HOME  ⁄  Geopolitik

AS Tunda Penjualan Senjata Rp248 Triliun ke Taiwan di Tengah Perang Iran

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

AS Tunda Penjualan Senjata Rp248 Triliun ke Taiwan di Tengah Perang Iran
Foto: Arsip foto - Seorang pengunjuk rasa memegang bendera nasional Taiwan saat bendera AS berkibar di latar belakang selama demonstrasi untuk merayakan Hari Nasional Taiwan di Tsim Sha Tsui, Hong Kong, China 10/10/2019 (sumber: REUTERS/Athit Perawongmetha)

Pantau - Amerika Serikat menunda penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS atau sekitar Rp248 triliun kepada Taiwan di tengah masih berlangsungnya perang melawan Iran dan menipisnya stok amunisi militer AS.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan dirinya belum menyetujui penjualan senjata tersebut dan masih akan melihat perkembangan situasi sebelum mengambil keputusan lanjutan.

Trump juga mengindikasikan penundaan penjualan senjata itu dijadikan bagian dari alat negosiasi dengan China setelah dirinya melakukan lawatan dan pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping.

“Saya belum menyetujui penjualan itu,” ungkap Trump terkait rencana transfer persenjataan ke Taiwan.

Trump mengaku telah membahas isu penjualan senjata Taiwan secara rinci dengan Xi Jinping dalam pertemuan bilateral terbaru kedua negara.

Penundaan Dikaitkan dengan Operasi Militer Epic Fury

Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao mengatakan keputusan akhir terkait penundaan penjualan senjata akan ditentukan oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Cao menegaskan militer Amerika Serikat masih memiliki cukup rudal dan sistem pencegat meski perang dengan Iran telah menguras stok amunisi dalam jumlah besar.

“Penjualan senjata untuk militer asing akan kembali dilanjutkan jika pemerintah AS menilai situasi sudah memungkinkan,” ujar Cao.

Menurut Cao, penundaan dilakukan untuk memastikan persediaan amunisi AS tetap mencukupi kebutuhan operasi militer Epic Fury yang menjadi nama operasi serangan Amerika Serikat terhadap Iran.

Sejumlah laporan menyebut militer AS telah menggunakan ribuan rudal sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari 2026.

Penggunaan besar-besaran amunisi itu disebut menghabiskan hampir separuh stok rudal jelajah siluman jarak jauh milik Pentagon.

Cadangan rudal Tomahawk, rudal Patriot, rudal Precision Strike, dan rudal ATACMS juga dilaporkan mengalami penurunan signifikan.

AS Siapkan Dana Tambahan untuk Isi Stok Persenjataan

Gedung Putih disebut sedang menyiapkan permintaan dana tambahan kepada Kongres sebesar 80 hingga 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp1,7 kuadriliun.

Dana tambahan tersebut akan digunakan untuk mengisi kembali stok persenjataan canggih yang telah banyak digunakan selama perang melawan Iran.

Tekanan terhadap stok amunisi Amerika Serikat mulai sedikit berkurang setelah diberlakukannya gencatan senjata sejak April 2026.

Gencatan senjata itu membuat penggunaan amunisi militer Amerika Serikat menurun secara signifikan.

Amerika Serikat selama puluhan tahun diketahui mematuhi prinsip Six Assurances dalam hubungan dengan Taiwan sejak 1982 pada era Presiden Ronald Reagan.

Poin kedua Six Assurances menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak berkonsultasi dengan China terkait penjualan senjata ke Taiwan.

Penulis :
Arian Mesa