
Pantau - Mojtaba Khamenei resmi ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran menggantikan ayahnya, almarhum Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan gugur dalam serangan udara yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Penetapan tersebut dilaporkan oleh media pemerintah Iran pada Senin 9 Maret setelah Majelis Ahli mencapai mufakat dalam menentukan penerus kepemimpinan tertinggi negara tersebut.
Mojtaba Khamenei yang berusia 56 tahun menjadi Pemimpin Tertinggi ke-tiga Iran sejak Revolusi Islam 1979.
Ia diperkirakan akan mengikuti sikap politik ayahnya yang dikenal mempertahankan garis keras terhadap Amerika Serikat.
Korps Garda Revolusi Islam juga menyatakan dukungannya terhadap kepemimpinan Mojtaba Khamenei.
Penetapan Mojtaba Khamenei dilakukan melalui mufakat Majelis Ahli.
Majelis Ahli merupakan lembaga yang terdiri dari 88 ulama dan ahli agama yang memiliki kewenangan memilih Pemimpin Tertinggi Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam sistem pemerintahan negara tersebut.
Jabatan tersebut memiliki otoritas atas kekuasaan yudikatif, legislatif, dan administratif.
Pemimpin Tertinggi juga memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan penting negara, termasuk terkait program nuklir Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa siapa pun pemimpin tertinggi Iran yang tidak mendapatkan "persetujuan" Amerika Serikat tidak akan bertahan lama.
Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di kota Mashhad di timur laut Iran.
Kota Mashhad dikenal sebagai salah satu pusat keagamaan utama di Iran.
Ia merupakan putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei yang memimpin Iran sejak 1989 hingga wafat dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.
Mojtaba juga merupakan cucu dari ulama Sayyed Javad Khamenei.
Sejak kecil Mojtaba tumbuh di lingkungan politik yang kuat karena ayahnya merupakan tokoh penting dalam Revolusi Islam Iran.
Ayahnya kemudian juga pernah menjabat sebagai presiden Iran sebelum menjadi Pemimpin Tertinggi.
Mojtaba Khamenei menikah dengan Zahra Haddad-Adel.
Zahra Haddad-Adel merupakan putri dari Gholam-Ali Haddad-Adel yang dikenal sebagai politikus konservatif dan mantan ketua parlemen Iran.
Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur dalam serangan udara ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.
Dalam serangan tersebut, istri Mojtaba Khamenei juga dilaporkan tewas.
Zahra Haddad-Adel termasuk di antara korban yang tewas dalam serangan yang menargetkan kompleks kediaman keluarga Khamenei di Teheran.
Mojtaba selamat dari serangan tersebut.
Namun ia kehilangan beberapa anggota keluarga dalam peristiwa itu, termasuk ibunya, saudara perempuannya, iparnya, serta keponakan-keponakannya.
Mojtaba Khamenei mengambil alih kepemimpinan Iran di tengah situasi politik dan keamanan yang sangat tegang.
Masa transisi kepemimpinan ini berlangsung di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Para pemimpin Israel bahkan mengancam akan menargetkan pemimpin baru Iran.
"Setiap pemimpin yang dipilih oleh rezim Iran untuk melanjutkan rencana penghancuran Israel, mengancam Amerika Serikat, dunia bebas dan negara-negara di kawasan, serta menindas rakyat Iran, akan menjadi target pasti untuk dibunuh, apa pun namanya dan di mana pun ia bersembunyi," kata Kepala Pertahanan Israel Israel Katz.
Ancaman tersebut menunjukkan besarnya tekanan geopolitik yang menyertai proses suksesi kepemimpinan Iran.
Situasi ini menempatkan Mojtaba Khamenei sebagai tokoh yang berada di pusat ketegangan geopolitik kawasan dan internasional.
- Penulis :
- Aditya Yohan







