Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Ancaman Resesi Global Meningkat, Indonesia Dinilai Perlu Perkuat Ketahanan Ekonomi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Ancaman Resesi Global Meningkat, Indonesia Dinilai Perlu Perkuat Ketahanan Ekonomi
Foto: (Sumber : Foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 ini menunjukkan kapal tanker minyak Inggris "Stena Impero" di dekat Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Xinhua/HO-ISNA/Morteza Akhoundi/aa..)

Pantau - Probabilitas resesi di Amerika Serikat yang mendekati 50 persen menjadi sinyal meningkatnya risiko perlambatan ekonomi global yang berpotensi berdampak pada Indonesia.

Kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi tekanan geopolitik, gangguan energi, serta kebijakan moneter ketat yang masih berlangsung di berbagai negara.

Laporan Moody’s Analytics disebut lebih pesimistis dibanding konsensus pasar, sementara analisis Oxford Economics menyebut resesi global dapat terjadi jika harga minyak menembus 140 dolar AS per barel dan bertahan selama dua bulan.

Jalur Energi dan Geopolitik Jadi Faktor Kunci

Kawasan Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz, menjadi titik krusial karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut.

Gangguan distribusi akibat konflik berpotensi memicu lonjakan harga energi yang berdampak pada inflasi global dan daya beli masyarakat.

Situasi ini diperparah oleh tingginya inflasi global dan kebijakan suku bunga tinggi yang membuat pemulihan ekonomi berpotensi lebih lambat dibanding krisis sebelumnya.

Indonesia Hadapi Tantangan dan Peluang

Sebagai negara dengan ekonomi terbuka, Indonesia terhubung dengan dinamika global melalui sektor perdagangan, keuangan, dan ekspektasi pasar.

Ketergantungan pada ekspor komoditas seperti batu bara, CPO, dan nikel membuat Indonesia rentan terhadap penurunan permintaan global.

Di sisi lain, arus keluar modal atau capital outflow berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya pinjaman.

Namun, Indonesia dinilai memiliki keunggulan struktural melalui dominasi konsumsi domestik yang mencapai lebih dari 50 persen produk domestik bruto serta rasio utang yang relatif rendah.

Strategi Antisipasi Jadi Kunci

Pemerintah dan Bank Indonesia dinilai perlu memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan arus modal.

Langkah lain yang dinilai penting mencakup reformasi subsidi energi, diversifikasi ekspor, serta percepatan hilirisasi industri.

Selain itu, perlindungan daya beli masyarakat dan investasi pada sektor produktif seperti pendidikan dan teknologi menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi.

Pada akhirnya, peningkatan risiko resesi global dipandang sebagai peringatan dini yang menuntut respons kebijakan yang cepat, terukur, dan terstruktur.

Penulis :
Aditya Yohan