Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Trump Tolak Perpanjangan New START, Usulkan Perjanjian Nuklir Baru yang Libatkan China

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Trump Tolak Perpanjangan New START, Usulkan Perjanjian Nuklir Baru yang Libatkan China
Foto: (Sumber: Arsip - Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump berjalan menuju tempat pertemuan tingkat tinggi di di Anchorage, Alaska, pada 15 Agustus 2025. /Anadolu/HO-Kremlin Press Office..)

Pantau - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan keinginannya untuk membuat perjanjian nuklir baru yang lebih baik, menggantikan kesepakatan pengendalian nuklir New START antara AS dan Rusia yang telah berakhir pada 4 Februari 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui media sosial pada Kamis, 5 Februari 2026, sehari setelah berakhirnya masa berlaku traktat tersebut.

Traktat New START merupakan satu-satunya perjanjian pengendalian senjata strategis yang masih berlaku antara dua kekuatan nuklir utama dunia, dan penghentiannya memunculkan kekhawatiran akan kembalinya perlombaan senjata global.

Trump Ingin Perjanjian Baru dan Libatkan China

Trump menolak tawaran Rusia untuk memperpanjang perjanjian selama satu tahun, dengan alasan bahwa isi kesepakatan tersebut dinegosiasikan secara buruk dan tidak cukup kuat untuk masa depan.

"Ketimbang memperpanjang ‘NEW START’… kita seharusnya menugaskan para pakar nuklir untuk mengerjakan perjanjian baru yang lebih baik dan dimodernisasi, yang bisa bertahan lama di masa depan," ungkap Trump.

Ia juga menekankan pentingnya melibatkan China dalam perjanjian pengurangan senjata nuklir yang baru, mengingat perubahan dinamika kekuatan global.

Namun, China menolak keterlibatan tersebut dengan alasan bahwa arsenal nuklirnya masih jauh lebih kecil dibandingkan Amerika Serikat dan Rusia, yang bersama-sama menguasai sekitar 90 persen dari total senjata nuklir dunia.

Ketentuan New START dan Upaya Sementara

Traktat New START, yang ditandatangani pada 2010 dan mulai berlaku sejak 5 Februari 2011, membatasi jumlah maksimal hulu ledak nuklir terpasang di angka 1.550 unit per negara.

Selain itu, perjanjian ini juga membatasi jumlah peluncur senjata nuklir hingga 800 unit, serta maksimal 700 wahana pengantar seperti rudal balistik antarbenua dan pesawat pengebom berat.

Perjanjian ini sebelumnya telah diperpanjang oleh Presiden Joe Biden dan Presiden Rusia pada tahun 2021 selama lima tahun, hingga 4 Februari 2026.

Meski perjanjian telah resmi berakhir, portal berita Axios melaporkan bahwa pada 5 Februari 2026, pejabat AS dan Rusia hampir mencapai kesepakatan informal untuk tetap mematuhi batasan-batasan New START setidaknya selama enam bulan ke depan.

Penulis :
Aditya Yohan