pada kuartal sebelumnya.

Menurut Ratna, realisasi pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi memberikan tekanan terhadap pasar saham.

Kondisi tersebut dapat memperkuat kekhawatiran investor mengenai perlambatan ekonomi domestik dan prospek kinerja perusahaan tercatat atau emiten.

Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi berpotensi menjadi pendorong penguatan IHSG.

"Sebaliknya, realisasi yang lebih baik dapat menjadi katalis positif bagi pasar dan memperkuat keyakinan investor terhadap ketahanan fundamental ekonomi domestik," ujar Ratna.

Bursa Wall Street dan Eropa Kompak Menguat

Sentimen positif dari hasil pemilu Amerika Serikat turut tercermin pada pergerakan sejumlah indeks saham utama dunia dalam perdagangan Rabu (4/11/2026).

Di bursa Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan sebesar 3,03 persen, disusul S&P 500 yang menguat 1,58 persen dan Nasdaq Composite naik 1,44 persen.

Penguatan juga terjadi di bursa saham Eropa dengan indeks Euro Stoxx 50 meningkat 2,32 persen dan indeks FTSE 100 Inggris naik 1,79 persen.

Sementara itu, indeks DAX Jerman menguat 2,22 persen dan indeks CAC 40 Prancis mencatatkan kenaikan sebesar 1,96 persen.

Pergerakan positif bursa global tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam perdagangan saham Indonesia.

Bursa Asia Bergerak Bervariasi, IHSG Dekati Level 5.000

Pada perdagangan Kamis pagi, mayoritas bursa saham regional Asia turut mencatatkan penguatan meskipun beberapa indeks masih mengalami tekanan.

Indeks Hang Seng Hong Kong menguat 2,77 persen ke posisi 24.581,95, sedangkan indeks Kuala Lumpur naik 1,12 persen ke level 1.634,62.

Indeks Shanghai mencatatkan kenaikan 0,12 persen ke posisi 3.690,74, sementara indeks Straits Times Singapura menguat 0,33 persen ke level 5.286,99.

Berbeda dengan mayoritas bursa Asia, indeks Nikkei Jepang melemah 0,33 persen ke posisi 60.984,86.

Di tengah pergerakan tersebut, IHSG berhasil mengawali perdagangan di zona hijau dan mendekati level psikologis 5.000.

Meski demikian, Ratna memperkirakan IHSG secara teknikal masih berpotensi bergerak dalam rentang 4.800 hingga 5.000, dengan perkembangan ekonomi domestik dan kebijakan global menjadi faktor yang perlu dicermati investor.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026