
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil berbalik menguat pada penutupan perdagangan Jumat (6/11/2026), meskipun mayoritas bursa saham di kawasan Asia mengalami tekanan akibat sentimen negatif pasar global.
IHSG ditutup naik 20,17 poin atau 0,40 persen ke posisi 5.050,43, sedangkan indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan menguat 4,64 poin atau 0,90 persen ke level 518,28.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan IHSG sempat mengalami tekanan pada awal perdagangan akibat koreksi tajam indeks saham di Wall Street dan sejumlah bursa Asia, terutama pada saham sektor teknologi.
“Pada awal perdagangan IHSG dibuka melemah akibat sentimen negatif dari koreksi signifikan indeks di bursa Wall Street dan indeks di bursa Asia akibat tekanan pada saham sektor teknologi,” ujar Ratna.
Selain tekanan pasar global, pelemahan IHSG pada awal perdagangan turut dipengaruhi aksi ambil untung (profit taking) investor setelah indeks mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan sebelumnya.
IHSG Berbalik Menguat pada Sesi Kedua Perdagangan
Pergerakan IHSG sepanjang perdagangan Jumat menunjukkan perubahan arah setelah indeks dibuka melemah dan bertahan di zona negatif hingga akhir sesi pertama.
Memasuki sesi kedua, IHSG mulai bergerak ke wilayah positif dan berhasil mempertahankan penguatan hingga penutupan perdagangan.
Berdasarkan klasifikasi Indeks Sektoral IDX-IC, hanya dua sektor saham yang mencatat penguatan, sementara sembilan sektor lainnya mengalami pelemahan.
Sektor keuangan menjadi penopang utama penguatan dengan kenaikan sebesar 1,04 persen, disusul sektor barang konsumen primer yang meningkat 0,50 persen.
Sebaliknya, sektor barang baku mengalami penurunan terdalam sebesar 2,67 persen, diikuti sektor teknologi yang melemah 2,20 persen serta sektor transportasi dan logistik yang turun 1,16 persen.
Saham-saham yang mencatat kenaikan harga terbesar atau top gainers meliputi AIMS, POLU, SMDM, KSIX, dan DUTI.
Sementara itu, saham yang mengalami penurunan harga terbesar atau top losers terdiri atas TAXI, NAYZ, LFLO, KREN, dan PPRO.
Aktivitas perdagangan saham di BEI tercatat mencapai sekitar 1,09 juta kali transaksi dengan volume perdagangan sebanyak 46,78 miliar lembar saham.
Total nilai transaksi perdagangan mencapai Rp10,31 triliun dengan 231 saham menguat, 440 saham melemah, dan 291 saham tidak mengalami perubahan harga.
Bursa Asia Kompak Melemah, Nikkei dan Kospi Anjlok Lebih dari 6 Persen
Mayoritas bursa saham utama di kawasan Asia mengalami pelemahan cukup dalam seiring meningkatnya tekanan terhadap saham-saham teknologi di pasar global.
Indeks Nikkei Jepang anjlok 6,04 persen ke posisi 57.389,00, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan merosot 6,02 persen ke level 5.059,69.
Indeks Shanghai China turut melemah 1,10 persen ke posisi 3.649,18, sementara indeks Hang Seng Hong Kong turun 1,27 persen menjadi 24.481,86.
Tekanan juga melanda indeks Straits Times Singapura yang mengalami penurunan sebesar 2,17 persen hingga berada pada posisi 5.181,42.
Di tengah pelemahan mayoritas bursa Asia tersebut, IHSG berhasil mencatat pembalikan arah positif meskipun jumlah saham yang mengalami penurunan masih lebih banyak dibandingkan saham yang menguat.
Harga Minyak Dunia Turun, Konflik AS dan Iran Jadi Perhatian
Dari perkembangan internasional, harga minyak dunia kembali mengalami koreksi hingga berada di bawah level 100 dolar AS per barel seiring meningkatnya harapan penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Harapan tersebut muncul setelah Partai Demokrat memenangkan pemilihan umum paruh waktu (midterm) di Amerika Serikat yang turut memengaruhi sentimen pasar terhadap perkembangan geopolitik.
Sementara itu, Iran dilaporkan sedang meninjau proposal yang diajukan mediator terkait penyelesaian persoalan program nuklir negara tersebut.
Meski mempertimbangkan proposal tersebut, Iran tetap menginginkan pencabutan blokade Angkatan Laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhannya.
Iran juga menuntut pelonggaran sanksi ekonomi serta pembebasan aset-aset miliknya yang selama ini dibekukan sebagai bagian dari upaya penyelesaian konflik.
Perkembangan hubungan kedua negara menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor karena berpotensi memengaruhi pergerakan harga minyak dunia dan sentimen pasar keuangan global.
Cadangan Devisa Indonesia Naik, Pemerintah Siapkan Stimulus Rp1,28 Triliun
Dari dalam negeri, pelaku pasar turut mencermati perkembangan sejumlah indikator ekonomi Indonesia, termasuk peningkatan cadangan devisa pada Oktober 2026.
Cadangan devisa Indonesia tercatat naik dari 146,3 miliar dolar AS pada September 2026 menjadi sekitar 146,8 miliar dolar AS pada Oktober 2026.
Sementara itu, pertumbuhan harga rumah pada kuartal III-2026 menunjukkan perlambatan dibandingkan periode sebelumnya.
Indeks harga rumah meningkat sebesar 0,58 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III-2026, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan sebesar 0,69 persen pada kuartal II-2026.
Selain perkembangan indikator ekonomi, pemerintah Indonesia tengah menyiapkan alokasi anggaran sebesar Rp1,28 triliun untuk merealisasikan Program Satu Orang Satu Rekening.
Program tersebut menjadi bagian dari paket stimulus ekonomi menjelang akhir tahun 2026 yang turut mendapat perhatian pelaku pasar di tengah dinamika perdagangan saham nasional.
Phintraco Sekuritas Proyeksikan IHSG Berpeluang Menguji Level 5.200
Menjelang perdagangan pekan berikutnya, Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan setelah berhasil berbalik positif pada penutupan Jumat.
Ratna memperkirakan IHSG memiliki peluang menguji kisaran level 5.100 hingga 5.200 apabila momentum penguatan dapat dipertahankan.
Meski demikian, pergerakan indeks masih berpotensi dipengaruhi perkembangan bursa saham global, khususnya tekanan pada saham sektor teknologi dan perubahan sentimen investor.
Perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran, pergerakan harga minyak dunia, serta kondisi ekonomi domestik juga menjadi faktor yang perlu dicermati dalam perdagangan berikutnya.
Selain itu, respons investor terhadap kebijakan stimulus pemerintah dan perkembangan indikator ekonomi nasional diperkirakan turut memengaruhi arah pergerakan pasar saham Indonesia.
Dengan posisi penutupan IHSG di level 5.050,43, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada peluang penguatan menuju kisaran 5.100 hingga 5.200 sebagaimana diproyeksikan Phintraco Sekuritas, di tengah risiko volatilitas pasar global.
- Penulis :
- Leon Weldrick




