HOME  ⁄  Geopolitik

Bantuan Menyusut, Warga Gaza Kembali Dihantui Ancaman Kelaparan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Bantuan Menyusut, Warga Gaza Kembali Dihantui Ancaman Kelaparan
Foto: (Sumber : Warga Palestina antri untuk mendapatkan makanan gratis dari dapur umum di Kota Gaza, pada 18 Mei 2026. ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad.)

Pantau - Krisis kemanusiaan kembali menghantui Jalur Gaza setelah minimnya bantuan pangan membuat ribuan warga kesulitan mendapatkan makanan sehari-hari di tengah konflik berkepanjangan Israel-Hamas.

Warga Gaza berbondong-bondong mengantre di dapur umum demi mendapatkan jatah makanan yang jumlahnya semakin terbatas.

Seorang pengungsi asal kamp Shati, Khairi Harara, mengaku harus menunggu berjam-jam di bawah terik matahari untuk mendapatkan semangkuk sup lentil bagi keluarganya.

"Saya tidak tahu jatah makanan ini akan diberikan untuk siapa," katanya.

"Jumlahnya sangat sedikit," ungkap Harara lagi.

Pria berusia 75 tahun itu mengatakan banyak warga yang datang terlambat terpaksa pulang tanpa membawa makanan.

"Kalau datang terlambat, Anda pulang tanpa membawa apa pun," ujarnya.

Bantuan Pangan Terus Menurun

Dapur umum yang dikelola World Central Kitchen (WCK) menjadi salah satu organisasi kemanusiaan terbesar yang masih beroperasi di Gaza.

Namun organisasi tersebut mengumumkan pengurangan distribusi makanan sejak 14 Mei akibat tekanan finansial yang terus meningkat.

Sejak konflik pecah pada 2023, WCK disebut telah menghabiskan lebih dari setengah miliar dolar AS untuk bantuan pangan di Gaza.

Pada puncak operasionalnya, organisasi itu mampu mendistribusikan sekitar satu juta makanan hangat per hari.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB atau UNOCHA menyebut jumlah makanan harian dari dapur umum kini turun drastis dari sekitar 1,8 juta porsi pada Februari menjadi sekitar 1 juta porsi.

Akibat kondisi tersebut, satu dari lima keluarga di Gaza kini hanya makan sekali sehari.

Warga Gaza Bertahan dengan Makanan Seadanya

Warga Gaza tengah, Samah Hamad, mengaku kini hanya bergantung pada bantuan makanan untuk bertahan hidup bersama kedua anaknya setelah suaminya tewas dalam konflik.

"Dapur umum menyediakan satu kali makan sehari, dan kadang itu bahkan tidak cukup untuk seorang anak," katanya.

Menurut Hamad, makanan yang diterima hampir selalu berupa kacang-kacangan dan lentil.

"Saat ada nasi dan daging, itu terasa seperti momen langka bagi anak-anak," ujarnya.

Kepala kantor media pemerintah Gaza yang dikelola Hamas, Ismail Thawabta, mengatakan hanya sekitar 48.600 truk bantuan yang berhasil masuk sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober tahun lalu.

Jumlah tersebut jauh di bawah target 131.400 truk bantuan yang diharapkan masuk ke Gaza.

Thawabta menilai pembatasan bantuan pangan dilakukan secara sengaja dan memperburuk kondisi malanutrisi warga Gaza.

Ia juga menyebut gangguan pasokan listrik dan bahan bakar membuat penyimpanan makanan beku semakin sulit dilakukan.

Penulis :
Aditya Yohan