
Pantau - Menteri Luar Negeri China Wang Yi melakukan serangkaian panggilan telepon dengan empat menteri luar negeri negara Islam Kuwait, Bahrain, Pakistan, dan Qatar untuk membahas perkembangan kondisi Timur Tengah pasca-serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Wang Yi menegaskan bahwa serangan tanpa otorisasi PBB tersebut merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan, keamanan, serta integritas teritorial negara-negara Teluk.
Dalam pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Kuwait Sheikh Jarrah Jaber Al-Ahmad Al-Sabah pada 9 Maret 2026, Wang Yi menyampaikan, "China akan terus berupaya untuk perdamaian, dan utusan khusus China untuk masalah Timur Tengah telah berangkat ke wilayah tersebut untuk melakukan mediasi dan akan memperkuat komunikasi dan pertukaran dengan Kuwait dan negara-negara lain."
Sheikh Jarrah menegaskan Kuwait tidak terlibat perang tetapi terdampak, dan menyatakan, "Kuwait sangat menghargai posisi dan upaya yang telah dilakukan China, dan siap untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan China untuk bersama-sama mendorong pemulihan keamanan dan stabilitas di kawasan."
Dalam pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Al Zayani, Wang Yi menekankan kekhawatiran China atas meningkatnya ketegangan di Teluk dan menyatakan, "Jalan keluar dari kebuntuan terletak pada kembalinya dialog dan negosiasi secepatnya untuk berupaya memulihkan perdamaian."
Menteri Al Zayani menegaskan, Bahrain berkomitmen pada perdamaian dan siap bekerja sama dengan negara Teluk lainnya serta China di platform bilateral dan multilateral termasuk PBB.
Pada 10 Maret 2026, Wang Yi berbicara dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar dan menegaskan China menolak serangan terhadap negara-negara Teluk serta mengutuk serangan terhadap warga sipil dan fasilitas sipil.
Wang Yi mengatakan, "China menghargai upaya mediasi Pakistan untuk meredakan ketegangan regional dan siap untuk mempertahankan koordinasi dan kerja sama multilateral dan bilateral dengan Pakistan."
Menlu Ishaq Dar menekankan semua pihak harus menahan diri dan menyelesaikan krisis melalui negosiasi damai. Kedua menlu juga membahas konflik perbatasan Pakistan-Afganistan. Wang Yi menambahkan, "Prioritas utama adalah mencegah eskalasi konflik dan kembali ke meja perundingan sesegera mungkin."
Dalam pembicaraan dengan Perdana Menteri sekaligus Menlu Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, Wang Yi menyatakan, "Kelanjutan perang hanya akan membawa kerugian, dan hanya akan menyebabkan kerugian yang lebih besar bagi semua pihak yang terlibat."
Sheikh Al Thani menekankan Qatar harus mengambil langkah pertahanan diri yang diperlukan sambil meningkatkan upaya diplomatik untuk menahan penyebaran dan eskalasi krisis.
Serangan militer AS dan Israel pada 28 Februari 2026 menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan mengebom sebuah sekolah perempuan di Iran selatan. Iran memperkirakan jumlah korban tewas hingga saat ini lebih dari 1.300 orang.
- Penulis :
- Aditya Yohan








