
Pantau - Pemerintah China menegaskan tetap menolak penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan meski Washington menghentikan sementara transaksi tersebut akibat perang dengan Iran yang masih berlangsung.
China Kritik Kebijakan Senjata AS untuk Taiwan
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyampaikan sikap tersebut dalam konferensi pers di Beijing pada Jumat (22/5).
“Penentangan China terhadap penjualan senjata AS ke wilayah Taiwan konsisten, jelas, dan tegas,” kata Guo Jiakun.
Pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat menunda penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS atau sekitar Rp248 triliun kepada Taiwan.
Presiden AS Donald Trump menyebut keputusan tersebut masih menjadi bahan pertimbangan dan dapat digunakan sebagai alat negosiasi dengan China.
“Saya belum menyetujuinya. Kita lihat nanti apa yang terjadi. Saya mungkin akan melakukannya. Saya mungkin juga tidak akan melakukannya,” ujar Trump kepada Fox News.
Trump juga mengaku telah membahas isu Taiwan secara rinci dengan Presiden China Xi Jinping dalam lawatannya ke China pada 13-15 Mei lalu.
Guo Jiakun meminta Amerika Serikat berhati-hati dalam menangani isu Taiwan dan menghentikan dukungan terhadap kelompok separatis.
“China mendesak AS untuk menerapkan pemahaman bersama yang penting antara kedua pemimpin China dan AS, menghormati komitmen dan pernyataannya, berhati-hati dalam menangani masalah Taiwan, berhenti mengirimkan pesan yang salah kepada kekuatan separatis 'kemerdekaan Taiwan', dan menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan,” ungkap Guo Jiakun.
AS Tunda Penjualan Senjata karena Perang Iran
Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao mengatakan penghentian sementara penjualan senjata dilakukan untuk memastikan ketersediaan amunisi militer Amerika di tengah perang Iran.
“Saat ini, kami sedang menghentikan sementara untuk memastikan kami memiliki amunisi cukup untuk operasi Epic Fury; yang sebenarnya kami punya banyak, tetapi kami hanya memastikan kami memiliki semuanya,” kata Hung Cao dalam Sidang Komite Senat AS.
Meski demikian, Cao menegaskan militer Amerika masih memiliki stok rudal dan sistem pertahanan yang memadai.
Sejumlah laporan menyebut perang Iran yang dimulai sejak 28 Februari telah menguras persediaan rudal jelajah siluman, rudal Tomahawk, Patriot, ATACMS, dan Precision Strike milik Pentagon.
Gedung Putih juga dikabarkan tengah menyiapkan permintaan tambahan anggaran perang Iran kepada Kongres AS sebesar 80 hingga 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp1,7 kuadriliun.
- Penulis :
- Aditya Yohan





