
Pantau - Harga bensin di Amerika Serikat melonjak tajam pada awal Maret 2026 dengan rata-rata nasional mencapai 3,25 dolar AS per galon pada Kamis, 5 Maret 2026, atau naik hampir 27 sen dibandingkan pekan sebelumnya menurut laporan terbaru American Automobile Association (AAA).
AAA melaporkan kenaikan tersebut menjadi lonjakan mingguan paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir di pasar bahan bakar Amerika Serikat.
AAA menyatakan "Kali terakhir rata-rata nasional mencatat lonjakan mingguan serupa adalah pada Maret 2022, saat awal konflik Rusia-Ukraina,".
Menurut data AAA, kenaikan terbaru tersebut membuat rata-rata harga bensin nasional kembali berada pada level yang sama seperti pada awal April 2025.
Nilai tukar yang digunakan dalam laporan tersebut mencatat 1 dolar AS setara dengan Rp16.886.
Permintaan Musim Semi dan Produksi Summer-Blend Gasoline
Kenaikan harga bensin pada periode musim semi merupakan pola yang umum terjadi di Amerika Serikat.
Permintaan bahan bakar biasanya meningkat menjelang musim tersebut seiring bertambahnya aktivitas perjalanan masyarakat.
Pada periode yang sama, kilang minyak di Amerika Serikat juga mulai memproduksi bensin campuran musim panas atau summer-blend gasoline.
Produksi jenis bensin ini memiliki biaya yang lebih tinggi dibandingkan campuran musim dingin sehingga turut mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Ketegangan Timur Tengah Dorong Harga Minyak Dunia
Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah dunia turut memperkuat kenaikan harga bensin di Amerika Serikat.
Kontrak berjangka minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April melonjak 8,51 persen dan ditutup di atas 81 dolar AS per barel pada Kamis.
Harga tersebut merupakan level tertinggi sejak Juli 2024.
Lonjakan harga minyak terjadi setelah adanya serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang memicu Iran secara efektif menutup Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur penting yang biasanya memfasilitasi sekitar 25 persen perdagangan minyak global yang diangkut melalui jalur laut.
Penutupan jalur tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global di pasar energi internasional.
Catatan riset dari perusahaan manajemen aset dan perbankan investasi Amerika Serikat, Stifel, menyebutkan bahwa penutupan berkepanjangan Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak mentah mencapai 100 dolar AS per barel.
Harga minyak yang tetap tinggi berpotensi meningkatkan inflasi pada indeks harga konsumen utama.
Lonjakan harga energi tersebut juga dinilai dapat menimbulkan tekanan kredit akibat perlambatan ekonomi yang dipicu oleh kenaikan biaya energi.
- Penulis :
- Arian Mesa








