HOME  ⁄  Ekonomi

BEI dan PHEI Luncurkan Indonesia ESG Bond Index dengan 69 Obligasi dan Sukuk, Dorong Investasi Berkelanjutan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

BEI dan PHEI Luncurkan Indonesia ESG Bond Index dengan 69 Obligasi dan Sukuk, Dorong Investasi Berkelanjutan
Foto: (Sumber :PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) meluncurkan Indonesia ESG Bond Index di Main Hall BEI, Jakarta, Jumat (6/11/2026). (ANTARA/ Muhammad Heriyanto).)

Pantau - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) resmi meluncurkan Indonesia ESG Bond Index yang mencakup 69 seri obligasi dan sukuk sebagai acuan untuk mengukur kinerja investasi berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

Peluncuran indeks tersebut berlangsung di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (6/11/2026), sebagai bagian dari pengembangan instrumen investasi di pasar modal Indonesia.

Direktur Utama PHEI M. Kadhafi Mukrom mengatakan indeks tersebut dirancang untuk membantu investor memantau kinerja Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) yang memenuhi kriteria pemeringkatan tertentu.

Indonesia ESG Bond Index Mencakup 69 Seri Obligasi dan Sukuk

Kadhafi menjelaskan bahwa sebanyak 69 seri obligasi dan sukuk telah memenuhi persyaratan untuk masuk dalam Indonesia ESG Bond Index.

Jumlah tersebut terdiri atas 37 seri dalam kategori reguler dan 32 seri dalam kategori premium.

“Ada 37 untuk seri yang biasa, kalau yang premium ada 32. Obligasinya masuk kategori Triple AAA dan Triple BBB Minus, yang masuk kategori itu yang kami masukkan di indeks ini," ujar Kadhafi saat diwawancarai wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Jumat.

Menurut Kadhafi, pemilihan obligasi dan sukuk dalam indeks dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, termasuk pemeringkatan instrumen.

Indeks tersebut diharapkan dapat menjadi tolok ukur bagi investor dan pengelola investasi dalam mengevaluasi kinerja portofolio obligasi maupun sukuk berbasis ESG.

Selain berfungsi sebagai acuan pengukuran, kehadiran indeks tersebut juga membuka peluang pengembangan produk investasi baru yang menggunakan indeks sebagai dasar pengelolaannya.

BEI dan PHEI Hadirkan Dua Indeks untuk Investor

Indonesia ESG Bond Index terdiri atas dua jenis indeks yang memiliki pendekatan pengukuran berbeda.

Kedua indeks tersebut adalah ID ESG Bond Total Return Index dan ID ESG Bond Clean Price Index.

ID ESG Bond Total Return Index digunakan sebagai acuan pengukuran kinerja dengan memperhitungkan komponen imbal hasil investasi.

Sementara itu, ID ESG Bond Clean Price Index menjadi acuan untuk memantau pergerakan harga bersih obligasi dan sukuk yang termasuk dalam indeks.

Kehadiran kedua indeks tersebut dirancang untuk melengkapi pilihan acuan bagi pelaku pasar modal dalam menilai perkembangan investasi berbasis ESG.

BEI dan PHEI juga menargetkan indeks tersebut dapat mendukung pengembangan produk investasi berbasis indeks di pasar modal Indonesia.

PHEI Prediksi Pasar Obligasi dan Sukuk Tetap Tumbuh hingga 2027

Selain memperkenalkan indeks baru, PHEI menyampaikan pandangannya mengenai prospek pasar obligasi dan sukuk korporasi di Indonesia.

Kadhafi menilai pasar surat utang korporasi masih memiliki peluang pertumbuhan hingga 2027 seiring kebutuhan perusahaan terhadap sumber pendanaan di luar perbankan.

Menurutnya, perkembangan likuiditas dan frekuensi transaksi di pasar obligasi menjadi salah satu indikator yang menunjukkan peluang pertumbuhan tersebut.

“Kami melihat prospek ke depan akan terus meningkat. Kalau kita lihat dari sisi likuiditas, frekuensi transaksi di pasar obligasi terus mengalami pertumbuhan. Ini salah satu indikator ke depan bahwa pasar obligasi kita akan terus memiliki prospek yang baik,” ujar Kadhafi.

Ia menjelaskan bahwa perusahaan masih membutuhkan penerbitan obligasi dan sukuk untuk mendukung kegiatan usaha serta memenuhi kebutuhan pembiayaan.

Meski demikian, Kadhafi mengingatkan bahwa perubahan tingkat imbal hasil dan suku bunga tetap menjadi tantangan bagi perkembangan pasar surat utang.

Kenaikan Suku Bunga The Fed Berpotensi Tekan Biaya Pendanaan

Direktur PHEI Djoko Saptono turut menyoroti perkembangan kebijakan moneter global yang dapat memengaruhi pasar obligasi Indonesia.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah potensi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, pada akhir 2026.

Menurut Djoko, kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya pendanaan bagi perusahaan yang membutuhkan pembiayaan melalui penerbitan surat utang.

Kondisi tersebut perlu diperhatikan oleh pelaku pasar karena dapat memengaruhi keputusan penerbitan obligasi dan sukuk.

Namun, Djoko menilai kebutuhan pendanaan perusahaan masih membuka peluang pertumbuhan pasar surat utang.

“Tapi kami melihat indikator, masih ada pertumbuhan, masih ada peluang. Karena, perusahaan-perusahaan pun masih membutuhkan pendanaan untuk refinancing dan sebagainya,” jelas Djoko.

Kebutuhan pembiayaan kembali utang atau refinancing menjadi salah satu faktor yang dinilai dapat menopang aktivitas penerbitan obligasi dan sukuk korporasi.

Melalui peluncuran Indonesia ESG Bond Index, BEI dan PHEI menyediakan acuan tambahan bagi investor untuk memantau kinerja surat utang berbasis ESG sekaligus mendukung pengembangan instrumen investasi di pasar modal nasional.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026