
Pantau - Pemerintah China membantah keras tuduhan menyuplai senjata ke Iran di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, serta menilai ancaman tarif tambahan 50 persen dari Presiden AS Donald Trump tidak berdasar.
Bantahan itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing pada Selasa (14/4).
"China selalu bertindak bijaksana dan bertanggung jawab dalam ekspor produk militer, dan menerapkan kontrol ketat sesuai dengan hukum dan peraturan China tentang pengendalian ekspor dan kewajiban internasional yang berlaku. Laporan media terkait sepenuhnya dibuat-buat," ungkapnya.
Ancaman Tarif dan Respons China
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan sebesar 50 persen terhadap produk China jika terbukti memasok senjata ke Iran.
Guo menegaskan bahwa China tidak akan tinggal diam jika kebijakan tersebut tetap diberlakukan oleh Washington.
"Jika AS melanjutkan kenaikan tarif terhadap China berdasarkan tuduhan ini, China akan merespons dengan tindakan balasan," ujarnya.
Ketegangan Timur Tengah dan Dampak Global
Di tengah polemik tersebut, konflik antara Iran, AS, dan Israel terus memanas sejak akhir Februari 2026 dan berdampak pada stabilitas global.
China juga mengkritik langkah AS yang melakukan blokade di Selat Hormuz karena dinilai memperburuk situasi dan membahayakan jalur distribusi energi dunia.
"Dengan perjanjian gencatan senjata sementara yang masih berlaku, AS meningkatkan pengerahan militer dan melakukan blokade yang ditargetkan sehingga hanya akan memperburuk konfrontasi," kata Guo.
Ia menegaskan bahwa solusi utama untuk meredakan konflik adalah melalui gencatan senjata penuh dan jalur diplomasi.
"Kami mendesak pihak-pihak terkait untuk menghormati perjanjian gencatan senjata, berpegang pada arah pembicaraan damai, dan mengambil tindakan konkret untuk meredakan situasi," tambahnya.
Konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 1.400 orang dan menyebabkan kerugian besar, termasuk lonjakan harga minyak dunia akibat terganggunya jalur distribusi di Selat Hormuz yang menyumbang sekitar 20 persen pasokan energi global.
- Penulis :
- Aditya Yohan








