Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

UNRWA: Sebanyak 12.000 Anak-Anak Palestina Masih Jadi Pengungsi Paksa

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

UNRWA: Sebanyak 12.000 Anak-Anak Palestina Masih Jadi Pengungsi Paksa
Foto: (Sumber: Seorang anak berduka saat pemakaman seorang warga Palestina, yang tewas saat bentrok dengan pasukan Israel, di Tammun, Tepi Barat, Sulasa (16/11/2021). REUTERS/Mohamad Torokman/WSJ/cfo (REUTERS/MOHAMAD TOROKMAN))

Pantau - Badan PBB untuk Pengungsi Palestina atau UNRWA menyatakan lebih dari 12.000 anak Palestina hingga kini masih hidup sebagai pengungsi paksa akibat operasi militer Israel yang berlangsung di wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Operasi Militer dan Dampak Pengungsian

UNRWA menyampaikan bahwa lebih dari 12.000 anak masih berada dalam kondisi pengungsian paksa di Tepi Barat yang diduduki.

Pernyataan tersebut disampaikan UNRWA melalui platform media sosial X pada Minggu, 4 Januari 2026.

Pengungsian paksa anak-anak Palestina terjadi sebagai dampak dari operasi militer Israel yang masih berfokus di wilayah utara Tepi Barat.

Sejak 21 Januari 2025, tentara Israel melancarkan kampanye militer di Tepi Barat bagian utara.

Kampanye militer tersebut diawali di kamp pengungsi Jenin.

Operasi kemudian meluas ke kamp pengungsi Nur Shams.

Pasukan Israel juga memperluas operasi ke kamp pengungsi Tulkarem.

Tiga kamp pengungsi tersebut dilaporkan dikepung oleh pasukan Israel.

Pengepungan disertai dengan penghancuran infrastruktur secara luas.

Penghancuran tersebut meliputi rumah-rumah warga dan pertokoan.

Akibat operasi militer tersebut, sekitar 50.000 warga Palestina terpaksa mengungsi.

Program Pendidikan Darurat UNRWA

Menanggapi situasi tersebut, UNRWA meluncurkan program pendidikan darurat bagi anak-anak pengungsi.

Program pendidikan darurat tersebut mulai dijalankan pada Februari 2025.

UNRWA menyediakan layanan pendidikan melalui ruang belajar sementara.

Selain itu, pendidikan juga diberikan melalui sistem pengajaran daring.

UNRWA turut mendistribusikan materi pembelajaran mandiri bagi para siswa.

Dukungan psikososial juga diberikan kepada anak-anak yang terdampak konflik.

UNRWA mencatat sekitar 48.000 anak bersekolah di sekolah-sekolah yang dikelolanya.

Sekolah-sekolah tersebut tersebar di seluruh wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Dalam perkembangan lain, pasukan Israel dan pemukim ilegal dilaporkan telah membunuh sedikitnya 1.105 warga Palestina.

Korban tewas tersebut termasuk warga di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Hampir 11.000 warga Palestina dilaporkan mengalami luka-luka.

Sekitar 21.000 warga Palestina ditahan sejak Oktober 2023 berdasarkan data Palestina.

Mahkamah Internasional pada Juli tahun sebelumnya menyatakan bahwa pendudukan Israel atas wilayah Palestina adalah ilegal.

Mahkamah Internasional juga menyerukan evakuasi seluruh permukiman Israel di Tepi Barat.

Seruan evakuasi tersebut mencakup wilayah Yerusalem Timur.

Penulis :
Aditya Yohan