Pantau Flash
HOME  ⁄  Geopolitik

Pasukan Perdamaian PBB Ditembaki dari Posisi Israel di Lebanon Selatan, UNIFIL Protes Keras

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Pasukan Perdamaian PBB Ditembaki dari Posisi Israel di Lebanon Selatan, UNIFIL Protes Keras
Foto: (Sumber: Personel Satgas TNI Kontingen Garuda UNIFIL TA 2024 mengikuti upacara penyambutan di Lapangan PRIMA Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (24/4/2025). Sebanyak 1.087 personel Satgas TNI Kontingen Garuda telah kembali ke Tanah Air dari penugasan menjaga keamanan serta perdamaian pada misi UNIFIL di wilayah Lebanon dengan memperoleh sejumlah penghargaan internasional. /ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/nym.)

Pantau - Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) melaporkan bahwa patroli penjaga perdamaian mereka ditembaki dari posisi militer Israel saat menjalankan tugas di dekat Kafer Shouba, Lebanon selatan, pada Jumat, 2 Januari 2026.

Dalam pernyataannya, UNIFIL mengungkapkan bahwa sekitar pukul pagi, 15 tembakan senjata ringan menghantam area sekitar 50 meter dari posisi patroli pertama mereka.

Kurang dari 20 menit kemudian, patroli kedua yang juga berada di wilayah yang sama melaporkan sekitar 100 peluru senapan mesin menghantam area dengan jarak serupa.

UNIFIL memastikan bahwa semua tembakan tersebut berasal dari posisi militer Israel di selatan Garis Biru, batas yang ditetapkan antara Lebanon dan Israel.

UNIFIL: Tembakan Langgar Prosedur dan Resolusi PBB

UNIFIL menegaskan bahwa tidak ada korban luka maupun kerusakan dari dua insiden tersebut.

Mereka juga menekankan bahwa patroli yang dilakukan telah dikoordinasikan sebelumnya dengan pihak Israel sesuai prosedur standar, khususnya untuk area sensitif di sekitar Garis Biru.

“Pagi ini, pasukan penjaga perdamaian yang berpatroli di dekat Kafer Shouba melaporkan 15 tembakan senjata ringan yang mengenai jarak tidak lebih dari 50 meter dari mereka,” ungkap UNIFIL dalam pernyataan resminya.

UNIFIL telah mengirimkan permintaan resmi agar tembakan dihentikan melalui jalur komunikasi yang tersedia antara kedua pihak.

UNIFIL juga menyatakan keprihatinan atas meningkatnya frekuensi insiden serupa yang dinilai mulai menjadi tren berbahaya.

Mereka menegaskan bahwa serangan terhadap atau di sekitar pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak militer Israel terkait tuduhan tersebut.

Ketegangan Pasca-Gencatan Senjata Masih Tinggi

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, Stephane Dujarric, sebelumnya menyebut insiden penembakan terhadap pasukan perdamaian sebagai peristiwa “sangat berbahaya”.

Sejak diberlakukannya gencatan senjata antara Lebanon dan Israel pada November 2024, setelah lebih dari satu tahun konflik yang menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai sekitar 17.000 lainnya, ketegangan masih terus berlangsung.

Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat bahwa sejak masa gencatan senjata, setidaknya 335 orang tewas dan 973 lainnya terluka akibat serangan militer Israel.

Berdasarkan perjanjian gencatan senjata, militer Israel seharusnya telah sepenuhnya menarik diri dari Lebanon selatan pada Januari 2025.

Namun hingga awal 2026, penarikan tersebut baru dilakukan sebagian, dan Israel masih mempertahankan keberadaan militernya di lima pos perbatasan.

Penulis :
Gerry Eka