
Pantau - Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperingatkan gangguan pelayaran di Selat Hormuz dapat memicu krisis pangan global akibat terganggunya pasokan pupuk dan energi serta kenaikan harga pangan dunia.
Peringatan tersebut disampaikan FAO dalam pernyataan resmi pada Senin, menyusul meningkatnya risiko hambatan distribusi komoditas penting yang melewati jalur strategis tersebut.
Kepala Ekonom FAO Maximo Torero menegaskan bahwa waktu menjadi faktor krusial untuk mencegah dampak lebih luas terutama bagi negara miskin yang sangat bergantung pada pasokan pupuk dan energi.
Dampak Langsung ke Produksi dan Harga Pangan
Torero menyatakan gangguan berkepanjangan dapat menurunkan hasil panen dan memicu lonjakan harga pangan pada tahun mendatang.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat mendorong pemerintah mengambil langkah intervensi untuk menekan harga di dalam negeri.
FAO mencatat sekitar 20 hingga 45 persen pasokan bahan penting untuk pertanian global melewati Selat Hormuz sehingga gangguan kecil sekalipun dapat berdampak besar.
Sementara itu, harga pangan global pada Maret masih relatif stabil karena pasokan gandum dan serealia mencukupi, namun tekanan diperkirakan meningkat pada April dan Mei.
Seruan FAO untuk Antisipasi Global
Kepala Divisi Ekonomi FAO David Laborde mengingatkan situasi saat ini sudah berada dalam tekanan pasokan yang serius dan berpotensi memburuk.
Ia mengungkapkan, "dunia saat ini sudah menghadapi masalah pasokan bahan penting dan mengingatkan agar tidak berubah menjadi bencana."
FAO meminta negara-negara untuk tidak membatasi ekspor energi dan pupuk serta berhati-hati dalam penggunaan bahan bakar nabati yang dapat mengurangi pasokan pangan.
Selain itu, FAO juga mendorong pemanfaatan bantuan keuangan internasional termasuk dari Dana Moneter Internasional untuk membantu negara yang membutuhkan pupuk secara cepat.
Badan tersebut turut memperingatkan bahwa risiko krisis dapat semakin besar jika fenomena El Nino menguat dan memperburuk kondisi produksi pangan global.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








