
Pantau - Pemerintah China sedang memproses pembukaan kembali impor produk akuatik dari Jepang, setelah hampir dua tahun memberlakukan larangan sebagai respons terhadap pelepasan air limbah olahan dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi.
Langkah ini menjadi sinyal positif menuju penyelesaian sengketa bilateral yang sempat memicu ketegangan perdagangan antara dua kekuatan ekonomi Asia tersebut.
Pembicaraan Teknis dan Jaminan Keamanan
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyampaikan bahwa otoritas China akan mempelajari permintaan Jepang berdasarkan hukum domestik dan aturan perdagangan internasional.
Pertemuan lanjutan antara Bea Cukai China dan institusi Jepang berlangsung di Beijing pada Rabu, 28 Mei 2025, membahas aturan teknis dan standar keamanan produk.
Hasil pemantauan internasional serta uji laboratorium independen oleh China menunjukkan tidak adanya kelainan atau kandungan zat berbahaya dalam sampel air laut sekitar PLTN Fukushima.
Jepang pun menjanjikan langkah-langkah konkret untuk menjamin kualitas dan keamanan produk akuatiknya sesuai dengan standar yang ditetapkan China.
Imbas Larangan dan Harapan Industri Perikanan
Larangan ekspor diberlakukan sejak 24 Agustus 2023, sebagai tanggapan atas keputusan Jepang membuang air olahan dari PLTN Fukushima ke laut.
Meskipun Jepang menegaskan bahwa air tersebut telah diolah dan lebih aman dari standar internasional, langkah tersebut memicu protes dari nelayan domestik serta kelompok masyarakat di China dan Korea Selatan.
Uji laboratorium China pada Februari 2025 memastikan tidak ditemukan tritium, cesium-134, cesium-137, maupun strontium-90 dalam air laut sekitar lokasi PLTN.
China saat ini masih memberlakukan larangan terhadap produk pertanian dan perikanan dari 10 prefektur Jepang, termasuk Fukushima, Miyagi, dan Tokyo.
Namun, China menyatakan bahwa putaran terbaru pertukaran teknis telah mencapai kemajuan substansial.
Dampak Ekonomi dan Kompensasi
Menteri Pertanian Jepang Shinjiro Koizumi menyebut bahwa ekspor akan dilanjutkan setelah penyelesaian dokumen administratif.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jepang Takeshi Iwaya menyambut baik langkah China sebagai awal penyelesaian masalah jangka panjang antarnegara.
Sebelum larangan diberlakukan, Jepang mengekspor lebih dari seperlima produk makanan lautnya ke China—menjadikannya pasar strategis bagi industri perikanan Negeri Sakura.
Tokyo Electric Power Company Holdings juga telah menyatakan kesediaannya memberikan kompensasi kepada pelaku usaha Jepang yang terdampak.
PLTN Fukushima sebelumnya mengalami kerusakan berat akibat gempa dan tsunami tahun 2011, dan mulai membuang air olahan ke laut pada Agustus 2023 guna mencegah risiko kebocoran yang lebih besar.
- Penulis :
- Balian Godfrey
- Editor :
- Balian Godfrey








