HOME  ⁄  Ekonomi

Menperin Sarmuji Dorong Hilirisasi Sagu Jadi Mi hingga Bioetanol untuk Perkuat Kedaulatan Pangan Indonesia

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Menperin Sarmuji Dorong Hilirisasi Sagu Jadi Mi hingga Bioetanol untuk Perkuat Kedaulatan Pangan Indonesia
Foto: (Sumber :Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji (kedua kanan) memberi keterangan kepada awak media, usai kegiatan Sago Business Forum 2026, di Jakarta, Kamis (5/11/2026). ANTARA/Harianto.)

Pantau - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mendorong percepatan hilirisasi sagu nasional untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, memperkuat industri pengolahan, menarik investasi, serta mendukung diversifikasi pangan menuju kemandirian dan kedaulatan pangan Indonesia.

Sarmuji menilai sagu memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi, mulai dari makanan alternatif pengganti sumber karbohidrat konvensional hingga bahan baku industri nonpangan.

Pernyataan tersebut disampaikan Sarmuji saat membuka kegiatan Sago Business Forum 2026 di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

"Sagu kita sedemikian banyak, ini adalah tanaman asli Indonesia penghasil pati yang memiliki potensi besar sebagai sumber bahan baku makanan, karbohidrat alternatif," kata Sarmuji.

Menurutnya, pengembangan industri sagu perlu diarahkan pada pengolahan produk turunan agar manfaat ekonominya tidak hanya berhenti pada penjualan bahan mentah.

Menperin Dorong Sagu Jadi Sumber Karbohidrat Alternatif

Sarmuji menjelaskan bahwa sagu merupakan tanaman asli Indonesia yang menghasilkan pati dalam jumlah besar dan berpotensi menjadi sumber karbohidrat alternatif bagi masyarakat.

Komoditas tersebut memiliki karakteristik bebas gluten sehingga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk pangan sesuai kebutuhan konsumen.

Menurut Menperin, potensi sagu perlu dimanfaatkan untuk memperluas pilihan sumber pangan nasional yang selama ini banyak bertumpu pada beras.

Pengembangan produk berbasis sagu juga dinilai dapat membuka peluang pasar baru bagi industri pengolahan pangan dalam negeri.

Sarmuji menegaskan bahwa peningkatan pemanfaatan sagu tidak cukup dilakukan melalui produksi bahan baku, tetapi perlu disertai inovasi dan pengembangan produk.

Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi sagu sekaligus memperkuat daya saing industri berbasis komoditas lokal.

Sagu Bisa Diolah Menjadi Mi, Beras Analog, Pasta, dan Biskuit

Kementerian Perindustrian melihat peluang pengembangan sagu melalui berbagai produk pangan olahan yang dapat dipasarkan kepada masyarakat.

Sarmuji menyebut sagu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan mi, beras analog, pasta, biskuit, serta berbagai produk makanan lainnya.

Beras analog merupakan produk pangan yang dibentuk menyerupai beras dengan menggunakan bahan baku selain beras konvensional, termasuk pati sagu.

Pengembangan berbagai produk tersebut menjadi bagian dari strategi hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sagu.

Selain memperluas pilihan makanan, pengolahan sagu juga membuka peluang pengembangan industri yang memanfaatkan sumber daya lokal.

Menperin berharap inovasi produk pangan berbasis sagu dapat mendorong masyarakat kembali menjadikan komoditas tersebut sebagai salah satu pilihan konsumsi.

Hilirisasi Sagu Juga Menyasar Kemasan Ramah Lingkungan dan Bioetanol

Selain dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan, sagu memiliki potensi pengembangan pada sektor industri nonpangan.

Sarmuji menyebut komoditas tersebut dapat diolah menjadi bahan baku kemasan berbasis hayati (bio-packaging) serta bioetanol.

Pengembangan produk nonpangan tersebut dinilai dapat memperluas pemanfaatan sagu dan meningkatkan nilai ekonominya.

Menurut Menperin, hilirisasi sagu perlu dilakukan secara menyeluruh agar berbagai bagian dan hasil samping pengolahannya dapat dimanfaatkan.

Pendekatan tersebut juga sejalan dengan penerapan ekonomi sirkular yang menekankan penggunaan kembali sumber daya dan pengurangan limbah.

Sarmuji menjelaskan limbah padat maupun cair dari proses pengolahan sagu masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku produk lain.

Limbah sagu, misalnya, dapat diolah menjadi pakan ternak maupun bahan bakar biogas.

Pemanfaatan hasil samping tersebut diharapkan mendukung pengembangan industri pengolahan sagu dengan prinsip minim limbah.

Seram Bagian Timur hingga Kepulauan Meranti Berpeluang Jadi Pusat Industri Sagu

Sarmuji mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan industri sagu karena didukung sumber daya yang melimpah.

Menurutnya, Indonesia mempunyai sumber daya sagu terbesar di dunia dengan wilayah persebaran yang luas.

Sejumlah daerah penghasil sagu dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai pusat industri pengolahan berbasis komoditas lokal.

Wilayah tersebut antara lain Seram Bagian Timur, Kepulauan Meranti, Nias, dan Mentawai.

Pengembangan industri di daerah penghasil sagu menjadi salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sebelum dipasarkan.

Selain itu, penguatan industri pengolahan di wilayah produksi dapat mendukung pemanfaatan potensi ekonomi daerah.

Sarmuji menilai pengembangan sagu membutuhkan dukungan investasi, riset, serta inovasi agar produk turunannya semakin beragam.

Sagu Didorong Perkuat Swasembada dan Kedaulatan Pangan

Menperin menegaskan bahwa hilirisasi sagu merupakan bagian dari upaya memperkuat diversifikasi pangan nasional.

Menurutnya, ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia tidak seharusnya hanya bergantung pada satu komoditas, khususnya beras.

Sagu dinilai dapat menjadi salah satu sumber karbohidrat alternatif yang mendukung upaya memperluas pilihan pangan masyarakat.

"Ini akan memperkuat usaha kita untuk berswasembada pangan, menguatkan kedaulatan pangan kita. Jadi pangan bukan hanya produk beras," katanya pula.

Sarmuji berharap pengembangan industri sagu dapat meningkatkan pemanfaatan komoditas tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga menekankan pentingnya riset untuk menghasilkan berbagai produk inovatif yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

"Dengan pemanfaatan yang luas, dengan riset yang baik, dengan macam-macam produk sagu, sagu bisa kembali menjadi opsi, bahkan bisa menjadi opsi yang lebih baik dari bahan pangan lainnya," katanya lagi.

Melalui penguatan hilirisasi, investasi, dan pengembangan produk turunan, Kementerian Perindustrian mendorong sagu menjadi komoditas bernilai tambah yang mendukung pertumbuhan industri sekaligus memperkuat kedaulatan pangan nasional.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026