HOME  ⁄  Geopolitik

Empat Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Desak Evaluasi Perlindungan Pasukan Perdamaian PBB

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Empat Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Desak Evaluasi Perlindungan Pasukan Perdamaian PBB
Foto: (Sumber: Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta. Foto: Arief/Mahendra.)

Pantau - Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta menyampaikan belasungkawa atas gugurnya empat prajurit TNI dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon akibat serangkaian insiden serangan pada April 2026.

Kronologi Gugurnya Prajurit dan Eskalasi Konflik

Praka Rico Pramudia gugur setelah menjalani perawatan akibat luka berat dari insiden ledakan peluru kendali di markas United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan.

Dalam insiden tersebut, Praka Farizal Rhomadhon juga gugur dan dua prajurit lainnya mengalami luka-luka.

Keesokan harinya, dua prajurit TNI lainnya yakni Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan gugur akibat ledakan pada konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan.

Serangan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara militer Israel dan kelompok Hizbullah di wilayah tersebut.

Sukamta menyampaikan bahwa "Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya prajurit terbaik TNI yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon," ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa "Pengorbanan ini adalah bentuk nyata komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia, sebagaimana amanat konstitusi," jelasnya.

Dorongan Evaluasi dan Perlindungan Pasukan Perdamaian

Sukamta menilai insiden ini sebagai perhatian serius karena markas UNIFIL turut menjadi sasaran serangan.

Ia menyampaikan bahwa "Peristiwa ini harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak. Serangan yang terjadi di wilayah operasi UNIFIL menunjukkan bahwa situasi di lapangan telah mengalami eskalasi signifikan, sehingga menempatkan pasukan penjaga perdamaian dalam risiko yang semakin tinggi," katanya.

Ia menegaskan bahwa perlindungan terhadap personel PBB harus menjadi prioritas utama.

Ia menyampaikan bahwa "Kami memandang bahwa perlindungan terhadap personel PBB harus menjadi prioritas utama dan tidak boleh diabaikan oleh pihak mana pun, termasuk dalam dinamika konflik yang melibatkan Israel dan aktor lainnya di kawasan," tegasnya.

Komisi I DPR RI mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mandat dan mekanisme perlindungan pasukan UNIFIL.

Ia menyampaikan bahwa "Kami mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mandat dan mekanisme perlindungan pasukan UNIFIL, agar sesuai dengan realitas ancaman yang berkembang di lapangan," ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya investigasi yang transparan dan akuntabel atas insiden tersebut.

Ia menyampaikan bahwa "Selain itu, diperlukan langkah investigasi yang transparan dan akuntabel atas insiden ini, guna memastikan adanya kejelasan dan pertanggungjawaban," katanya.

Sukamta mendorong pemerintah Indonesia melakukan peninjauan komprehensif terhadap aspek keamanan dan pola penugasan prajurit.

Ia menyampaikan bahwa "Pemerintah Indonesia perlu melakukan peninjauan komprehensif terhadap aspek keamanan, kesiapan, dan pola penugasan prajurit dalam misi perdamaian, tanpa mengurangi komitmen Indonesia sebagai kontributor aktif dalam menjaga stabilitas global," jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa pengorbanan prajurit tidak boleh sia-sia dan harus menjadi pengingat pentingnya sistem perlindungan yang kuat.

Ia menyampaikan bahwa "Setiap prajurit yang gugur harus menjadi pengingat bahwa upaya menjaga perdamaian memerlukan sistem yang kuat, perlindungan yang memadai, dan komitmen bersama dari seluruh komunitas internasional," tutupnya.

Penulis :
Gerry Eka