
Pantau - Pemerintah China mengecam serangan udara Israel ke Lebanon dan menegaskan bahwa kedaulatan negara tersebut tidak boleh dilanggar serta warga sipil harus dilindungi di tengah eskalasi konflik kawasan.
Seruan Tegas China terhadap Konflik
Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing pada Kamis (9/4) menyusul serangan besar Israel di wilayah selatan Beirut pada Rabu (8/4).
"Kedaulatan dan keamanan Lebanon tidak boleh dilanggar. Warga sipil dan harta benda mereka harus dilindungi," tegas Mao Ning.
Ia juga menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
"Kami menyerukan kepada pihak-pihak terkait untuk tetap tenang dan menahan diri serta meredakan situasi di kawasan tersebut," tambahnya.
Dampak Serangan dan Ketegangan Regional
Serangan Israel dilaporkan menargetkan lebih dari 100 lokasi dalam waktu 10 menit di Beirut, Lembah Beqaa, dan wilayah selatan Lebanon, yang disebut sebagai gelombang terbesar sejak konflik dengan Hizbullah pecah pada 2 Maret 2026.
Akibat serangan tersebut, sedikitnya 254 orang dilaporkan tewas, termasuk 92 korban di Beirut, serta 1.165 orang lainnya mengalami luka-luka.
Data terbaru Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat total korban sejak awal konflik mencapai 1.739 tewas dan 5.873 luka-luka.
Selain itu, sekitar 138.000 warga mengungsi di 678 lokasi penampungan kolektif, sementara lebih dari 800.000 lainnya tersebar di berbagai komunitas dengan akses layanan dasar terbatas.
China juga mendorong pemanfaatan gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat sebagai momentum penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa serangan lanjutan Israel dapat menggagalkan upaya negosiasi dengan Amerika Serikat dengan mengatakan, "Berlanjutnya serangan akan membuat negosiasi sia-sia; jari kami tetap berada di pelatuk, dan Iran tidak akan meninggalkan saudaranya di Lebanon."
Sebagai informasi tambahan, ketegangan ini turut berdampak pada sektor energi global setelah Iran dilaporkan menangguhkan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz pascaserangan tersebut.
- Penulis :
- Aditya Yohan








