
Pantau - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan perairan barat Sumatera sebagai fokus pengembangan Kawasan Konservasi Perairan Skala Besar atau Large Scale Marine Protected Area (LSMPA) guna meningkatkan efektivitas pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.
Penguatan Kebijakan dan Integrasi Pengelolaan
Pengembangan LSMPA dilakukan melalui integrasi kebijakan perikanan agar pengelolaan sumber daya lebih terukur dan efisien.
Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir Ahli Madya Direktorat Jenderal Pengelolaan Laut KKP, Cora Mustika, menyatakan bahwa pendekatan ini memperluas cakupan kawasan sekaligus memastikan pengelolaan berbasis data.
"LSMPA merupakan kawasan konservasi laut berskala sangat besar seluas 121.691 kilometer persegi yang mencakup laut terbuka, kolom air, hingga ekosistem laut dalam," ungkapnya.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Simposium Data dan Informasi LSMPA di Medan, Sumatera Utara pada 22-23 April.
Ia menambahkan, "Pengembangan LSMPA di barat Sumatera di atas 12 mil laut yang masuk pada wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) perlu dibarengi dengan penguatan regulasi, integrasi kebijakan perikanan, serta sistem pemantauan dan pendampingan nelayan, agar pengelolaan sumber daya benar-benar terukur dan berkelanjutan."
Penguatan kelembagaan dinilai krusial mengingat luasnya cakupan LSMPA yang melibatkan berbagai sektor.
Integrasi diperlukan antara pemerintah pusat, daerah, masyarakat, lembaga riset, serta sistem pengawasan terpadu dalam pengelolaannya.
Peran Strategis dan Dasar Ilmiah LSMPA
LSMPA berfungsi melindungi habitat laut dalam yang kaya keanekaragaman hayati sekaligus membantu pemulihan stok ikan melalui efek limpahan ke wilayah sekitar.
Dalam skala global, kawasan ini berperan menjaga keseimbangan ekosistem laut termasuk siklus karbon dan nutrien.
Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia, Victor Nikijuluw, menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dalam pengembangan LSMPA.
"Kami telah mengintegrasikan data oseanografi, keanekaragaman hayati, dan perikanan untuk mengidentifikasi habitat kunci, jalur migrasi, dan area produktivitas tinggi. Analisis ini menunjukkan keterhubungan kuat antarhabitat, sehingga kawasan perlu dikelola sebagai satu sistem untuk melindungi spesies seperti tuna, hiu, paus, marlin, hingga penyu, sekaligus menjaga area pemijahan dan pembesaran, serta habitat prioritas seperti terumbu kerang dangkal dan laut dalam," ujarnya.
Wilayah barat Sumatera diketahui merupakan bagian penting dari Samudra Hindia timur dengan kondisi lingkungan yang dinamis.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh angin muson, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD), dan El Nino yang berdampak pada kesuburan perairan.
Perubahan kondisi laut tersebut turut memengaruhi distribusi ikan dan hasil tangkapan nelayan di wilayah tersebut.
Pada periode tertentu, peningkatan kesuburan perairan mendorong ketersediaan pakan alami yang berdampak pada peningkatan hasil tangkapan.
- Penulis :
- Leon Weldrick








