HOME  ⁄  Geopolitik

Australia Memprotes Rencana Tarif Baru AS dan Menilai Kebijakan Itu Bertentangan dengan Perdagangan Bebas

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Australia Memprotes Rencana Tarif Baru AS dan Menilai Kebijakan Itu Bertentangan dengan Perdagangan Bebas
Foto: Arsip foto - Perdana Menteri Australia Anthony Albanese (sumber: Sakchai Lalit/Pool via REUTERS)

Pantau - Perdana Menteri Australia Anthony Albanese pada Kamis, 4 Juni 2026, memprotes rencana Amerika Serikat (AS) yang akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 10 persen hingga 12,5 persen terhadap barang impor dari sedikitnya 60 negara, termasuk Australia, dengan alasan dugaan praktik kerja paksa dalam proses produksi barang impor.

Albanese menegaskan bahwa penerapan tarif apa pun terhadap ekspor Australia ke AS tidak dapat dibenarkan dan bertentangan dengan semangat hubungan dagang yang telah lama terjalin antara kedua negara.

Ia menilai kebijakan tersebut juga tidak sejalan dengan Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) yang mengikat Australia dan AS sebagai negara sekutu.

"Tarif tidak memberikan manfaat positif bagi negara yang menerapkannya," ungkap Albanese.

Menurut Albanese, terdapat perbedaan pandangan ideologis antara Australia dan AS terkait kebijakan tarif dalam perdagangan internasional.

Ia menyatakan pemerintah AS telah meninggalkan kesepahaman yang berlangsung selama puluhan tahun bahwa perdagangan bebas lebih menguntungkan dibandingkan penerapan tarif.

"Perdagangan bebas lebih menguntungkan bagi perekonomian global dibandingkan kebijakan tarif," katanya.

Australia Soroti Dampak Tarif terhadap Konsumen

Albanese berpendapat bahwa tarif akan meningkatkan biaya barang dan jasa bagi konsumen di negara yang menerapkannya.

Ia juga menyayangkan perubahan kebijakan perdagangan AS yang terus terjadi dari waktu ke waktu.

Menurutnya, berbagai keputusan yang diambil Washington memiliki pola yang sama, yakni semakin mendukung kebijakan tarif dalam perdagangan internasional.

Albanese mengungkapkan bahwa pengumuman kebijakan tarif tersebut disampaikan tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada Australia.

"Kepastian merupakan salah satu hal penting yang harus dijaga dalam hubungan internasional," ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa Australia dan AS merupakan sekutu penting yang selama ini memiliki hubungan erat.

Protes Disampaikan Langsung kepada Pemerintah AS

Menteri Perdagangan Australia Don Farrell turut menyampaikan keberatan terhadap rencana tarif tersebut.

Farrell menilai kebijakan yang direncanakan AS tidak adil bagi Australia.

Protes pemerintah Australia disampaikan langsung kepada pihak Amerika dalam pertemuan antara Don Farrell dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer.

Pertemuan tersebut berlangsung di sela-sela agenda Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) di Paris pada Rabu malam, 3 Juni 2026.

Sebelumnya, AS pernah mengajukan rencana tarif 10 persen terhadap barang impor Australia.

Namun, rencana tarif tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS pada Februari 2026.

Pemerintah Australia berharap AS mempertimbangkan kembali rencana tarif terbaru tersebut karena dinilai dapat merugikan hubungan dagang kedua negara dan bertentangan dengan prinsip perdagangan bebas yang selama ini dijunjung bersama.

Penulis :
Arian Mesa