
Pantau - Pada hari kedua Ramadhan, badan-badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB dan para mitranya mendesak dicabutnya pembatasan penyaluran bantuan ke Jalur Gaza di tengah kebutuhan mendesak warga.
Desakan tersebut disampaikan pada Kamis 19 Februari 2026 seiring masyarakat Gaza menjalankan ibadah puasa.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan OCHA menyebut masuknya pasokan bantuan dari Mesir masih sangat rendah akibat tingginya tingkat penolakan oleh otoritas Israel.
Para mitra kemanusiaan juga mendorong dimulainya kembali konvoi antarpemerintah dari Yordania agar pengiriman bantuan dalam volume lebih besar, termasuk pasokan pangan, dapat dilakukan.
OCHA pada Rabu 18 Februari menyatakan para mitra telah menyesuaikan waktu persiapan dan distribusi makanan dengan jam puasa Ramadhan.
Mitra kemanusiaan juga menambahkan lebih banyak produk pangan segar dan protein ke dalam makanan yang dibagikan kepada warga.
Hingga pertengahan Februari, lebih dari 20 mitra memproduksi dan mendistribusikan lebih dari 1,7 juta porsi makanan setiap hari melalui 180 dapur umum.
Hingga Senin 16 Februari, para mitra telah menjangkau sekitar 670.000 orang melalui bantuan pangan umum bulanan untuk Februari.
Ukuran jatah bantuan dikurangi menjadi 50 persen karena persediaan di wilayah tersebut tidak mencukupi untuk mempertahankan porsi lebih besar hingga akhir bulan.
Terkait tempat penampungan darurat, antara 11 hingga 17 Februari, mitra kemanusiaan menyediakan bantuan bagi lebih dari 11.500 rumah tangga.
Bantuan tersebut berupa tenda, terpal, perlengkapan penutup darurat, pakaian, dan barang-barang esensial lainnya yang disalurkan di Kegubernuran Gaza Utara, Deir al Balah, dan Khan Younis.
Badan-badan penampungan melaporkan bahan yang digunakan hanya memberikan perlindungan terbatas dan cepat rusak di tengah kondisi lapangan.
Mereka menyerukan agar solusi hunian yang lebih tahan lama diizinkan masuk ke Gaza guna memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







