Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Presiden Emmanuel Macron Tegaskan Prancis Tidak Akan Terlibat Operasi Militer di Selat Hormuz

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Presiden Emmanuel Macron Tegaskan Prancis Tidak Akan Terlibat Operasi Militer di Selat Hormuz
Foto: (Sumber : Arsip - Presiden Prancis Emmanuel Macron. (ANTARA/Xinhua/Lian Yi/aa.).)

Pantau - Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan negaranya tidak akan terlibat dalam operasi militer untuk membuka kembali Selat Hormuz di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, Rabu, 18 Maret 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan Macron dalam rapat Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Prancis yang membahas situasi di Iran dan kawasan Timur Tengah setelah meningkatnya ketegangan akibat serangan militer.

Macron Bantah Kesiapan Prancis Ikut Operasi

Emmanuel Macron mengatakan, "Kami bukan pihak yang terlibat konflik tersebut. Oleh karena itu, Prancis tak akan pernah terlibat dalam operasi untuk membuka atau membebaskan Selat Hormuz dalam kondisi saat ini."

Ia menegaskan posisi tersebut setelah sebelumnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Prancis siap membantu menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Trump juga meminta sejumlah negara termasuk China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirim kapal perang guna mengamankan jalur pelayaran di kawasan tersebut.

Konflik Iran Picu Gangguan Jalur Energi Dunia

Ketegangan meningkat setelah pada 28 Februari Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah sehingga konflik meluas.

Eskalasi tersebut menyebabkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz terganggu, padahal jalur tersebut merupakan rute utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.

Gangguan pelayaran juga berdampak pada produksi dan ekspor minyak di kawasan, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Penulis :
Ahmad Yusuf