
Pantau - Sejumlah pemimpin Eropa mendesak Presiden Ukraina Vladimir Zelensky menyelidiki dugaan korupsi di negaranya, khususnya yang menyeret mantan Kepala Kantor Kepresidenan Ukraina Andriy Yermak, demi menjaga peluang Ukraina bergabung dengan Uni Eropa.
Laporan surat kabar Jerman Die Zeit menyebut Kanselir Jerman Friedrich Merz telah berdiskusi langsung dengan Zelensky terkait skandal tersebut setelah Yermak mengundurkan diri pada 2025.
Menurut laporan itu, Merz menilai Ukraina berada di persimpangan penting akibat kasus korupsi yang mencuat.
Selain Merz, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga disebut melakukan pembicaraan serupa dengan Zelensky.
Namun hingga kini, pemerintah Ukraina dilaporkan belum memenuhi tuntutan para pemimpin Eropa tersebut.
Kasus Yermak Jadi Sorotan
Kantor Kejaksaan Khusus Anti-Korupsi Ukraina atau SAPO pada 11 Mei 2026 mengumumkan dakwaan terhadap Andriy Yermak.
Sehari setelah pengumuman itu, Pengadilan Tinggi Anti-Korupsi Ukraina mulai menggelar proses pra-peradilan terbatas.
Kepala SAPO Oleksandr Klymenko mengatakan pihak jaksa akan meminta penahanan terhadap Yermak dengan opsi jaminan sebesar 3,1 juta dolar AS atau sekitar Rp54,8 miliar.
Anggota parlemen Ukraina Yaroslav Zheleznyak pada Jumat (15/5/2026) menyebut dana jaminan untuk Yermak telah terkumpul sepenuhnya di bawah tekanan Zelensky.
Meski demikian, dana tersebut disebut belum ditransfer ke rekening pengadilan anti-korupsi Ukraina.
Keanggotaan Uni Eropa Dipertaruhkan
Kasus dugaan korupsi tersebut menjadi perhatian serius Uni Eropa yang selama ini mendorong reformasi tata kelola pemerintahan di Ukraina.
Para pemimpin Eropa menilai penanganan korupsi menjadi syarat penting bagi Ukraina untuk melanjutkan proses integrasi dan keanggotaan di Uni Eropa.
Sebelumnya, negara-negara G7 juga telah meminta Ukraina mempercepat reformasi anti-korupsi di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Rusia.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





