
Pantau - Korea Utara menuduh Korea Selatan menerbangkan drone pengintai ke wilayah udaranya pada akhir pekan lalu, dan memperingatkan bahwa Seoul akan dipaksa membayar harga mahal atas meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea.
Dalam pernyataan yang dirilis oleh Staf Umum Tentara Korea Utara pada Jumat, 9 Januari 2026, insiden tersebut disebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara.
Kantor berita Korean Central News Agency (KCNA) melaporkan bahwa ini bukan kejadian pertama, dengan insiden serupa juga diklaim terjadi pada bulan September 2025.
"Seoul adalah musuh yang paling bermusuhan terhadap kami, yang sifatnya tidak akan pernah berubah, dan menjadi objek yang pasti akan kami hancurkan jika menyerang," bunyi pernyataan militer Korea Utara.
Drone Dijatuhkan Dekat Kaesong, Seoul Bantah Tudingan
Menurut laporan KCNA, militer Korea Utara mengklaim telah melacak sebuah drone yang terbang dari arah selatan ke utara, melintasi perbatasan di atas Kabupaten Kanghwa, Incheon, pada Minggu lalu.
Drone tersebut dikatakan berhasil dijatuhkan menggunakan perangkat peperangan elektronik di dekat kota Kaesong setelah sempat merekam sejumlah wilayah di Korea Utara.
KCNA juga menyebutkan bahwa drone tersebut dilengkapi perangkat pengintaian dan memiliki kemampuan terbang sejauh 156 kilometer dengan ketinggian hingga 300 meter serta durasi penerbangan selama tiga jam 10 menit.
Sebagai bukti, KCNA merilis foto-foto pesawat nirawak yang diklaim sebagai milik Korea Selatan.
Namun, Kementerian Pertahanan Korea Selatan secara tegas membantah tuduhan tersebut.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyerukan penyelidikan menyeluruh terhadap klaim tersebut dan tengah mengambil pendekatan diplomatik untuk meredakan ketegangan antar-Korea.
Tuduhan Berulang dan Retorika Permusuhan
Korea Utara juga menuding Korea Selatan melakukan provokasi sejak pemerintahan baru di Seoul mulai menjabat pada Juni 2025, dan menuduh bahwa drone sebelumnya digunakan untuk menyebarkan selebaran propaganda pada Oktober 2024.
Dalam insiden yang diklaim terjadi pada September 2025, militer Korea Utara menyatakan bahwa sebuah drone Korea Selatan berhasil mengumpulkan data sebelum dijatuhkan dengan serangan elektronik saat kembali dari Kaesong ke wilayah Selatan.
Meskipun belum ada konfirmasi independen atas klaim tersebut, tuduhan ini menunjukkan meningkatnya ketegangan di tengah upaya Presiden Lee Jae Myung mengubah pendekatan konfrontatif yang sebelumnya diterapkan oleh pendahulunya, Yoon Suk Yeol.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







