HOME  ⁄  Geopolitik

Inggris dan Prancis Siap Pimpin Misi Internasional untuk Amankan Selat Hormuz

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Inggris dan Prancis Siap Pimpin Misi Internasional untuk Amankan Selat Hormuz
Foto: (Sumber : Arsip foto -Tentara Iran berpatroli di Selat Hormuz, Iran selatan, Selasa (30/4/2019). (ANTARA/Xinhua/Ahmad Halabisaz/aa.).)

Pantau - Inggris dan Prancis akan memimpin misi militer internasional untuk menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz segera setelah kondisi memungkinkan.

Misi Internasional Disiapkan Usai KTT Keamanan Maritim

Pernyataan itu disampaikan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer seusai mengikuti KTT internasional mengenai keamanan maritim di Selat Hormuz yang digelar Prancis dan dihadiri perwakilan 49 negara pada Jumat (17/4).

"Saya dapat memastikan bahwa, bersama dengan Prancis, Inggris akan memimpin misi multinasional untuk melindungi kebebasan navigasi segera setelah kondisi memungkinkan,” ungkap Starmer.

Ia menegaskan misi tersebut bersifat damai dan ditujukan untuk menjamin keamanan pelayaran komersial serta mendukung pembersihan ranjau.

Lebih dari belasan negara disebut telah menyatakan kesiapan mengirim peralatan militer ke Selat Hormuz setelah tercapai gencatan senjata berkelanjutan antara Iran dan Amerika Serikat.

Starmer juga mengundang negara-negara lain untuk bergabung dalam misi tersebut.

Ia menyebut pertemuan perwakilan kementerian pertahanan dari negara peserta akan digelar pada pekan depan di London.

"Selat itu harus segera dibuka kembali, tanpa pungutan dan tanpa pembatasan,” ujarnya.

Ketegangan Kawasan Picu Fokus Dunia pada Selat Hormuz

Pada 13 April, Angkatan Laut Amerika Serikat mulai memblokade seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz.

Washington tetap membebaskan kapal-kapal non-Iran untuk melintasi Selat Hormuz selama tidak membayar pungutan kepada Teheran.

Meski otoritas Iran belum mengumumkan pungutan resmi, rencana tersebut disebut telah dibahas.

Ketegangan di kawasan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Sejumlah negara di kawasan juga sempat menutup sebagian atau seluruh wilayah udaranya akibat risiko serangan rudal dan pesawat nirawak.

Penulis :
Aditya Yohan