Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Rumania Izinkan Amerika Serikat Tempatkan Personel Militer di Pangkalan Deveselu untuk Dukung Operasi Timur Tengah

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rumania Izinkan Amerika Serikat Tempatkan Personel Militer di Pangkalan Deveselu untuk Dukung Operasi Timur Tengah
Foto: (Sumber : Puing-puing sekolah, tempat banyak siswa dan guru kehilangan nyawa pada hari pertama gelombang serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, di Hormozgan, Iran pada 5 Maret 2026. ANTARA/Anadolu images/Stringer/pri. (ANTARA/AnadoluAjansi/Stringer/pri))

Pantau - Presiden Rumania Nicusor Dan menyatakan negaranya siap mengizinkan Amerika Serikat menempatkan personel serta peralatan militer di pangkalan militer Deveselu setelah permintaan tersebut disetujui oleh Dewan Tertinggi Pertahanan Nasional pada Rabu, 11 Maret.

Media di Rumania melaporkan bahwa Amerika Serikat meminta izin menggunakan infrastruktur militer milik negara sekutu guna mendukung operasi di kawasan Timur Tengah.

Presiden Nicusor Dan menjelaskan bahwa permintaan tersebut telah ditinjau oleh Dewan Pertahanan Tertinggi sebelum akhirnya disetujui.

Ia mengatakan, "Permintaan AS terkait telah ditinjau dan disetujui oleh Dewan Pertahanan Tertinggi. Ini menyangkut pengisian bahan bakar pesawat, peralatan pengawasan, dan komunikasi satelit".

Peralatan tersebut disebut akan digunakan untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran termasuk di Teheran.

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan serta menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil.

Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Pada awalnya Amerika Serikat dan Israel menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan langkah pencegahan terhadap ancaman dari program nuklir Iran.

Namun kemudian kedua negara tersebut juga menyatakan keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di Iran.

Dalam operasi militer tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas pada hari pertama serangan.

Pemerintah Republik Islam Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.

Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengecam operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Rusia turut menyerukan agar ketegangan segera diredakan serta permusuhan dihentikan secepat mungkin.

Penulis :
Ahmad Yusuf