
Pantau - Militer Thailand menuding pasukan Kamboja telah melanggar kesepakatan gencatan senjata setelah terjadi penembakan mortir ke wilayah perbatasan Thailand pada Selasa, 6 Januari 2026.
Mortir Ditembakkan di Tengah Masa Gencatan Senjata
Insiden terjadi di kawasan Bukit 469, Chong Bok, Provinsi Ubon Ratchathani, yang berada di perbatasan antara Thailand dan Kamboja.
Komando Wilayah Angkatan Darat Kedua Thailand melaporkan bahwa satu prajurit Thailand mengalami luka ringan akibat terkena serpihan dari ledakan mortir.
"Setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut, dipastikan amunisi mortir itu ditembakkan dari Kamboja, yang mengakibatkan satu prajurit Thailand mengalami luka ringan akibat serpihan," ungkap pernyataan resmi dari militer Thailand.
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah kedua negara menyepakati gencatan senjata pada 27 Desember 2025, usai konflik yang berlangsung selama 20 hari.
Militer Thailand menyatakan bahwa tindakan Kamboja tersebut merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah dibuat.
Kamboja Akui Kesalahan, Thailand Beri Peringatan
Pihak Kamboja telah menghubungi militer Thailand dan mengakui bahwa penembakan tersebut merupakan sebuah kesalahan dalam operasi pasukan mereka.
"Unit setempat dihubungi pihak Kamboja, yang menyatakan bahwa insiden tersebut tidak disengaja, melainkan kesalahan yang terjadi dalam operasi personel mereka," jelas pernyataan dari pihak militer Thailand.
Meski menerima penjelasan tersebut, Thailand tetap memperingatkan Kamboja untuk lebih berhati-hati dalam operasi militer di kawasan perbatasan.
Militer Thailand juga menegaskan bahwa akan mengambil "langkah balasan defensif" jika insiden serupa kembali terjadi di masa mendatang.
Konflik Berkepanjangan di Perbatasan
Ketegangan antara Thailand dan Kamboja di wilayah perbatasan bukanlah hal baru.
Sejak Juli 2025, konflik bersenjata meletus dengan kedua negara saling menembakkan artileri dan melancarkan serangan udara.
Korban jiwa dilaporkan dari kedua belah pihak, termasuk dari kalangan warga sipil.
Situasi memanas tersebut akhirnya mereda setelah gencatan senjata darurat diumumkan pada Agustus 2025.
Pada Desember 2025, kedua negara menyepakati perjanjian resmi untuk mengakhiri konflik.
Namun, insiden terbaru ini menimbulkan kekhawatiran atas potensi terulangnya ketegangan di kawasan perbatasan.
- Penulis :
- Leon Weldrick








