
Pantau - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dapat memicu perang, namun tidak akan mampu mengendalikan bagaimana konflik tersebut berakhir.
Pernyataan itu disampaikan Ghalibaf di Istanbul pada Jumat, 30 Januari 2026, menyusul meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington.
Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tetap terbuka untuk berunding sepanjang perundingan dilakukan secara sungguh-sungguh dan adil.
“Kami siap untuk bernegosiasi,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan Iran menolak perundingan yang dipaksakan melalui penggunaan kekuatan militer.
Ia menambahkan bahwa Iran tidak meyakini dialog semacam itu benar-benar diinginkan oleh Presiden Amerika Serikat.
Ghalibaf menuduh Washington telah merusak diplomasi dengan penggunaan kekuatan dan menyebut Amerika Serikat telah mengebom meja perundingan.
Pengeboman tersebut, menurutnya, terjadi dua hari sebelum putaran keenam pembicaraan dengan Iran dijadwalkan berlangsung.
Ia menegaskan Iran tidak akan terlibat dalam perundingan tanpa manfaat nyata bagi rakyatnya.
Ghalibaf menyatakan bahwa selama kepentingan ekonomi rakyat Iran tidak dijamin, maka tidak akan ada perundingan.
Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak menganggap mendikte sebagai bentuk negosiasi.
Menurutnya, pembicaraan yang dilakukan di bawah tekanan militer hanya akan memperburuk ketegangan dan memicu eskalasi konflik.
Ghalibaf menyampaikan pernyataan tersebut setelah Trump menyatakan armada militer besar tengah bergerak menuju Iran dan menyerukan agar Teheran kembali ke meja perundingan.
Para pejabat Iran menanggapi pernyataan Trump dengan peringatan akan kemungkinan perang dan aksi balasan yang cepat dan menyeluruh.
Meski demikian, pejabat Iran kembali menegaskan keterbukaan untuk perundingan dengan syarat yang adil dan tanpa paksaan.
Ghalibaf menyatakan bahwa jika Trump menginginkan Hadiah Nobel Perdamaian, maka ia harus menjauhkan diri dari para penghasut perang dan pihak-pihak yang mendorong penyerahan diri di sekelilingnya.
Iran saat ini juga menghadapi gelombang unjuk rasa domestik yang terjadi sejak 28 Desember di Grand Bazaar Teheran.
Aksi tersebut dipicu oleh anjloknya nilai tukar rial Iran dan memburuknya kondisi ekonomi.
Unjuk rasa kemudian meluas ke sejumlah kota lain di Iran.
Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel mendukung perusuh bersenjata untuk menciptakan dalih bagi intervensi asing.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Tria Dianti







