
Pantau - Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump tengah mengkaji kemungkinan perluasan armada nuklir, termasuk pengaktifan kembali uji coba senjata nuklir bawah tanah, usai berakhirnya perjanjian kontrol senjata dengan Rusia.
Kajian Perluasan dan Uji Coba Nuklir
Laporan The New York Times pada Senin (9/2), yang mengutip sejumlah pejabat senior AS, menyebutkan bahwa pemerintah sedang meninjau beberapa opsi untuk memperkuat postur nuklir negara itu.
Opsi tersebut meliputi penempatan tambahan senjata nuklir, persiapan untuk uji coba nuklir bawah tanah, dan reaktivasi tabung peluncur rudal balistik di kapal selam kelas Ohio milik Angkatan Laut AS.
Langkah ini menjadi perubahan besar dari kebijakan puluhan tahun terakhir yang berfokus pada pembatasan dan pengurangan hulu ledak nuklir siaga.
Pejabat tinggi AS, termasuk Wakil Menteri Luar Negeri Thomas DiNanno, menyatakan bahwa Amerika kini tidak lagi terikat pembatasan oleh perjanjian sebelumnya.
"Perjanjian New START memberlakukan pembatasan sepihak terhadap Amerika Serikat," ungkapnya dalam forum perlucutan senjata di Jenewa.
DiNanno juga menegaskan bahwa AS kini bebas memperkuat kemampuan nuklirnya secara strategis.
Berakhirnya New START dan Reaksi Trump
Perjanjian New START resmi berakhir pada 5 Februari 2026, menghentikan batasan jumlah hulu ledak strategis yang dikerahkan oleh AS dan Rusia, yang sebelumnya dibatasi maksimal 1.550 unit.
Presiden Rusia Vladimir Putin sempat mengusulkan perpanjangan informal perjanjian tersebut, namun usulan tersebut ditolak oleh Trump.
Trump menyatakan bahwa AS seharusnya mengupayakan kesepakatan baru yang lebih baik.
"Kita butuh perjanjian yang lebih baik dan modern, bukan hanya memperpanjang yang lama," ia mengungkapkan pada hari berakhirnya New START.
Langkah konkret yang kini sedang dikaji termasuk memaksimalkan kapasitas senjata nuklir yang sudah ada, serta pengaktifan kembali hulu ledak cadangan yang selama ini disimpan.
Trump juga menyerukan agar AS kembali melakukan uji coba nuklir, yang ia sebut sebanding dengan apa yang diduga dilakukan Rusia dan China.
DiNanno bahkan menyampaikan dugaan bahwa kedua negara tersebut telah melakukan uji coba nuklir skala kecil yang sulit dideteksi.
Para pakar memperkirakan bahwa kebijakan baru ini bisa menjadi tekanan diplomatik untuk memaksa Rusia dan China berunding mengenai kesepakatan kontrol senjata baru.
Namun, para analis juga memperingatkan bahwa kebijakan ini bisa memicu perlombaan senjata baru yang berbahaya bagi stabilitas global.
- Penulis :
- Shila Glorya







