Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Survei: 65 Persen Warga Jerman Anggap AS Ancaman Perdamaian Dunia, Naik Drastis sejak 2024

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Survei: 65 Persen Warga Jerman Anggap AS Ancaman Perdamaian Dunia, Naik Drastis sejak 2024
Foto: (Sumber: ilustrasi - Jerman. ANTARA/Anadolu/py..)

Pantau - Sebuah survei yang dirilis pada Selasa, 10 Februari 2026, menunjukkan bahwa dua pertiga warga Jerman memandang Amerika Serikat sebagai ancaman besar terhadap perdamaian dunia, menandai lonjakan tajam dalam tiga tahun terakhir.

Kemenangan Trump Picu Lonjakan Persepsi Negatif

Survei dilakukan oleh Institut Allensbach untuk Center for Strategy and Higher Leadership pada 6–19 Januari 2026 terhadap sekitar 1.100 responden secara representatif.

Hasilnya menunjukkan bahwa 65 persen warga Jerman menilai AS sebagai ancaman, naik signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya:

  • 2024: 24 persen
  • 2025: 46 persen
  • 2026: 65 persen

Peningkatan tajam ini dikaitkan langsung dengan terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden AS sejak Januari 2025.

Keraguan publik terhadap arah kebijakan luar negeri AS serta komitmen keamanan di kawasan Eropa disebut sebagai penyebab utama perubahan persepsi tersebut.

Dukungan AS terhadap NATO Diragukan, Rusia Masih Ancaman Utama

Selain mengukur persepsi terhadap AS, survei juga menunjukkan bahwa kepercayaan warga Jerman terhadap komitmen Amerika di NATO semakin menurun.

Hanya 32 persen responden yakin bahwa AS akan memberikan bantuan militer jika Eropa diserang.

Sebaliknya, 35 persen menyatakan tidak percaya, sementara 33 persen lainnya tidak memiliki pendapat.

Meski persepsi negatif terhadap AS meningkat, Rusia tetap dianggap sebagai ancaman utama oleh 81 persen responden.

Sementara itu, China dinilai sebagai ancaman oleh 46 persen warga Jerman, menempati posisi ketiga dalam daftar persepsi ancaman global.

Survei ini mencerminkan pergeseran signifikan dalam opini publik Jerman, yang selama ini menjalin hubungan erat dengan AS sebagai sekutu tradisional.

Ketegangan geopolitik serta ketidakpastian arah kebijakan luar negeri Washington menjadi faktor dominan dalam perubahan pandangan tersebut.

Penulis :
Aditya Yohan